Apa kabarmu bu hari ini? Semenjak pertanyaanmu hari lalu, aku tak lagi mendengar suaramu. Apa hari ini kau masih marah denganku? Apa aku mengecewakanmu yang tak kunjung membawa calon menantu?.

Jujur saja bu…. aku ikut cemas dengan apa yang tengah kau cemaskan. Karena teman-temanku yang sudah menikah. Kemudian kau menginginkan hal yang sama dariku. Bu… bukan aku tak mau menikah. Tapi usiaku masih muda, ada banyak mimpi yang ingin ku capai. Ada sebuah cita-cita yang ingin kuwujudkan. Juga aku belum dipertemukan jodohku.

Bu, aku tak mau asal mengiyakan seorang laki-laki melamarku. Aku tak mau hidup bersama orang yang salah. Aku menginginkan seseorang yang bertanggung jawab atas hidupku. Yang tetap tinggal setelah tahu kekuranganku.

Rasanya baru kemarin aku meninggalkan rumah. Merantau dengan restumu di tanah asing. Bukannya kau sebelumnya mengijinkan aku untuk menggapai yang aku inginkan bu?.Dan ini masih jauh dari harapanku. Asam Manis Pahitnya hiduppun masih terasa samar-sama untukku. Aku belum merasa cukup mendapatkan pengalaman ini.

Jika nantinya aku membangun keluarga. Aku ingin ketika itu aku tak lagi penasaran dengan dunia. Aku ingin memuaskan diriku untuk menikmati semua rasa kehidupan ini. Aku ingin medapatkan segala hal yang aku inginkan bu.

Advertisement

Aku masih ingin mematahkan pendapat sinis orang tentang keluarga kita yang sempat berantakan. Putrimu ini bisa sukses tanpa dukungan ayah. Aku ingin buktikan pada ayah… jika aku masih bisa berdiri tanpanya. Aku bahkan bisa melawan kerasnya dunia tanpanya.

Alasan lain yang sebenarnya kau tahu bu. Aku belum siap terikat dalam sebuah pernikahan. Karena trauma ini masih membekas. Anggapanku tentang pria masih sama.Saat mereka bosan mereka akan pergi. Aku perlu waktu untuk mengubah anggapanku itu bu… aku mohon jangan memaksaku dengan terus bertanya "kapan aku menikah?"

Bu… aku ingin sehebat dirimu dulu. Siap menghadapi kejutan dari TUHAN dengan tidak mengeluh ataupun menggerutu. Sekuat dirimu… Tak mudah menangis oleh ketidakadilan skenario Tuhan. Dan Untuk itu semua aku butuh berkelana menjajaki jalan setapak hidup. Mencoba menerjang badai juga menyebrangi jurang tapi tak takut mati. Aku butuh pengalaman lebih bu….

Aku minta maaf jika membuatmu hari ini kecewa. Aku mohon pengertianmu bu. Aku ingin restumu lagi… Doakan aku bisa menakhlukan kekejaman dunia di tanah orang ini. Doakan langkahku selalu berada dalam jalannya.

Tak usah terburu bu. Jodohku pasti sudah di tetapkan Oleh Tuhan. Ia pasti seorang pria baik yang nantinya juga akan menyayangimu sepertiku dan menyayangiku sepertimu.

Dan bukankah untuk pria itu aku harus memperbaiki diriku? yang belum sepenuhnya baik ini bu. aku harus memantaskan diri dulu untuk dia yang akan menemani sisa waktukku.

Bu tenanglah disana… jangan risaukan mereka yang suka bernyinyir. Aku baik-baik saja disini. Kekhawatiranmu seharusnya masih jauh. Aku masih terlalu muda bu. Emosiku masih naik turun. Egoku masih tinggi. Aku masih labil. Tentu untuk menjadi sepertimu aku harus pandai mengendalikan diri.

BU… percayalah Tuhan sudah menyiapkan pria yang luar biasa untukku. Seperti bunga yang bermekaran indah. Semua butuh proses bu… Seperti kebahagiaanku. bu…. aku menyayangimu, aku juga ingin membahagiakanmu. maaf jika hari ini aku melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hatimu.