Hai, Ayah! Halo, Ibu! Apa kabar kalian di sana? Aku yakin kalian baik-baik saja. Aku yakin kalian tidak merasakan sakit atau sedih seperti saat bersamaku dulu. Terimakasih untuk limpahan cinta yang pernah kalian berikan pada anakmu, yang tidak tahu berterimakasih ini. Maafkan aku yang di sisa hidup kalian belum sedikitpun membanggakan. Maafkan aku yang selalu membantah perkataan dan nasehat yang terucap dari bibir kalian.

Maafkan aku yang selalu menuntut hal-hal yang tidak bisa kalian penuhi. Maafkan aku yang selalu mengecewakan Ayah dan melukai hati kecil Ibu. Maafkan aku yang selalu mengeluh akan apa yang tidak kupunya padahal memiliki kalian saja seharusnya sudah cukup bagiku.

Ibu, terimakasih engkau telah membuatku melihat keindahan dunia. Terimakasih untuk kasih sayang yang sempat kau curahkan padaku. Terimakasih untuk mendengarkan semua ocehanku. Terimakasih untuk nasehat yang tak bosan engkau lontarkan. Terimakasih untuk doa yang setiap malam kau ucapkan. Terimakasih untuk setiap tetesan air mata yang jatuh hanya untukku. Terimakasih telah menjadi Malaikat Pelindungku, Ibu.

Ayah, terimakasih engkau selalu menjadi peganganku. Terimakasih untuk perlindunganmu padaku. Terimakasih untuk bimbingan kerasmu yang semata-mata menjadikanku tangguh. Terimakasih untuk kata-kata sayang yang bahkan sulit kau ucapkan. Terimakasih untuk tidak berpaling dari anakmu yang selalu melawanmu. Terimakasih untuk setiap peluh keringatmu bagi kebahagiaanku. Terimakasih telah menjadi Raja Hatiku, Ayah.

Berat rasanya saat harus ditinggalkan oleh dua orang yang menjadikanku ada. Namun rasanya aku lega, mungkin Tuhan lebih menyayangi kalian berdua dibandingkan anakmu yang durhaka ini. Meski merelakan itu sulit, perlahan aku sadar pada akhirnya tempatku juga di sana. Sulit awalnya ketika harus pergi ke perantauan tanpa ditemani kalian. Sedih rasanya saat melihat orangtua lain menjenguk putra-putri mereka di perantauan.

Advertisement

Berat ketika beban masalah datang tiada satupun yang dapat kuhubungi untuk sekedar melampiaskan amarah atau berbagi air mata. Jangankan untuk berharap bertemu, via telepon saja tidaklah mungkin. Rindu yang setiap hari kualami hanya bisa kubalut lewat sebuah doa kecil. Doa kepada Yang Kuasa, agar Dia selalu menempatkan kalian ke dalam kebahagiaan abadi sebab anaknya ini tidak bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki.

Mungkin anakmu ini hanya sedikit kurang beruntung tapi keberuntungan yang istimewa adalah menjadi anak Ayah dan Ibu. Aku yakin meski tak bersua, di suatu tempat di sana Ayah dan Ibu selalu melihat dan menjaga anakmu ini. Satu hal yang dapat kujanjikan hanyalah keharuman nama Ayah dan Ibu. Meski tak dapat ikut merasakan kesuksesanku, semoga dengan mengharumkan nama kalian selalu membahagiakan jiwa Ayah dan Ibu.

Agar semua dunia tahu, Ayah dan Ibu di sana tidak sia-sia memiliki anak sepertiku. Selalu doakan aku Ayah, Ibu agar aku selalu berada di jalan-Nya, agar dapat menjadi kebanggaan dan selalu mengharumkan nama kalian.

Dari anakmu di dunia,

Untuk Ayah dan Ibu di Surga