Dirimu yang sempat bersua dan bersuara denganku, kini aku hanya bisa memejamkan mata sembari mengenang sebersit bayang yang sempat terekam. Dirimu yang bertemu denganku dalam sebuah kesempatan yang terbatas akan waktu, kini rindu mulai membantai jiwaku, menjadi candu dalam pikiranku, dan membuatku seakan gila.

Untukmu yang sempat bersua denganku, aku masih mengingatmu

Mungkin bagimu, perjumpaan itu hanyalah satu kesempatan biasa di antara ribuan perjumpaanmu dengan orang baru lainnya. Namun, ketahuilah bahwa aku menganggap perjumpaan itu adalah anugerah Tuhan. Aku yang sempat menatap matamu dengan malu. Aku yang sempat bersuara denganmu, merenda kalimat pendek dan membuka bahasan yang sederhana.

Aku yang masih mengingatmu, bahwa dirimu adalah orang pertama yang ingin mengenalku dalam pertemuan itu, di antara puluhan orang lainnya. Mungkin bagimu pertemuan itu adalah secuil kenangan biasa di antara jutaan kenangan dan perjalananmu di tengah belantara hutan dan gunung. Namun, bagiku pertemuan itu adalah pintu gerbang terbesar untukku mengenal dunia lebih luas, rimba lebih buas, dan gunung lebih tinggi -tentu karena mengenalmu.

Dalam kerinduan dan dinginnya malam, rindu selalu singgah

Tuhan memang senang permainkan hambaNya. Namun, ini bukan sekedar permainan yang fana, tapi ini benar-benar nyata. Tuhan sepertinya selalu menggariskan jalan terbaik bagi umatNya. Tersadar atau tidak, rindu ini pula adalah hasil dari pertemuan yang tak lain ialah permainan Tuhan. Rindu yang datang, isarat bahwa aku ingin kembali bersua dan bersuara, melengkapi kenangan yang semakin lengkap dan utuh.

Kerinduan memang menyesakkan, aku pun terjebak dan terjerembab

Dalam segenggam kata berupa niat. Dalam sejumput rasa dan asa. Kerinduan yang kusematkan, dalam setiap jengkal selepas pertemuan, dalam seberkas bayang yang sempat kupandang, dalam kantong dan hati, dalam kata dan do'a, dalam segala pengharapan.

Advertisement

Rindu yang menyesakkan. Rindu yang membuatku berhenti sejenak, dan menyelam dalam untuk mengingatmu yang masih selalu dalam ingatanku. Sepertinya aku terjebak dalam rindu yang tak berkesudahan. Hingga aku sulit lupa, siapa yang aku rindukan?

Aku mencarimu untuk mengungkapkan semua rasa ini, rasa dendam dan benci atas rindu tak berbalas

Akulah wanita yang kuat memandang segala arah untuk menemukanmu. Aku mencarimu untuk mengungkapkan semua rasa ini, rasa dendam dan benci atas rindu tak berbalas. Dirimu, lelaki yang sempat membuatku terperangah dan merasakan cinta yang tak biasa, rindu yang luar biasa.

Akulah wanita yang sempat memandangmu dengan malu dan kini merindu. Aku wanita yang dulu sempat menaruh hati dan kini terjatuh karena tak satupun hal yang aku lakukan kau juga lakukan. Aku wanita yang telah lupa pada lelaki yang sama yang pernah aku cinta dan impikan. Aku wanita yang sama, yang hingga kini masih menyimpan rindu yang membuncah dari seorang lelaki yang dengan lirih mengatakan "Wah kamu hebat,"

Terkadang kita perlu bersua, berbincang seadanya, tapi dapat menumbuhkan bahagia.

Rindu yang singgah bukan tanpa alasan. Tapi rindu juga bukan berarti aku ingin segalanya dan menghakimi dirimu atas hakmu. Tapi rindulah yang membuatku selalu ingin bersua dan berbincang sedikit atau banyak, agar perjumpaan kita dulu bukanlah sia-sia. Dan kerinduan tidak selalu berbuah cinta, terkadang rindu hanya butuh pertemuan kembali, berkomunikasi lagi, atau membuat kenangan lagi.

Rindu ini juga bukan skeptis antara cinta dan sayang, tapi rindu ini ialah rasa yang melahirkan keinginan untuk kembali berjumpa, bersuara, dan tertawa bahagia.

Aku bukanlah penjelajah, penikmat, dan pecandu perjalanan sepertimu. Tapi aku tahu, kau selalu menyimpan rindu juga. Walau bukan padaku

Perjalananmu bukanlah yang pertama dalam hidupmu, bukan juga kesempatan langka bagimu. Tapi alam mungkin sebagai pelarianmu atas kerinduanmu, terhadap siapapun walaupun bukan aku. Aku pun tahu itu, dan aku pun tak ingin menyamaimu, hobimu, tingkahmu, dan kebiasaanmu.

Aku adalah aku, rinduku adalah padamu, tapi aku dan dirimu berbeda. Maka, untukmu sang petualang rimba aku sematkan rinduku dalam setiap jengkal jejak kakimu, dan do'a di ujung pencapaianmu yang selalu kau rindukan.

Dalam kata dan do’a bahwa semuanya akan berakhir bahagia, dalam pinangan mesra berlandaskan cinta

Aku hanya dapat berdoa dalam setiap sujudku, untuk sekedar berkirim pesan rindu kepada Tuhan bahwa aku sedang berdosa karena merindukan selainNya. Namun, dalam hati seorang wanita perindu, dalam kata dan do'a bahwa semuanya akan berakhir bahagia, dalam pinangan mesra berlandaskan cinta adalah pengaharapan terakhir dalam hati.

Hanya sekadar menenangkan hati yang kian berkecamuk, bahwa rindu dapat benar-benar membunuh dirimu pikiranmu, hingga logika mati rasa. Hanya dalam kata dan do'a, bahwa rindu ini tidak membawa mala dan petaka, tapi justru menumbuhkan suka dan cinta.

Dalam kerinduan yang kusematkan di setiap tadahan tangan dibawahNya, aku selalu ingin bertemu. Dari wanita perindu, untukmu laki-laki yang sama yang sempat meraih perhatian dariku.