Untukmu yang namanya selalu ku semogakan, di daratan manapun kau berada, sejauh apapun saat ini kita terpisah jarak maupun waktu, bukankah tidak apa-apa jika kita sama-sama sendiri dulu. Sepanas apapun api rindu membakar hati, bahkan sampai tak berdaya tertikam dengan sangat menyakitkan oleh keinginan akan sebuah perjumpaan manis, kita sama-sama tahu bahwa jarak terbentang luas membatasi jemari untuk saling bergandengan dan mata untuk saling memandang.

Bagiku kau bukan kejora yang paling terang di angkasa, tetapi dari jutaan bintang di langit hatiku roboh oleh cahaya kecilmu yang begitu menenangkan hati. Cahaya yang sangat sederhana terangnya dan tidak gemerlapan tetapi dapat mengantarku tidur dengan lelap dan terbangun dengan senyuman.

Tahukah kau? aku sering merindumu dalam diam dulunya, mengintipmu dari kejauhan, kemudian menyapamu dengan berpura-pura sebagai seorang teman yang memiliki waktu luang, padahal jelas ada rindu begitu besar tersimpan seperti gunung di dalam lautan yang ingin ku sampaikan. Berawal dari ucapan selamat malam yang begitu dahsyat maknanya, tetapi siapalah aku jika kemudian menginginimu sampai pada genggaman tangan.

Aku menuliskanmu dalam proposal hidupku "melihat pagi sambil menggenggam asa bersama" katamu, aku menuliskannya persis seperti impianku untuk dapat melangkahkan kaki beriringan denganmu. Nama dengan tinta hitam dalam buku impianku itu kupeluk dan kudekati dengan sebuah doa. Ya, itu kau. Maha dahsyat skenario pencipta-Mu. Sinyal cinta, harapan, dan impian ini sampai kepadamu sekalipun jauh sekali jaraknya. Kau datang dengan cara sederhana dan begitu hangat menyapa, hingga ungkapan rasa yang ternyata kita sama-sama saling memendam harapan terbaca lewat bahasa cinta. Aku terpaku dengan senyum yang entahlah senyuman macam apa, yang jelas aku diam membisu dengan keringat yang memandikanku. Kebahagiaan yang sampai akupun tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Satu kaliman saja. Keindahan itu adalah kau.

Satu tanya terpenjara dalam benak seorang yang sedang dirundung asmara, bagaimana cinta ini harus ku genggam, aku takut jika terlalu erat akan mati, jika terlalu kendur akan terlepas. Ahhh, aku tersadar oleh bagaimana takdir yang begitu hebat mengenalkanku padamu. Ya, apapun tentangmu bahkan setetes rindu dalam hatiku ini ku kembalikan kepada cinta Allah pemilikmu yang sesungguhnya, tempat dimana kau ku semogakan waktu itu supaya nanti ketika kau datang untung terlibat lebih jauh mengenai hati ini kau ikut tenggelam bersama cinta-Nya, tentunya bersamaku.