Halo, adikku yang paling ganteng!

Ya, paling ganteng! Karena aku hanya punya satu adik. Hehehe… Saat kutulis surat ini, aku yakin kamu masih begelung dengan selimut hangatmu seperti yang kulihat tadi pagi. Persis seperti kepompong berwarna hitam. Tak terasa ya, Dik? Waktu berlalu begitu cepat. Kau sudah lulus SMA sekarang. Rasanya baru kemarin aku membujukmu agar mau pergi ke TK. Kamu dulu anak yang lucu, rambutmu ikal mendekati keriting, matamu bersinar tanpa beban.

Tapi, lihat sekarang! Kamu bermetamorfosa menjadi anak laki-laki yang tingginya hampir dua meter. Kulit coklat nyaris hitam karena efek hobimu bermain layangan dan mencari jangkrik di hutan. Tinggal menghitung hari, kamu akan pergi menuntut ilmu di pulau seberang. Kau ingat, malam itu di ruang tamu, aku memelukmu dari belakang. Tumben, kau diam saja. Biasanya, kau mengamuk kalau aku sentuh.

“Tanggal berapa ke Jogja, Dik?”

“Tanggal 26,” jawabmu singkat.

“Sudah siap belum, Dik?”

“Belum,” hening.

Sedih kurasakan dalam hati mendengar jawabanmu itu, Dik. Bertahun-tahun kita tumbuh bersama. Terlintas kembali di ingatanku, saat suaramu perlahan berubah menjadi lebih berat. Saat kau tertawa sambil menunjukkan gelagat aneh menceritakan tentang mimpimu semalam. Oh, adik kecilku kenapa kamu tumbuh begitu cepat?

Advertisement

Ya, aku tahu masa ini akan tiba. Masa yang dulu pernah kulewati meski dengan situasi yang berbeda. Baiklah, untukmu adikku yang paling kusayangi. Kutuliskan surat terbuka ini untukmu sebagai bukti sayang dan cintaku padamu. Aku tahu, kau sedang galau sekarang. Tapi tolong dengarkan ini. Kamu adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Jadi, kamu harus kuat. Berusahalah untuk membahagiakan bapak dan ibu.

Kau harus sukses melebihi kakak-kakak perempuanmu. Tapi kumohon, jangan mencemaskan masa depan. Berusahalah sebaik-baiknya di hari ini.

Jika tiba waktunya nanti, busungkan dada, angkat kepala, dan jangan biarkan air itu meleleh dari matamu! Bisikkan dalam hatimu, “Aku siap!” Aku juga siap di sini, sendirian tanpa teman bertengkar, tanpa tukang todong yang setiap hari meminta uang jajan dan tanpa penganggu tidur siangku. Apapun yang terjadi nanti, tetaplah berjalan di jalan-Nya. Maka kamu akan memperoleh kesembuhan atas setiap rasa sakit yang akan kamu temukan dalam perjalanan ke depan.

Berjuanglah adikku sayang!

Ditulis dengan penuh cinta,

untuk adik lelakiku yang akan pergi menuntut ilmu!