Aku tidak pernah tahu persis bagaimana masa lalumu dengan kekasihku saat ini, yang aku tahu hanya kamu adalah bagian dari masa lalunya. Tapi akhir-akhir ini aku menaruh cemburu padamu dan lelaki yang kucintai. Walau penghianatan itu tak nampak jelas, sebagai wanita aku cukup merasa bahwa masih ada getaran-getaran asmara yang mulai kau dan lelakiku bangun. Aku tak bisa menahan tangis ketika kesakitan itu kalian berdua ciptakan.

Aku tak tahu di hati lelakiku siapakah yang benar-benar ia cinta dan terlebih saat aku membayangkan bagaiamana aku hanya menjadi pelariannya saja. Aku tak pernah mau menyalahkanmu, tapi hatiku selalu perih jika harus mengatakan ini, aku sudah terlanjur mencintainya, aku tak tahu seberapa besarkah cintamu dan cintaku untuknya, aku juga tak mau mengadunya. Aku percaya, cinta akan menemui cinta juga bukan satu belah pihak saja.

Padamu, tanpa mengurangi rasa hormatku. Aku meminta jauhilah kekasihku, jauhilah seperti komitmen awal perspisahanmu dengannya. Jauhilah yang benar-benar jauh dari jangkauan, bukan hanya ragamu saja, tapi hati dan ingatan tentang segala hal kau bersamanya. Jangan rusak batin lelakiku yang kini sudah berusaha kucoba untuk membahagaiakannya. Karena sejatinya masa lalu tidak akan menjadi apa-apa. Bakarlah impianmu kembali dengan lelakiku, jangan usik kami yang memulai lembaran baru kebahagiaan. Hargailah sesama wanita, hargailah cinta yang telah aku bina bersamanya, kamu hanya lembaran hitam yang mestinya dibuang jauh dari benak lelakiku, jangan memancing perasaan yang dulu tumbuh kembali. Aku ingin menyayangi dia dengan caraku, menyayangi yang bahkan kamu tidak bisa melakukannya, menyayangi sampai aku tak pernah merasa terbuang sepertimu.