Untuk segala hal yang sudah menemui akhir.

Hai. Apa kabar?

Bertanya kabar tentu perlu, bukan?

Kuharap kalian baik saja. Ya. Kalian. Surat ini tidak kutujukan untuk satu orang. Tapi kalian, semua hal yang telah selesai. Tanpa terkecuali.

Aku menulis ini bukan untuk melibatkan kalian kembali dalam segala urusanku. Bukan pula karena aku tiba-tiba rindu masa yang lampau.

Advertisement

Aku menulis ini untuk mengucap maaf dan terima kasih.

Ya, tidak lebih.

Tentu, masa lalu pernah menjadi hal yang paling membahagiakan. Sekaligus menyebalkan. Entah aku yang menyebalkan, atau kalian yang menyebalkan. Tenang, aku tidak lagi menyalahkan kalian untuk segala hal yang terjadi padaku. Segala hal yang membuat air mataku jatuh, hatiku patah, dan kepalaku yang (pernah) tidak bisa berpikir jernih.

Aku minta maaf.

Aku minta maaf jika aku pernah menjadi pelaku dalam episode sakit hati kalian.

Itu bukan hal baik. Aku tahu.

Mungkin aku pernah mendua, pernah egois, pernah meninggalkan, pernah memberi harapan lantas pergi, pernah membuat dunia kalian seperti neraka.

Aku benar-benar minta maaf.

Hidup seperti bermain peran. Tidak melulu mendapat peran protagonis. Aktor yang baik akan mencoba banyak peran. Akan memainkan banyak peran. Pasti aku adalah aktor antagonis yang cukup berhasil, bukan?

Aku bahagia ketika satu persatu dari kalian melupakan aku dan sakit hati yang kubuat. Itu artinya hidup kalian menjadi lebih baik. Mungkin beberapa dari kalian sama sekali tidak ingin melihatku. Itu tidak masalah. Bagaimanapun aku adalah pelaku. Ya kan?

Untuk kalian yang pernah menjadi pelaku, aku juga ingin minta maaf.

Aku minta maaf karena aku pernah membenci kalian untuk waktu yang sangat lama.

Aku minta maaf karena tidak mengangkat telepon, tidak membalas sms, tidak menerima segala bentuk interaksi yang kalian tawarkan.

Ah, ya, aku juga minta maaf jika aku sempat bercerita pada banyak orang tentang sakit hati yang kalian sebabkan. Itu sangat memalukan. Kuharap kalian tidak kesusahan memulihkan nama baik kalian.

Aku ingin membiarkan kalian berkeliaran kembali dalam hidupku. Kalian boleh hidup di mana saja di sekitarku. Aku tidak lagi menyimpan kalian rapat-rapat dalam kotak yang haram untuk dibuka. Tidak. Aku baru menyadari. Semakin kusimpan kalian rapat-rapat, semakin sulit untuk beranjak menuju masa depan. Semakin aku menyuruh otakku untuk tidak berpikir tentang kalian, maka aku akan semakin berpikir tentang kalian.

Maka kuucapkan pula terimakasih. Atas kesediaannya mampir meski hanya sebentar. Atas kesediaannya memaafkan, meminta maaf, bahkan kesediaannya untuk tidak peduli.

Saat ini aku sedang bersama seorang lelaki. Aku tak tahu apakah nantinya ia akan jadi bagian dari kalian atau tidak. Yang pasti, berbahagialah kalian yang pernah mendoakanku bahagia.

Aku sangat bahagia.

Jauh, jauh, dan jauh lebih bahagia. Aku minta maaf atas ucapanku ini.

Tapi itu benar.

Lelaki ini melengkapi semuanya yang dulu kalian ingin aku lengkapi sendiri.

Kalian selalu berkata : Aku egois.

Ya memang benar. Kalian suruh aku tidak egois. Tapi lelaki ini membantuku untuk tidak egois.

Kalian berkata: Aku pemarah.

Ya memang benar. Kalian suruh aku lebih sabar. Tapi lelaki ini membantuku untuk sabar.

Kalian selalu berkata : Aku tidak perhatian.

Ya memang benar. Kalian suruh aku perhatian. Tapi lelaki ini membantuku untuk lebih perhatian.

Ia terlibat. Tidak hanya melihat. Dan aku bahagia.

Jika kalian menemukan aku sekarang, jangan pernah lagi jatuh cinta padaku. Ya, aku tahu, perempuan bahagia akan jauh terlihat lebih menarik. Tapi maaf, bukankah melepas juga butuh tanggung jawab? Ya. Tanggung jawab untuk tidak mencoba untuk kembali.

Akhirnya, masing-masing dari kita akan menemukan orang lain. Dan jarum jam tidak akan pernah berputar terbalik.

Terakhir, terimakasih, telah melepasku di saat yang tepat.

Semoga kalian selalu berbahagia!