Hai partner HTSku, ini sudah memasuki trimester sejak kamu menampakkan batang hidungmu lagi setelah sebelumnya kamu menghilang tanpa kabar. Apakah kamu masih betah berada di sekitarku? Ataukah kamu sudah mulai berpikir ulang untuk yang kedua kalinya dan pergi lagi?

Aku sudah lupa sejak kapan kita semakin akrab, memang tidak seintim hubungan sepasang kekasih, tapi keakraban kita juga tidak layak hanya disebut teman karena telah tercipta ruang sendiri dalam diriku untuk kehadiranmu. Telah tercipta kebiasaan-kebiasaan yang memang diluar kebiasaan dari sebuah hubungan pertemanan. Entahlah, disebut apa hubungan ini.

Aku, yang entah kenapa selalu berusaha memantapkan hati bahwa suatu saat nanti kamu atau aku pasti akan pergi dari lingkaran hubungan ini. Saat ini, kamu masih menjadi orbit hidupku. Apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu rasakan ingin sekali aku tak peduli, tapi aku selalu saja tunduk pada perasaan dan dengan senang hati diperbudak olehnya.

Merasa marah ketika kau berpegangan tangan dengan dia yang aku tak tahu siapa, merasa sedih saat tubuhmu mulai tak kuat menopang rasa lelah, merasa senang ketika kupeluk perhatianmu sekaligus kecewa ketika kau pergi dan berbincang dengan dia yang ada di seberang sana lewat ponsel itu.

Aku, yang entah kenapa selalu berusaha menegarkan diri. Padahal sudah jelas, hubungan ini tanpa nama sehingga aku ataupun kamu sama-sama punya hak untuk meninggalkan lingkaran hubungan anonim ini. Tapi aku yang dengan bodohnya justru menunggu kamu untuk terlebih dahulu pergi seperti aku yang dengan senang hati selalu menunggu kamu untuk berbalik lalu pergi terlebih dahulu sebelum aku masuk kerumah ketika kamu mengantarkan aku pulang.

Advertisement

Dengan alasan aku ingin menatap punggungmu ketika pergi dan dengan alasan di dalam alasan lagi yaitu mungkin saja itu terakhir kalinya aku menatap punggungmu. Begitulah kebodohan saya yang justru menjadi kekuatan saya, kekuatan yang menjadikan saya masih tetap berada didalam lingkaran hubungan ini.

Aku, yang entah kenapa selalu berusaha menyadarkan diri. Layaknya keledai, aku semakin sering jatuh kedalam lubang yang sama yaitu lubang harapan. Bahkan keledai pun sudah lebih pintar dari diri ini, ia tak akan jatuh untuk ketiga kalinya atau bahkan keempat kalinya bukan?

Tapi aku, justru membiarkan diri ini jatuh, bukan untuk yang keempat kalinya atau kelima kalinya, tapi berkali-kali. Bahkan jika kau menghitung hasilnya dengan metode apapun yang kamu pakai, sudah pasti hasilnya akan ditemukan sebagai tak terhingga. Aku jatuh ke harapan yang sama, dan kembali bangkit dengan jawaban yang sama, aku dan kamu hanyalah aku dan kamu.

Meskipun sudah aku buka berkali-kali kamus Bahasa Indonesia, kamus Bahasa Inggris, atau bahkan kamus bahasa cinta sekalipun, tak kutemukan jawaban dari pertanyaan "apa nama hubungan ini?" Teman? Hubungan simbiosis mutualisme? Sahabat? Kekasih? Tidak, aku menamainya sebagai Hubungan Anonim, tak ada nama, sedangkan aku dan kamu adalah lakon utamanya.

Aku dan kamu tak bisa dilebur menjadi Kita di dalam hubungan ini.

Hai, kamu yang masih betah berkeliaran disekitarku. Suatu saat kebiasaan-kebiasaan ini akan punah, hanya akan menjadi sebuah kenangan. Kamu tahu, saat ini kamu telah menancapkan akar-akarmu kedalam hatiku.

Aku bahkan mulai takut menerima kenyataan jika suatu saat kamu akhirnya sadar bahwa aku tak layak untuk kamu meskipun setiap detik bahkan milidetik aku terus meyakinkan diri bahwa kamu pasti akan pergi. Aku bahkan mulai takut kesadaran yang selalu aku kunci rapat dalam sebuah kotak yang kusebut kotak kesadaran suatu saat nanti akan mendobrak keluar.

Kamu tahu tentang kotak pandora bukan? Seperti itulah kotak kesadaran.

Namun, yang aku simpan di dalam kotak kesadaran hanya satu kalimat. Bedanya kamu tidak bisa mengintip kotak pandora, tapi aku selalu bisa mengintip kotak kesadaran hanya untuk mengalirkan energinya pada diriku yang sudah terlalu sering jatuh dalam jurang harapan.

Hanya saja, aku cuma mampu untuk mengintipnya, karena sungguh jika kalimat itu keluar dari kotak kesadaran maka kamu tak akan lagi menemukan aku tetap berdiri di hubungan anonim ini. Jika kalimat itu keluar maka kakiku akan melangkah keluar dari garis hubungan ini. Seperti hubungan ini yang tak bernama, kalimat itu juga tak berjudul. Satu kalimat yang bahkan ketajamannya mengalahkan guillotine.

Hai, kamu yang namanya tak pernah putus kusebut di dalam doa. Jadi, kapan kaki itu akan melangkah keluar dari lingkaran ini? Agar aku tak terus-terusan salah menebak. Atau seperti halnya kematian, aku hanya menunggu dengan terus berdoa mempersiapkan diri dengan amunisi yang berisi ketegaran & keikhlasan.

Jadi, kamu tak perlu takut aku yang meninggalkanmu terlebih dahulu, kamu tak usah risau aku akan mencari sebuah lingkaran hubungan yang baru seperti halnya burung yang terus mencari pohon untuk tempat tinggalnya.

Kalau kamu masih berada disini, aku pun akan betah berada disini karena dengan begitu aku masih bisa menatapi sinar mata itu, mendengarkan lelucon konyolmu, melirik lipatan di dahimu ketika kamu tengah berpikir serius, dan menahan tanganku untuk mengusap raut yang memerah karena kelelahan itu.

Aku bahagia dengan semua yang aku rasakan ini, meskipun rumit. Tapi aku tahu, aku cukup memutar sudut pandang aku menjadi suduh pandang kamu maka semuanya lebih terlihat sederhana. Aku pun cukup menindas kata "rumit" dengan kata "cuek" maka semuanya menjadi tidak rumit lagi. Seperti itulah.

– Aku, yang mulai takut kehilanganmu –