Maaf, aku sampai harus menulis ini untukmu.

Aku hanya ingin membicarakan perihal yang telah mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Aku tak mengenalmu, sama sepertimu yang tidak mengenalku. Namun, ada satu titik dimana aku bisa mengetahuimu. Lewat kekasihku. Mungkin kau menaruh harapan padanya. Entah karena memang dia yang tak merasa atau pura-pura tak rasa perasaanmu padanya. Beberapa kali aku memergoki kalian sedang saling balas komentar di statusnya. Awalnya aku tak khawatir sama sekali. Bukan tak memikirkan hal-hal atau prasangka buruk, tetapi auramu sama sekali tak menunjukkan hal negatif.

Teman biasa.

Aku pun berpikir kalian hanya berteman dan saling komunikasi. Lama kelamaan, aku mendapatimu mulai memanggilnya dengan sebutan darimu dan ia juga mempunyai sebutan untukmu. Satu dua tiga atau bahkan berkali-kali aku memafkan. Sampai suatu ketika kau membagikan info yang berhubungan dengannya serta mengetag namanya yang jelas-jelas bisa dilihat oleh temanmu dan temannya.

Aku mulai curiga. Aku mulai merasa kau menaruh harapan padanya. Aku mencoba membicarakan ini padanya. Namun, ia tak mengindah dengan alasan kau sudah tahu bahwa ia sudah memiliki kekasih. Tapi mungkin aku yang terlalu berprasangka buruk terhadapmu.

Advertisement

Aku dan kamu sama, sama-sama wanita. Aku memahami gerak gerikmu. Gerak tanda minta diperhatikan. Tapi maafkan aku jika ini menyinggungmu. Aku tak bermaksud tak menghormatimu. Namun, bisakah kau menjaga perasaanku?

Menjaga perasaan wanita yang aku yakin kau juga merasakannya. Perasaan seorang wanita ketika kekasihnya didekati oleh wanita lain. Perasaan seorang wanita yang telah lebih dulu mencintai laki-laki yang saat ini ternyata kau juga mencintainya diam-diam?

Aku tak berniat membatasi pertemanannya. Hanya saja cara berteman yang menurut aku salah. Mungkin aku sering menuntutnya tak melakukan hal-hal yang tak aku suka dan ia mulai gerah. Namun teman, tahukah kamu kalau aku sangat menghargai perasaannya.

Aku sangat menjaga diriku dari hal-hal yang tak ia sukai.

Karena aku sangat mencintainya. Membutuhkannya mungkin memang tak lebih dari napas yang aku hirup tapi lebih dari sekedar tetasan embun pelepas dahaga. Wajahnya yang menentramkan bukan untuk dinikmati oleh semua wanita. Hatinya yang membuat semua orang nyaman bukan untuk dirasakan oleh semua perempuan. Ia hanya seorang Adam untuk Siti Hawanya sendiri.

Mungkin saat ini aku tak mampu melepas segenggam kerinduannya. Tak mampu terhuyung dalam aroma tubuhnya. Tapi aku rasa dia tak mendambakan perhatianmu sedikitpun. Cobalah kita gunakan logika, mulai membangunkan akal sehat bahwa seorang yang telah memiliki kekasih jangan di ganggu peraduannya. Mungkin sosoknya sering bertandang di pikiranmu, terserah menyelinap atau bagaimana kau ingin masuk ke pikirannya. Tapi jangan berharap itu bisa terjadi. Aku tak membiarkan ada yang lain dihatinya.

Aku minta maaf jika prasangkaku salah. Bukan karena aku tak membiarkan dia untuk bisa berteman denganmu. Tapi aku tak tahan melihatnya. Maafkan aku yang egois dan tak memberimu kesempatan sedikitpun. Aku percaya, diluar sana banyak yang membutuhkan dan menginginkanmu. Namun bukan dia. Dia kekasihku yang bukan satu dua hari aku kenal.

Aku mengenalnya sudah lama lewat hati dan menyelami sifatnya yang terkadang sulit aku mengerti. Sedangkan kamu adalah orang baru dalam hidupnya. Biarkan kami menjalani hari-hari tanpa pengkhianatan. Kau juga bisa masuk sebenarnya sebagai “teman” kami. Hanya saja kau harus memberikan kapasitas sekedarnya saja. Aku harap kau bisa mengerti maksud hatiku ini, teman. Tunggulah pangeran yang akan menjemputmu, tapi bukan kekasihku orangnya.