Halo, apa kabar?

Apakah kau masih mengenalku? Kuharap jawabannya iya. Tapi, kalaupun tidak, aku maklum. Karena ini adalah cerita lama, sekitar setengah dekade yang lalu. Di dalam hati, pasti kau bertanya-tanya tentang surat ini. Siapa pengirimnya adalah yang paling kau ingin tahu jawabannya. Ya, pengirimnya adalah aku. Aku dari sebuah kisah sederhana di tepi pantai.

Kisah itu bernama persahabatan.

Di suatu hari, pantai yang sunyi dan sore yang jingga itu adalah saksinya. Dimana hanya ada aku yang sering berada di situ. Berlatih menggiring bola di tengah pasir pantai. Ya, aku terlalu serius dalam kegiatanku itu, sampai tak menyadari dirimu yang sedang menikmati tenggelamnya mentari senja. Setiap hari, tanpa ada tegur sapa di antara kita. Aku yang asyik dengan bola, dan kau yang asyik dengan senja.

Sampai suatu ketika, bolaku tertendang. Sedikit ke kanan saja, ia mengenaimu. Karena merasa bersalah, aku mendatangimu untuk memastikan kau baik-baik saja sekaligus meminta maaf. Namun, aku malah terkejut melihatmu.

Advertisement

Tadinya, kupikir kau adalah gadis ceria yang sedang menikmati senja.

Ternyata, kau adalah gadis yang sedang berurai airmata, mencoba tegar di hadapan sang surya.

Sempat kutanya mengapa, kau malah memalingkan muka. Lalu entah terbawa suasana, aku malah asal bicara di hadapan kau dan mentari senja.

Tak seharusnya kau bersedih di hadapan matahari yang senantiasa menyinari tanpa lelah.

Kau melihatku dengan mata berkaca itu dan memberi isyarat agar aku duduk di sampingmu.

Lalu, kau bersandar kepadaku. Mulai menumpahkan cerita dan tangis mengenai sebuah memori bersama orang yang salah.

Kisah pilumu itu terus kau ceritakan sampai arus mulai pasang dan matahari mulai terbenam. Semua yang dulunya merupakan tawa dan canda, mendadak berubah setelah dia pergi. Dia pergi setelah mengambil segalanya darimu, termasuk hatimu dan yang paling berharga.

Harga dirimu.

Hatiku tergugah oleh kerapuhanmu. Dan entah kenapa, aku ingin sekali membuatmu kembali seperti dulu. Walau aku tak tahu siapa dirimu, dan kau tak tahu siapa diriku.

Dan setelah hari itu, yang ada hanya langkah kaki kita berdua di sepanjang pantai. Aku mengajarimu menendang si kulit bundar untuk mengusir gundahmu. Dan kau melakukannya dengan buruk sekali, yang menyebabkan kau tiba-tiba tertawa karenanya. Karena penasaran, yang ada kau malah melakukannya terus menurus sampai matahari sudah tinggi dan sampai perut sudah kelelahan karena gelak tawamu yang tak berhenti.

Dan sebagai gantinya, kau mengajarkanku berenang mengarungi lautan ketika matahari sudah mulai terbenam. Dan lagi-lagi kau tertawa, kali ini karena kepayahanku untuk sekedar mengambang. Kali ini aku tak tertawa, tapi sedikit kesal dan geli karena aku tak bisa melakukannya sebaik dirimu. Tapi, jauh dari lubuk hati, aku sangat senang dan bersyukur. Melihatmu kembali riang dan ceria.

Hari-hari selanjutnya diisi dengan lebih banyak keceriaan lagi. Langkah-langkah kaki yang makin bersemangat menjalani hari. Memori yang pelan-pelan terlupakan. Tawa yang makin melebar. Dan, gutaran senyum yang seindah senja.

Syukurlah, kau telah kembali ke dirimu yang dulu.

Dan aku harus kembali ke daerah asalku setelah hari-hari indah itu. Maklum, aku ke daerah itu hanya untuk mengisi liburanku di tempat pamanku. Tentunya kau bersedih, tapi aku tak ingin kau begitu.

Tetaplah tersenyum untuk segala hal di dunia ini, baik yang indah maupun yang keji.

Dan kau melepasku di senja yang lebih indah sewaktu kita pertama kali bertemu. Dan berjanji, akan memberiku kabar selalu.

Aku pergi meninggalkanmu, pantai yang indah, senja yang jingga, dan kenangan yang tak akan pudar oleh masa.

Sewaktu di sana, aku selalu menunggu kabarmu. Menunggu ceritamu tentang kepayahanmu menendang bola dan sudah sejauh apa kau berenang mengarungi lautan.

Tapi entah kenapa, tak ada kabar yang datang, barang sepucuk surat.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan.

Tak ada kabar darimu.

Karena itu, pada liburan selanjutnya, aku tak sabar untuk mengunjungimu lagi.

Tapi, hasilnya tetap sama.

Kau tak ada.

Yang kudengar, kau dan keluargamu pindah entah kemana. Tepat sebulan setelah aku meninggalkanmu.

Kini gantian, akulah yang nelangsa bersama dengan senja. Bertanya-tanya, dimanakah dirimu berada.

Setiap tahun aku ke tempat yang sama, tetap tak ada kau di sana. Hanya pantai yang indah, senja yang jingga, dan kenangan yang mulai pudar dikikis masa.

Tapi, suatu hari, tepat 5 tahun, aku kemari. Dan bertanya lagi untuk yang entah keberapa kalinya. Syukurlah, aku menemukan tempat dirimu. Sambil menahan perasaan yang sudah mau meluap, aku menyeret kakiku menuju tempatmu, di ujung tepi pantai. Ya, kau ada disitu.

Sulit untuk menggambarkan perasaanku. Senang, gembira, pilu sekaligus sendu bersatu padu. Aku duduk di sampingmu. Namun, kita hanya terdiam lama sekali. Sampai tak sadar, senja kembali terbenam di pantai ini. Tapi, ada satu hal yang tak kau sadari.

Aku menangis, sama sepertimu waktu pertama bertemu.

Tapi tenang saja, ini bukan tangis sedih seperti dirimu waktu ini. Tangis ini diisi separu rasa bahagia, seperempat rasa lega, dan separuh rasa sesal. Bahagia, karena telah bertemu denganmu. Lega, karena aku tahu tempatmu sekarang dan untuk selamanya. Dan menyesal, karena aku bertemu dengan dirimu yang sudah berada dalam pusara.

Tangisku tak mau berhenti waktu aku menyadari. Namun, aku teringat lagi atas perkataanku kepadamu.

Tetaplah tersenyum untuk segala hal di dunia ini, baik yang indah maupun yang keji.

Dengan sekuat tenaga, aku memberi bunga dan memanjatkan doa. Kemudian berjanji, akan selalu mengunjungimu.

Dengan airmata yang masih berurai, aku kembali dan menyusuri jalan yang dulu biasa kita lewati. Mengingat memori, langkah kaki, dan persahabatan yang dulu pernah ada.

Kuharap kau tetap tersenyum bahagia, seperti terakhir kali aku meninggalkanmu. Tak peduli, dimanapun kau berada.

Semoga selalu begitu, hei kau.

Gadis Senja Tepi Pantai.