“ Ayah pengen kamu jadi guru, Nak. Kalo siswa nya libur kamu juga ikut libur, Terus nggak ada kerja shift. Kamu bisa urus rumah tangga kamu juga, Jadi seimbang”

Dalam setiap tarikan nafas serta aliran darah yang tidak berhenti mengalir, orang tua adalah tempat pulang paling ramah. Mereka akan selalu ada menyambut di balik pintu jam berapa pun kita pulang. Dengan senyumnya yang tulus bukan berniat memarahi karna pulang larut malam, mereka malah bertanya..

“ Nak, kamu sudah makan? Kalau belum, Ibu tadi sisain makanan buat kamu di lemari”

Ini adalah potret kasih sayang sungguhan yang semesta ijinkan tumbuh dalam hati semua orang tua di dunia ini, agar hati para anak tidak sombong untuk mau menyempatkan merenung dan selalu memahami bahwa orang tua adalah anugrah tak terganti yang diberikan tuhan. Ini mutlak adanya.

Tidak munafik, bahwa sudah banyak dosa bertebaran yang kita perbuat dengan alasan kewajaran darah muda yang sedang menggebu. Berbohong kepada orang tua adalah hal paling mudah dan praktis yang tidak jarang ada kata pemakluman menyelip dalam setiap rencana.

Advertisement

Untuk terlihat sempurna di depan kedua orang tua memang tidak mudah, terkadang ada saja hal busuk yang kita sembunyikan agar orang tua tetap memandang dan meyakini bahwa anaknya patut dibanggakan. Namun kita sering lupa, bahwa kesuksesan orang tua dalam mendidik adalah mengetahui kebusukan sang anak dari kejujuran yang tanpa paksaan.

Merasa ingin membuat orang tua bangga membuat kita patuh akan segala permintaan dan harapan mereka, terkadang tidak jarang melupakan keinginan sendiri dalam pilihan masa depan. Hanya satu, agar mereka selalu dibanjiri kebahagiaan dan tidak membuatnya sulit dengan segala pembangkangan yang kita perbuat.

Perlu digaris bawahi, bahwa tidak ada yang salah dengan mengikuti mau orang tua. karna mereka lah kita ada di dunia ini. Seluruh kebaikan yang kita lakukan semata-mata untuk berterimakasih atas segala kasih sayang tulus yang mereka tumpahkan memang tidak akan pernah bisa seimbang dengan apa yang sudah mereka perjuangkan.

Itulah mengapa tidak jarang banyak anak yang masuk kuliah mengantongi nama jurusan bagus dan terkesan mapan namun hati menolak keras. Alih-alih ingin menjadi yang paling dibanggakan, malah membuat repot diri sendiri di semester akhir.

Banyak sekali kerepotan yang akan menghampiri, karna teman sekelas yang benar-benar serius dalam jurusan tersebut akan terus menonjol dan kita akan tertinggal jauh dibelakang dan terus menyesal. Dengan orang tua masing-masing, kita harus bicara, duduk berhadapan, beradu pandangan, bertukar pikiran serta saling menunjukkan garis hidup yang sudah digambar semesta dan mereka perlu tahu.

Untuk ayah dan ibu dirumah…

Pertama akan kami ungkapkan perasaan terdalam yang pernah ada. Bahwa kami mencintai kalian dengan sangat, rasanya jumlah debu di gurun pasir tidak akan sanggup setara dengan jumlah rasa cinta kami terhadap kalian.

Ilmu matematika yang sudah jelas nyata dan konkrit, juga tidak akan pernah dapat menjelaskan ada pada angka berapa cinta ini tumbuh. Kami tidak akan membahas perjuangan kalian memperjuangkan nyawa kami saat kali pertama mata ini terbuka,karena maaf air mata ini mungkin akan kekeringan.

Jika diijinkan untuk jujur, kami memiliki malaikat yang menyamar menjadi seorang perempuan dirumah, iya dia ibu. kami mencintai ibu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terimakasih kami sampaikan, selalu menjadi penenang dalam setiap masalah yang tidak hentinya membanjiri hidup kami, kami sadar bahwa sebenarnya ibu lelah menghadapi kami yang selalu saja sulit diatur dan bertindak semaunya.

Namun perlu ibu ketahui, kami sedang menggambar sketsa wajah ibu di masa nanti, saat ini kami sedang meracik warna yang paling indah untuk senyuman ibu saat kami sukses. Ibu, doakan kami selalu agar di jalan manapun yang kami tempuh, keridhoanmu mendampingi.

Untuk ayah, kami sadar betul bahwa ekspektasi terbesarmu adalah melihat putra- putrimu sukses mencapai segala kemustahilan di dunia ini, membelah dunia, membuka seluruh jendela dunia, hingga tidak ada lagi yang tersisa.

Entah harus berapa kali kami sampaikan bahwa jika kami tidak memiliki garis hidup sendiri, kami akan menggambar garis hidup ayah lebih indah dari garis hidup siapapun, supaya ayah terus bahagia, dan akan selalu berani berharap, karna sadar bahwa putra-putrinya mampu menjadi yang terbaik.

Namun ayah, sekali lagi maaf. Lagi-lagi, lubuk hati terdalam teriak meronta saat sadar bahwa kami tidak mampu mengikuti jalan yang ayah pilih. Sepertinya ada sesuatu dalam diri yang baru kami temukan, ada bidang lain yang ingin segera kami datangi dan terjun bebas ke dalamnya.

Ayah tidak perlu khawatir, kami akan gunakan seluruh peralatan terjun yang safety, bukan suatu kemustahilan bahwa kami akan jatuh. Mungkin jatuh ke tempat paling dalam hingga bernafas pun sulit. Percayalah, jatuh sedalam apapun tidak akan mengubur seluruh harapan yang sudah ayah canangkan, kami berjanji akan membuktikan. Karena ini pilihan sendiri, kami akan bertanggung jawab penuh atas seluruh risiko yang akan menyambut setelah perjalanan di mulai.

Restu dari ayah merupakan tepuk tangan paling meriah yang pernah kami dengar, maka dari itu ijinkan kami menjalani dan menapaki garis hidup sendiri, biarkan semesta menuntun dengan santun. Kami akan menjemput ayah di puncak kesuksesan, dan menikmati senyum dari wajahmu yang sudah mulai keriput.

Dari seorang anak yang terlalu mencintai Ayah dan Ibu.

Mulailah berani lepaskan diri dengan mendobrak segala batasan dalam hidup yang mungkin nyaman tapi sering kali membatasi. Dan mulai untuk jujur kepada diri sendiri, bahwa hidup ini milik kita, semua keputusan ada di kepalan tangan. Kita yang lebih tahu apa yang harus di genggam saat ini agar di masa depan kebahagiaan sejati menghampiri tanpa paksa.