Masih jelas di kepala bagaimana awal kau dan aku berjumpa. Obrolan singkat hari itu seperti menyihirku untuk berusaha dekat denganmu lebih lama. Entah dari mana pada akhirnya kau dan aku dekat satu sama lain. Kau dengan gaya khasmu; cuek seperti biasa, tapi candaanmu yang absurd di telinga tak pernah gagal membuatku tertawa.

Bersama kamu, dunia seperti berhenti sementara, mempersilakan aku untuk terus mengagumimu tanpa jeda.

Kau ingat bukan saat pertama kali kau mendatangiku? Hari itu debaran hatiku mulai tak menentu. Senyumku tak pernah sekalipun berhenti saat berdua bersamamu. Lalu tanpa komando, kita sepakat memilih akhir pekan sebagai waktu untuk kita saling melepas rindu. Karena jarak saat itu menjadi sekat di antara kau dan aku.

Pesan singkat dari mu adalah rutinitas yang ku tunggu setiap hari. Ucapan selamat pagi yang datang dari kamu, entah kenapa terasa manis sekali. Membuatku tersenyum hingga membacanya berulang kali. Lalu sebagai gantinya ku balas beberapa baris puisi sekedar mewakili isi hati. Sesekali ku bergumam pada Tuhan; semoga bahagia ini tak lantas serta merta pergi.

Aku merinduimu dengan gila, mencintaimu dengan keras kepala.

Advertisement

Ketika kau mulai jarang memberiku kabar, atau terkadang pesan singkat yang ku kirim hanya kau baca tanpa berbalas seperti tempo hari, kau hanya bilang sedang sibuk kala itu. Aku pun dapat menerima alasanmu dengan lapang dada tanpa banyak kata.

Satu hari. Dua hari. Entah sudah berapa ratus kali aku menunggu mu untuk kembali seperti dulu lagi. Jangankan meminta untuk bertemu, menerima pesan darimu seperti hal yang paling ajaib saat itu.

Sesekali aku mulai gusar. Apa mungkin rindumu sudah memudar? Atau perasaanmu hanya tengah menyisakan samar? Segala terka tentangmu meninggalkan aku dengan mata sembab dan hati yang mulai nanar.

Hingga aku datang pada satu kesimpulan; kau memilih menghilang, seperti senja yang ditenggelamkan malam.

Tapi Tuhanku memang baik! Patah hatiku kali ini membuatku lekas tersadar. Barangkali kisah yang belum tumbuh bunganya ini harus ditebas hingga akar.

Aku tak lagi menunggumu seperti dulu. Kini hanya doa-doa baik yang bisa ku berikan sebagai pengganti di kala merinduimu. Atau permohonan maaf karena beberapa perihal tak dapat terulang lagi seperti waktu itu.

Kelak, saat kau akhirnya sadar, kau tak perlu repot lagi mengirimiku kabar. Cukup kau ingat baik baik, bahwa dulu pernah ada gadis yang mencintaimu dengan sabar.