Tahun berganti, kita semakin jauh saja. Jarak di antara kita merentang semakin luas. Kesibukan mulai membunuh sapa, suara dan rencana. Apa kabar dengan janji yang pernah terucap untuk bersama dulu? Nyatanya, kebersamaan ternyata memang tak seindah masa remaja. Usia dan pekerjaan akhirnya merebut kehidupan kita. Banyak hal-hal yang menjadi prioritasmu dan tampaknya aku tak lagi menjadi bagian di dalamnya. Yang ku ingat, aku memang pernah berbuat salah padamu, tapi tampaknya kesalahan itu cukup membuatmu merasa aku tak pernah berbaik hati padamu. Hingga akhirnya kau hanya diam dan menganggapku tak ada.

Katamu, diam adalah teguran terhebat. Lantas dari mana aku akan belajar berbenah diri jika kau seperti itu? Tak cukupkah aku meminta maaf waktu itu? Perbuatan keji seperti apa lagi yang ku lakukan untuk menyakitimu kali ini? Duhai teman terbaik, kita ini manusia, kamu juga bukan teman yang sempurna, yang tak pernah menyakitiku. Kalaupun aku tak pernah kecewa karena sakit yang kau ciptakan, karena aku lebih menghargai hubungan persahabatan kita, kebaikanmu, dibandingkan sibuk memusingkan rasa sakit itu.

Hai teman baik,

Ijinkan aku bertanya, tak pernahkah kamu merindukanku? Cukupkah bagimu pujaan hatimu mengisi kekosongan tempatku? Jika pepatah berkata, banyak orang berubah jika sudah menemukan kekasih hati, bolehkah aku menggolongkanmu ke dalam bagian itu? Sungguh aku juga ingin kembali menyapamu sekedar bercerita tentang kisah hari ini! Aku merindukanmu, tak cukupkah itu menjadi alasan untukku ingin menemuimu?

Hai teman baik,

Advertisement

Aku ingat setiap alasanmu untuk menolak ajakan pertemuan bersamaku. Kamu sibuk untuk bekerja, tapi aku juga tak cukup bodoh untuk mengetahui jika selalu ada waktu kau luangkan untuk kekasihmu. Sungguh aku tak ingin mencuri waktu kalian, aku hanya meminta sedikit bagian saja. Apa berat untukmu mengingat kebaikan yang pernah ku lakukan padamu dulu hingga setitik "kejahatan" yang ku lakukan rasanya sukses membunuh persahabatan ini.

Hai teman baik yang selalu berkata sedang sibuk bekerja,

Sudahkah kamu menemukan jati dirimu? Di dunia ini, ada banyak sekali manusia yang kehilangan diri mereka sendiri. Sebab manusia-manusia itu terlalu sibuk bekerja sepanjang waktu. Cukuplah bagimu aku yang kau jauhi kau hindari, tapi jangan sampai kau kehilangan diri. Jangan pernah merasa asing dengan semua yang kamu miliki.

Teman baikku, yang kini katanya sedang sibuk menata masa depan untuk kehidupan yang lebih mapan,

Jangan pernah lupa, bahagia bisa datang dari hal yang sederhana. Nanti kalau sudah punya waktu senggang, tolong ingat aku sebentar saja. Mari saling bertukar kabar meski hanya sebatas pesan di media sosial. Kadang rindu itu hanya membawa sebuah keinginan, lalu sengaja diabaikan karena kau yang menganggapku asing. Sudahlah, jangan berlama-lama seperti itu, jarak dan waktu yang membelenggu kita sudah terlalu menjauhkanmu dari diriku.

Segeralah pulang untuk menemui dirimu yang tersisa di dalam diriku ini. Temukan segala rencana dan janji-janji kebersamaan kita dulu. Bekerja sepenuh hati itu memang perlu, tapi hidup tak melulu tentang itu. Mendiamkanku bahkan mengabaikanku itu perlu tapi tak usah bersikeras menghindariku.

Jangan lupa, aku masih menunggumu, menyelesaikan sedikit kisah sebelum kita sama-sama menjadi dewasa.
Jangan lupa, aku selalu mengharap untuk kembali akrab bersamamu seperti dulu.