Surat terbuka untukmu yang berkata mencintaiku tapi enggan meninggalkannya.

Selamat pagi, cinta.

Bagaimana kabarmu hari ini?

Bagaimana dengan hatimu?masih bingung harus memilih yang mana?

Aku menulis surat ini tidak lagi memaksa hatimu untuk memilih meninggalkannya atau merelakanku pergi

Advertisement

Aku sudah cukup lelah meminta, oh bukan. Aku bukan memaksamu untuk memilih antara aku dan dia (lagi).

Aku tau semua salahku yang pernah pergi darimu dan tak menoleh sedikitpun ke belakang.

Dan setelah kamu memilikinya, hatiku seakan tak rela kamu dimiliki orang lain

Aku pun memutuskan kembali dengan posisi sebagai orang ketiga dalam hubungan kalian.

Awalnya aku akan baik-baik saja dengan semua ini karena kau berkata masih selalu mencintaiku.

Namun semua musnah setiap kali aku berpikir tentang kau dan dia.

Meskipun katamu kalian jarang sekali bertemu, tetap saja ada dia di hatimu!

Aku atau kamu yang egois?

Kamu yang tidak mau melepasku namun juga enggan meninggalkannya

Aku yang masih ingin memilikimu seutuhnya tanpa embel-embel dia.

Satu hal yang aku mengerti dalam hubungan kita.

Kamu bukan tidak bisa meninggalkannya

Kamu hanya tidak mau melakukannya.

Kamu enggan menyakitinya tapi lebih memilih menyakitiku.

Ya, dia memang seorang gadis kaya raya dengan semua limpahan harta dari orang tuanya

Tidak sepertiku.

Gadis sederhana yang harus mengajari anak-anak sekolah kesana kemari hanya untuk hidup di kota perantauan ini.

Aku masih ingat saat itu, bulan puasa hari ke 17

Sore itu, kau berkata sedang tidur

Aku pamit pergi dengan teman-temanku pun tidak kau respon.

Kupikir tidurmu sangat nyenyak.

Hingga aku mengetahui satu fakta.

Kau tidak tidur.

Kau berada dalam satu rumah makan yang sama denganku.

Mungkin kau kira aku tidak akan pernah ke tempat itu

Karena tergolong tempat yang elit dan untuk orang-orang yang berkantong tebal.

Itu hari ulang tahun temanku.Temanku yang mengajakku. Dia yang membayari semuanya.

Dia juga yang melihatmu sedang duduk berdampingan dengan seorang gadis arab bersama dengan teman-teman kalian.

Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Tapi sebelumnya, aku melewati mejamu dan sengaja memperlihatkan wajahku di depanmu.

Kau terlihat salah tingkah dan perlahan melepas rangkulanmu padanya.

Aku tersenyum getir menahan tangis hingga temanku menarikku keluar.

Dia memelukku. Menguatkanku.

Aku menoleh ke arah pintu keluar. Menunggu.

Tak ada kau disana.

Tak pernah ada.

Aku pulang membawa kepingan hati yang kau injak dan hancurkan di depanku.

Dari situ aku menyadari sesuatu.

Statusku di matamu masih abstrak.

Kamu merupakan bayangan abu-abu yang tak bisa aku raih.

Dan sekarang aku memutuskan untuk menyerah

Menyerah bukan untuk kalah

Aku lebih memilih diam dan mempertebal benteng hatiku supaya tak mudah hancur.

Aku lelah dengan semua pertengkaran kita tentang kau dan dia yang selalu tak ada ujungnya.

Aku lelah menangisimu.

Aku hanya akan lebih fokus pada karirku.

Hingga akhirnya aku cukup mampu untuk merebut hatimu darinya.

Dariku,

Perempuan dalam bayanganmu.