Surat ini kupersembahkan untuk mama yang selalu tersenyum pada dunia.

Ma, ternyata aku sudah lama tak bercakap denganmu. Mungkin aku sudah lupa kapan terakhir kami berbincang langsung dan berbagi tawa. Tapi tenang saja ma, aku selalu mengingat bagaimana mama berpesan padaku. Kini kedua anakmu sudah dewasa, berumur 20 tahun. Mengingat umur terkadang membuatku sedih. Kau tahu ma? Aku selalu berpikir diumur 20 tahunku ini, aku belum bisa melakukan apapun untuk mama. Mungkin hanya doa dan sekedar bertanya "apa kabar mama?" dan itu pun jika aku ingat dan tak malu. Durhaka memang…

Mungkin aku sangat berdosa pada mama. Aku yang selalu melupakan mama ketika aku sedang asyik dengan duniaku sendiri. Aku selalu mengabaikan telepon darimu, pesan darimu dan amanat untukku. Sampai pada akhirnya mama menegurku dengan halus. Ah, mama maafkan aku. Aku terlalu khilaf pada dunia ini, aku terlalu sibuk dengan imajinasiku sampai aku lupa bagaimana menghadapi nyata. Terkadang aku merasa tersakiti ketika mama memuji anak laki – lakimu. Seketika aku merasa seperti anak yang tidak berguna, yang hanya menghabiskan uangmu. Aku tak seperti anak laki – lakimu yang pandai, cerdas dan mandiri. Anak laki – lakimu yang selalu berikan petunjuk masalahmu, yang mampu berikan ketenangan dan kenyamanan. Bukan seperti aku..

Aku rindu pada mama. Aku rindu ketika mama mengabulkan pengharapanku, ketika mama mengajakku menikmati kuliner di pinggir jalan dan ketika mama menggodaku. Ah rindu ini semakin menjadi – jadi! Tetapi mengapa aku selalu merasa ada jarak diantara kami. Kami sudah berada dalam jarak paling jauh. Jarak ini membuat mulutku enggan berkata rindu pada mama. Aku putrimu dilahirkan dengan tingkat gengsi paling tinggi, lucu memang..

Banyak hal yang ingin ku sampaikan pada mama tetapi entah mengapa ini sulit untuk terucap. Hatiku dihujani kekesalan dan kemarahan. Mungkin rinduku terlalu dalam untukmu, Ma? Atau kekesalanku padamu tentang masa lalumu? Entahlah, ku rasa hanya Tuhan yang tahu.