Yang terkasih, Indonesia

Apa kabarmu hari ini, Indonesia? Semoga aku mendapatkan kata “baik” yang terucap darimu. Semoga saja itu jujur. Karena aku hampir bisa mendengar suara seorang paruh baya saat kamu mengucap “baik”. Tapi, jujur atau tidak itu bukan persoalan bagiku, sebab kamu juga tidak mempersoalkan apa-apa di diriku ini. Karenanya, lewat surat ini aku hanya ingin kita ngobrol sana dan sini. Sekadar pengisi di waktu luang yang sayang untuk dihambur-hamburkan. Jadi, mulai darimana kita?

Indonesia, namamu itu enak sekali saat aku ucap. Setidaknya begitu bagi mulutku. Lidahku tidak perlu sampai naik-naik ke atas kemudian terjun bebas hanya untuk mengucap sebuah nama. Bibirku pun tidak perlu dimaju-majukan atau dibuat sedemikian rupa hingga tidak menyerupai bibir lagi, hanya untuk mengucap sebuah nama. Coba sekali lagi aku sebut namamu, Indonesia. Benar-benar mudah bagiku untuk menyebutnya. Tapi sekali lagi aku tekankan, setidaknya begitu bagi mulutku.

Andai kata, kalau namamu bukan Indonesia, maka akan diberi nama apa ya? Aku tidak habis pikir masih ada nama yang lebih baik dari namamu, Indonesia. Setidaknya begitu bagi pemikiran saya. Namamu itu sudah sangat pas. Pemberi namamu pastilah hebat, diantara banyak huruf yang ada, dipilihlah huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A. Kalau aku pikir-pikir, benar-benar luar biasa sekali. Aku pun percaya, bahwa kamu bangga menyandang nama itu, nama hebat yang diberi oleh orang-orang hebat. Dan aku pun bangga bisa mengucap namamu dengan baik dan benar, sesuai apa yang diharapkan sang pemberi nama. Bukan karena kamu yang bangga menyandang nama itu, melainkan karena kecintaanku padamu yang buatku bangga mengucap nama itu, Indonesia.

Kalau aku berbicara denganmu, selalu saja aku teringat dengan beberapa hal. Pertama, setiap kusebut namamu, selalu saja terbesit soal burung garuda. Entah kenapa, kamu dan burung garuda selalu ada dipikiranku. Aku tidak tahu, dari sekian banyak jenis burung di dunia ini, kenapa hanya burung garuda saja yang terpilih. Aku tidak habis pikir, kenapa, kenapa, dan kenapa. Tapi aku pun tidak habis pikir, kamu dan burung garuda begitu cocok. Serasi sekali bahkan menurutku. Seolah memang sudah ditakdirkan kamu dan burung garuda adalah dua hal yang disatukan.

Advertisement

Kedua, hal yang selalu ada diotakku ketika berbicara dengan atau tentangmu adalah warna merah dan putih. Jujur, aku tidak tahu kenapa juga dari sekian banyak warna yang tersaji di bumi ini, kenapa hanya merah dan putih saja yang melekat padamu. Tapi aku pun harus jujur, mataku begitu suka dengan kecocokan antara kamu dan warna merah serta putih itu. Mataku memang minus 2,5 sehingga aku diharuskan menggunakan kacamata, tetapi hal tersebut tidaklah membuat aku menjadi bodoh. Aku tetap bisa tahu bahwa merah dan putih adalah warnamu, dan itu begitu indah bagi mataku. Dan berkatmu juga, aku jadi menyukai warna merah dan putih. Begitu sederhana, tapi selalu membuatku merinding ketika ia berkibar di langit.

17 Agustus 2016, yang jatuh pada hari Rabu, adalah harimu, Indonesia. Aku, dan banyak orang di sini akan merayakan harimu, Indonesia. Tidak terasa ya, sudah 71 tahun umurmu. Kalau kamu seorang manusia seperti aku ini, 71 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Lansia, kalau aku dan banyak orang di sini menyebutnya. Tapi kamu berbeda, karena kamu bukanlah manusia seperti aku dan banyak orang disini.

Sudah banyak orang yang merasakan kenikmatan padamu. Tidak sedikit juga orang yang merasakan ketidakbernikmatan padamu. Tak terhitung jumlahnya orang yang sudah meninggalkan kamu. Serta banyak pula orang yang lahir di kamu. Pokoknya, aku dan banyak orang di sini sangat berhutang besar padamu. Kadang malah aku berpikir, sebanyak apapun umurku nanti, tidak akan pernah cukup untuk membalas budimu. Tapi aku berpikir, setidaknya selama hidup ini, aku akan berusaha membalas kebaikanmu sebaik mungkin.

Sebenarnya aku tidak ingin obrolan ini diakhiri dengan kesedihan, tapi kalau memang air mata harus menetes, kenapa mesti juga ditahan. Aku jadi teringat akan sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering aku dengarkan lewat telepon pintarku ini. Penyanyinya adalah Marcel. Ia menyanyikan sebuah lagu berjudul “Takkan Terganti”. Lagunya benar-benar mewakili perasaanku padamu. Aku kutip saja bagian reff-nya, sepertinya ini,

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan

Semua tak 'kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku

Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta

Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti

Kamu tak akan terganti, begitulah kira-kira rasa yang ingin aku utarakan padamu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, setidaknya di hidupku begitu. Karena bagiku, kamu berbeda. Kamu tidak sama dengan yang lainnya. Kamu punya hal yang membuatku jatuh cinta. Apa yang kamu punyai? Cinta. Kamu punya cinta yang membuatku jatuh cinta.

Sepertinya sudah terlalu lama kita mengobrol kesana dan kesini. Banyak hal yang sedari tadi aku bicarakan, tanpa pernah kamu membalasnya. Lagi pula, aku tidak bisa lama-lama berdiam diri di sini. Bukan karena aku tidak ingin berbicara lebih lama denganmu. Hanya saja, ada hal yang harus aku lakukan sebagai seorang manusia dan pemuda. Yaitu menjadikan kamu lebih baik daripada yang sekarang. Sebelum aku akhiri obrolan ini, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang berbangga akan tanah airnya, tapi aku bangga bertanah kamu, Indonesia. Tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang berbangga akan bangsanya, tapi aku bangga berbangsa kamu, Indonesia. Dan tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang berbangga menguasai banyak bahasa, tapi aku bangga berbahasa kamu, Indonesia. Itu bukanlah sebuah janji dariku untuk kamu. Tapi itu prinsip yang aku dapatkan sejak lahir.

Sebagai penutup, izinkan aku sekali lagi mengutip sebuah lagu yang mewakili perasaanku padamu. Judulnya “Rayuan Pulau Kelapa”. Lagu bagus lainnya yang sangat indah untuk kamu. Ku kutip sedikit saja untukmu,

Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa. Sejak dulu kala

Baiklah, karena bendera merah putih sudah siap untuk dikibarkan. Lagu Indonesia Raya pun sudah siap untuk dikumandangkan. Maka, apa lagi yang ditunggu?

Kepada, bendera merah putih, hormat gerak!

Sekian.

Yang mengasihimu, Warga Negara Republik Indonesia