Hai, masih perlukah aku memperkenalkan diri dan mengatakan apa hubungan yang kumiliki denganmu? Sejenak mungkin kau terlupa jadi akan kuingatkan kembali, aku wanita yang hatinya sudah tertambat padamu. Aku wanita yang tempo lalu kau kejar dengan susah payah sekedar untuk mendapat perhatiannya.

Kau, lelaki yang tiap inci guratan wajahnya mampu kubayangkan dengan sempurna meski kau jauh disana. Apa yang sedang kau lakukan? Masihkan kesibukan menata masa depan membuatmu melupakan kehadiran seseorang? Ya, gadis malang yang sering terlewatkan olehmu. Aku.

Ada beberapa rasa rindu yang tidak mampu tersampaikan dengan baik tanpa pertemuan.

Kau, lelaki yang selalu menciptakan debar dalam setiap pertemuan, sudahkah kau meluangkan waktumu sejenak sekedar untuk berhenti dan mendengarkan apa yang sebenarnya mampu kau dengar? Ya kurasa lagi-lagi tidak, segudang mimpi dan kesibukan selalu menjadi prioritasmu. Tak apa dengan cerita omong kosong yang tak ingin kau dengar, lupakan. Kurasa hanya gadis bodoh yang tak mampu mengesampingkan lelucon sampah hanya karena ingin bercengkrama panjang dengan lelakinya.

Aku suka kita. Kita (dahulu) yang sempat saling terbuka dengan banyak canda tawa; melegakan tapi aku mulai lupa.

Advertisement

Kau, lelaki pemilik seribu asa mengenai masa depan, bukankah menatap seseorang meski hanya sekejap sembari menenangkan hatinya yang gelisah akan dirimu bukanlah suatu kerugian? Tidakkah terpikirkan olehmu seberapa lelah dirinya menanti kalimat “Aku baik-baik saja, aku akan menghubungimu segera” lewat pesan singkat sekalipun? Ya lagi-lagi semua itu menjadi suatu tuntutan yang berlebihan untukmu, bukankah begitu?

Tak mengapa jika semua itu terlalu melelahkan untuk kau lakukan. Tak mengapa jika hanya aku saja yang harus memperhatikanmu sementara kau tidak. Tak mengapa jika harus aku saja yang selalu memberimu kabar lantas kabar darimu seingatmu saja. Tak mengapa jika kau memaksaku tetap tinggal sedangkan kau bebas datang dan pergi sesuka hatimu. Semua tak mengapa.

Suatu saat ku harap semua puncak mampu kau daki. Suatu saat ku harap semua mimpi mampu kau wujudkan. Suatu saat ku harap semua lelahmu meniti tangga mampu terbayarkan, dan ku harap aku masih mampu berada disana menyaksikan senyum sumringahmu. Tak mengapa dengan sabarku, tak mengapa dengan ketersampinganku, tak mengapa dengan kejenuhan dan rasa sakitku, tak usah kau pikirkan.

Untukmu lelaki tangguh kebangaanku, satu hal yang ingin ku katakan. Maafkan aku atas kelancanganku jika aku sempat menganggu waktu dan segudang mimpimu dengan hal-hal melelahkan seperti memintamu memberikan kabar. Aku harap semua itu mampu kau maafkan. Semua prioritasmu akhirnya membuatku sadar, sekarang giliranku menentukan pilihan.

Bukankah prioritas adalah semua hal penting untukmu? Dan tak ada aku disana, tak ada sedikitpun keseriusan. Sudahkan semua jelas sekarang? Sudahkan aku membantu membuka matamu? Selamat tinggal, aku mulai benar-benar kelelahan. Aku berhenti mulai sekarang, berlarilah kedepan. Aku akan berjalan dengan ritmeku, tak usah kau khawatikan.