Malam ini ku masih terduduk depan laptop ku, ditemani sebungkus roko dan secangkir kopi. Ya hanya dua barang itu yang menjadi teman ku akhir-akhir ini, hp ku pun sunyi tak ada nada dering yang berbunyi. Kesepian ini sungguh mengajarkan banyak hal, bagaimana kita harus menghargai setiap waktu kebersamaan entah bersama keluarag, teman, sahabat atau seorang kekasih. Mungkin kita tak pernah begitu menyadari betapa berharga nya mereka ketika mereka selalu ada bersama kita. Semua telah terjadi dan aku tak boleh dan haram hukumnya untuk menyesali semua yang telah terjadi. Yang bisa kulakukan hanya belajar dari semua kesalahan ku dan mencoba membuka semua lembaran baru. Mungkin kamu tidak benar-benar hilang dari hidupku, dan kamu masih indah, tersimpan rapih dalam hati ku, kamu hanya sedang aku titipkan didalam hati orang lain yang lebih baik dari ku. Dan mungkin aku akan kembali datang untuk mengambilnya atau pun aku relakan selamanya karena kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi didepan.

Sekarang aku hanya ingin mempersiapkan dan memantaskan diriku, aku hanya ingin memperbaiki diri, mengubur semua kesalahan ku, membuang semua kebodohan ku. Dengan mu aku belajar bagaimana kita harus menghargai, bagaimana kita harus mengurangi ego kita, karena dalam setiap hubungan harus ada salah satu yang mengalah. Ketika aku bersama mu ego ku terlalu besar untuk sekedar mengalah kepada mu, selalu kau yang mengalah untuk ku. Ego memang tidak mudah kita taklukan namun seharusnya ego bisa kita kalah kan dengan rasa cinta, karena mengalah untuk seseorang kita sayang adalah sesuatu keindahan. Karena jika kita melihat sesorang yang kita cinta bahagia maka secara otomatis kita akan merasakan kebahagian yang sama. Tapi ketika ku bersama mu ego ku lah yang menang, namun itu semua bukan berarti aku tak cinta dengan mu. Mungkin aku terlalu dimanjakan oleh mu dengan sikap mu yang selalu mengalah yang menjadikan ku orang yang apatis terhadap mu.

Kebesaran hati mu sangat-sangat memanjakan ku dalam banyak hal yang membuat ku lupa diri, bahwa kau pun butuh perhatian, butuh dimanjakan. Aku hanya memikirkan diri ku sendiri, dan saat ku harus kehilangan mu, aku sangat menyadari bahwa kau sangat tersakiti menjalani hubungan dengan ku, namun karena cinta mu yang besar untuk ku, kau mengorbankan segala bahagia mu. Kata maaf sudah tak cukup untuk membayar semua rasa sakit mu terhadap ku. Cinta yang dulu menghidupkan relung hati ku sudah digunakan untuk menghidupkan relung hati orang yang memang pantas dapatkan.

Detik, menit bahkan tahun ku jalani tanpa cinta mu, sudah tiga tahun ku berjalan tanpa mu. Sepi dan kosong yang ku rasa. Namun itu semua tidak membuat ku mundur, ku jadikan itu sebagai semangat untuk menjadi lebih baik, bukan untuk diri ku sendiri. Kulakukan semua itu untuk keluarga ku dan untukmu. Mungkin perpisahan ini jalan terbaik, agar ku lebih mempersiapkan diriku untuk memantaskan diri bersanding denganmu.

Disini ku tengah mengejar karir yang lebih dan berusaha menjadi yang lebih lagi, ku terus belajar dan belajar agar ketika diriku menjemputmu wawasan ku lebih luas lagi, sehingga ketika ku dipertemukan sahabat-sahabat mu mereka bangga dengan ku. Dan ketika ku bertemu dengan keluarga mu, mereka tidak ragu menerima ku sebagai calon menantunya yang bisa dibanggakan didepan relasi dan keluarga besarmu.

Advertisement

Dan ketika nanti aku sudah siap menjemput mu kau sudah dengan yang lain, dengan kepala tegak aku menerima semua keputusan mu. Hanya doa yang bisa ku berikan agar hidup mu dipenuhi cahaya kebahagian, karena kau memang pantas mendapatkannya. Aku percaya jodoh, rezeki dan kematian sudah diatur oleh tuhan. Ketika diriku merasa kamu yang aku ingini dan kamu yang selalu ada dalam setiap doa ku bukan untuku, aku yakin tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang memang aku butuh kan.

Karena arti dari cinta adalah mengikhlaskan.