Surat ini kutulis beriring air mata yang berlinang membasahi pipi.

Kau mungkin sudah lupa jika aku dan kamu pernah menjadi kita. Hingga kau kini bebas berlenggang sesuka hatimu tanpa ada duka. Secepat itukah kau memalingkan hatimu dariku?

Bertahun-tahun bersamamu melewati segala suka duka tak akan kulupa begitu saja. Bersamamu, aku sudah mengorbankan segala gengsi dan keraguan di hati. Aku juga telah mengorbankaan berbagai pilihan demi satu cintamu. Aku yang dulu yakin, bahwa kau adalah laki-laki dewasa yang bisa dipercaya dalam segalanya, tapi ternyata perkataanmu tak ada satu pun yang bisa dipegang kebenarannya.

Kau pergi begitu saja dariku tanpa sepatah kata pun bersama janji-janji palsumu. Kau meninggalkan luka yang teramat pedih di hatiku. Tak pernahkah kau berpikir sediki saja tentang perasaanku? Bagaimana jika keadaan ini terjadi padamu? Apa kau masih sanggup bertahan setegar karang yang terhempas di lautan?

Menjalani cinta denganmu memang menguras segala perasaanku. Namun aku bertahan sepedih apa pun demi orang yang aku sayang. Aku melatih kesabaran dari apa yang kau lakukan. Segala perlakuanmu, membentukku menjadi gadis yang tangguh sesulit apapun kerikil-kerikil yang terus menghujam. Segala keras hatimu, tak akan bisa terluluhkan meski dengan air mata yang terjatuhkan.

Advertisement

Memang, tanpa aku sadari, kau telah mengajarkanku bagaimana menjadi gadis yang kuat. Tapi sekuat apa pun aku bertahan, jika terus kau hempas badai pasti akan rapuh juga. Saat kau pergi dariku, meninggalkan segenap kekecewaan, aku mulai belajar mengikhlaskan.

Apalagi yang bisa membuat seseorang bertahan selama ini kalau bukan cinta? Kau harusnya memahami, bukan malah pergi. Jika dengan menyakitiku dengan menciptakan segala perih seperti sembilu bisa membuatmu bahagia maka lakukanlah. Jika dengan meremehkan segala kesungguhanku kau anggap sebagai caramu melepaskanku dari hidupmu maka lakukanlah. Jika nantinya hal-hal kecil yang kulakukan selama ini untukmu menjadi kerinduan yang amat sangat untukmu, tanggunglah sendiri. Barangkali aku sudah tak sanggup lagi.

Belajarlah dari masa lalu. Kegagalan diciptakan Tuhan, supaya kita jauh lebih berbenah. Belajarlah memegang omonganmu, karena satu kali kau berdusta, kau masih bisa dipercaya, namun jika berulang kali terus kau lakukan cara yang sama, kau tak akan bisa dipercaya selamanya.

Aku percaya, jodoh ada waktunya. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk setiap umat-Nya. Entah nanti Tuhan menakdirkan kita berjodoh atau tidak, siapa yang bisa memprediksi? Jika memang Tuhan kembali mempertemukan kita di jalan yang sama, aku harap kau sudah jauh berbenah tak seperti saat ini. Aku pun terus memantaskan diri bagi siapa pun jodohku kelak. Jika Tuhan ternyata menakdirkan kita bersama, sehebat apa pun badai yang terjadi, pasti akan dipersatukan juga oleh-Nya.

Jika ke depannya kita tak lagi berjumpa di jalan yang sama, hanya satu yang aku pinta, berlakulah lebih lembut kepada wanita yang kau cinta. Kau tahu, wanita adalah makhluk yang harus dijaga, bukan terus disakiti hatinya. Wanita selalu menyimpan doa tulus di setiap sujudnya. Perlakukan wanita yang kau cinta dan hormati dia seperti kau memperlakukan ibumu, karena kau terlahir juga dari wanita. Satu kali saja menciptakan kepedihan untuknya, Tuhan akan memberikan keadilan-Nya, apalagi jika kau sampai melakukannya berkali-laki. Ingatlah akan itu semua!

Tahun memang telah berganti, tapi perih tak bisa dengan mudah terakhiri. Aku hanya berdoa pada Tuhan, di tahun yang baru ini semoga Dia akan selalu memberiku kekuatan. Dan aku berdoa untukmu, semoga Tuhan akan membuka pintu hatimu.

Dari mantan kekasihmu, yang dulu begitu mencinta, tapi selalu kau sakiti hatinya.