Hey kamu, yang sampai sekarang masih menjadi misteri, yang masih disimpan rapi oleh-Nya dimanapun kamu berada saat ini

Ya… Kamu… Kamu yang sampai sekarang pun aku tak tahu siapa namamu dan dimana kamu berada sekarang namun selalu terselip dalam untaian kataku untuk-Nya

Kamu yang selalu ku semogakan walau aku tak tahu siapa dirimu, tapi aku berharap Dia mempertemukan kita di saat kita tengah sama-sama siap menggenapkan. Kenapa? Karena aku tak mau menambah goresan di hati karena ada salah satu dari kita yang merasa belum siap menggenapi satu sama lain, cukuplah rasa pedih itu aku rasakan hanya sekali

Untukmu yang akan menemani sisa hidupku semenjak kamu ucapkan ikrar suci nantinya… Mungkin saat kita bertemu nanti, kamu menemukan aku dalam keadaan hati yang tertutup rapat, tak bergeming ketika kamu mengetuk pintunya dan mencoba masuk. Percayalah, itu semua ada alasannya, aku tak mau lagi terluka, luka dalam karena terlalu membuka hatiku, luka dalam karena terlalu dalam mencinta, luka dalam karena terlalu berharap…. Tapi aku percaya, jika kamu memang yang terbaik yang Dia pilihkan untukku, entah bagaimana caranya kamu pasti sanggup mendobrak masuk tanpa merusak sedikit pun, tanpa meninggalkan lebam yang sakit

Untukmu yang mungkin tak aku kenal saat ini atau mungkin malah sangat aku kenal saat ini, aku tak perlu kamu yang sempurna, aku hanya perlu kamu yang dengan tulus mencinta. Aku tak perlu kamu yang menerimaku apa adanya, aku hanya perlu kamu yang selalu mendukung perbaikan diriku menjadi lebih baik. Aku tak perlu kamu yang selalu ada, aku hanya perlu kamu yang selalu mengingat meski terpisah jarak ribuan kilometer. Aku tak perlu kamu yang berlimpah materi, aku hanya perlu kamu yang ikhlas menafkahi.

Advertisement

Untukmu yang mungkin tak mengenalku sekarang atau mungkin malah sangat mengenalku sekarang, ketahuilah, aku adalah manusia yang mempunyai kekurangan, bukan malaikat tanpa cela, aku takkan memintamu menerima semua kekuranganku karena aku tahu dengan pilihan terbaik-Nya aku akan selalu tergenapi, selalu dapat memperbaiki diri, namun janganlah kamu berpaling ketika kekurangan itu muncul ke permukaan, dukunglah aku agar kekurangan itu tertutupi dengan potensi positifku di permukaannya. Aku pun akan berlaku sama untukmu. Seperti yang kamu tahu, aku punya keluarga kecil sebelum nantinya kita membentuk keluarga kecil baru, papa, mama dan saudara-saudara perempuanku. Aku harap kamu dapat menyayangi mereka seperti keluargamu sendiri, orang tuamu sendiri, saudaramu sendiri. Aku pun akan berlaku sama pada keluargamu.

Untukmu yang sekarang mungkin sedang merangkak menggapai impian-impianmu atau mungkin sudah hampir mencapai puncak keberhasilan, ketahuilah, aku ini seorang pemimpi, banyak mimpi-mimpi di list impianku yang masih perlu aku penuhi saat ini. Jika nanti saat kita dipertemukan list impianku belum kunjung selesai walaupun list impian 'kita' telah tergambar jelas di depan mata, aku takkan memintamu untuk menemani atau membantuku, aku hanya untuk meminta ijin ikhlasmu agar aku dapat tetap menggoreskan tanda ceklis pada setiap list impianku.

Dan terakhir, untukmu calon imamku, bimbinglah aku untuk selalu berbuat kebaikan sekecil apapun itu, bimbinglah aku untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, Sang Pencipta kita, bimbinglah aku ke surga-Nya… Aku akan selu berdoa untukmu, untuk 'kita' kelak nantinya…