Benar saja, waktu seakan cepat berlalu ketika aku bersamamu. Tak perduli kapan dan bagaimana kita bisa bertemu. Tak perduli bagaimana proses kita saling mengenal dan lalu kemudian merasa saling nyaman. Hanya satu yang tertinggal, yaitu kenangan. Kenanglah masa-masa saat kita bersama, memori penuh arti yang tentu saja terekam di kepalamu. Mata dan telinga kita saling merekam, saat kita merasa senang lalu tersenyum, saat kita merasa bahagia lalu tertawa, saat kita merasa sedih lalu merenung, bahkan menangis.

“Suatu hari kita akan terpisah.” Inilah kalimat yang aku takutkan. Terpisah memiliki banyak arti, seperti terpisah karena jarak, terpisah karena tidak ada koneksi, terpisah karena teman baru, terpisah karena pernikahan, kematian dan banyak lagi penyebab perpisahan yang lain.

Pada suatu masa yang jauh dari masa saat kita bersama, kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada, kita merasa rindu akan suasana itu. Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan kita menjadi asing. Suatu hari anak-anak kita akan melihat foto-foto kita dan bertanya, “Siapa mereka semua itu?” dan kita tersenyum dengan air mata yang tak nampak kerena hati kita terusik dengan kata yang sayu, lalu kita akan berkata dalam hati kecil kita “Dengan mereka lah ada hari yang indah dalam hidup.”

Dalam hidup, teman datang dan pergi silih berganti. Inilah hidup, seberapa banyak orang yang datang dan pergi menyakiti dan membahagiakan kita, ambil saja pesan di balik itu semua. Waktu dan kehendak Tuhan akan mengungkap, siapa yang benar-benar membahagiakan hidup kita, yaitu pasangan kita masing-masing. Tapi bukan berarti saat kamu sudah menemukan pasanganmu, lalu kamu lupa akan temanmu. Teman yang dulu selalu setia menemani hari-harimu yang tak lupa mengataimu jomblo itu saat ini sedang memikirkanmu.

Aku ingin mengatakan sesuatu padamu dengan jujur seperti apa yang aku rasakan dulu saat aku masih berada dalam hari-harimu. Ketika orang terpenting dalam hidupmu saat itu adalah pacarmu, aku sebagai temanmu merasa hanya datang dan pergi saja tanpa arti. Aku berpikir bahwa teman itu tidak penting bagimu. Sadarkah kamu bahwa waktu kebersamaan kita telah tergantikan? Coba kau lihat dirimu, sadarkah betapa menyebalkannya dirimu itu?

Advertisement

Aku juga sadar aku ini menyebalkan. Mungkin aku juga sering membuatmu kesal. Maaf.

Ada saatnya kita berpisah. Pada saat itu aku pasti berubah, tak seperti dulu yang suka bersikap konyol demi membuatmu senang. Hanya satu yang aku harap darimu, jangan mengataiku telah melupakanmu dan bersikaplah seperti biasa. Seberapa penting aku bagimu, segitu jugalah pentingnya dirimu bagiku. Hanya aku yang menanyakan kabarmu. Hanya aku yang sibuk memikirkan dirimu. Hanya aku yang mencoba menghubungimu. Bukan kamu. Apakah kamu baru sadar, teman seperti apakah dirimu itu?

Teman baru, yang lebih pintar dan lebih menyenangkanmu saat ini berdatangan dalam hidupmu. Aku ini temanmu yang payah, tapi aku yakin kamu lebih memahami karakterku dibanding teman barumu itu. Pesanku, kamu berhati-hatilah dengan orang baru dalam hidupmu. Dan semoga bukan hanya aku yang tulus kepadamu.

Aku sama sekali tidak memintamu untuk menjadi teman yang sempurna. Pedulikah kamu terhadap temanmu? Apakah kamu tahu temanmu masih hidup ataukah sudah mati? Bisakah kamu menghubungi temanmu terlebih dahulu? Bisakah kamu menanyakan kabarnya? Apakah kamu merindukannya?

Aku tak akan melupakanmu, teman. Semoga kamu juga berpikir begitu.