Bersama teman-temanku, kami berenam sangat antusias untuk plesiran ke Pulau Sempu, karena memang di saat itu, kepopuleran Pulau Sempu lumayan banyak dibicarakan orang-orang. Seperti biasa, untuk menempuh ke Pulau Sempu, terlebih dahulu kita harus menuju ke Pantai Sendang Biru, karena Pantai Sendang Biru ini merupakan satu-satunya akses yang bisa menuju ke Pulau Sempu.

Setelah lamanya perjalanan yang sudah ditempuh selama tiga jam, akhirnya sampailah kami di Pantai Sendang Biru. Sesampainya di sana, kita menyempatkan parkir sepeda motor di dekat pelelangan ikan, karena di sini kendaraan sepeda motor bisa menginap seharian semalam yang tentunya dijaga oleh warga.

Setelah itu, kami bertemu dengan salah satu nelayan dan pemandu wisata Sempu yang memang kebetulan juga menawari kami untuk berlayar ke Pulau Sempu. Beliau menawari kami untuk menuju ke Pulau Sempu, setelah bernegoisasi yang cukup lama soal harga, akhirnya kami menyepakati.

Kami semua segera masuk ke perahu, ketika kami naik, perahu pun bergoyang-goyang dan bagi kami yang baru pertama kali berlayar memang cukup mengerikan naik perahu ini karena bisa jadi perahu ini terguling. Tapi tidak perlu khawatir, pada akhirnya memang kami bisa menaiki perahu dengan aman.

Setelah semua sudah di perahu, mesin penggerak perahu mulai dinyalakan, lalu berlayarlah kami menyeberangi laut Sendang Biru. Selama berlayar, kami sangat senang sekali, jarak tempuh selama kurang lebih setengah jam kami manfaatkan dengan berfoto-foto ria di perahu, bersama nelayan, melihat birunya laut, merasakan hembusan angin yang menerpa wajah, semua itu kami dapat menikmati dan sepertinya secara tidak langsung keadaan takut berlayar pun sudah sirna.

Advertisement

Ketika kami hampir tiba di Pulau Sempu, seketika mesin berhenti berdesing dan perahu berhenti berlayar, tetapi tidak berhenti sampai ke tepi Pulau Sempu, melainkan jauh dari tepi Pulau Sempu. Menurut beliau, laut Sendang Biru sedang surut dan memang kebetulan hari itu di siang hari, jelas saja perahu enggan menepi di sana. Pada akhirnya mau tidak mau kami turun dan tak lupa diberi tahu oleh beliau bahwa beliau akan menjemputnya kembali ketika kami balik, kami pun senang.

Setelah itu kami berenam berjalan di genangan air laut setinggi lutut orang dewasa. Terus berjalan sampai kita tiba di Pulau Sempu, tak lupa kami disambut oleh hutan mangroves. Walaupun kami lelah namun belum berarti kita sudah berhenti, kami di sini menikmati hijaunya alam Pulau Sempu sekaligus memanfaatkan waktu dengan berfoto-foto ria kembali, ya sepertinya berfoto-foto ini tidak terlewatkan begitu saja karena momen-momen inilah yang harus diabadikan untuk kenang-kenangan nanti.

Setelah itu kami semua bertanya-tanya, dimanakah surga tersembunyi yang dimiliki oleh Pulau ini? ternyata masih harus menempuh perjalanan lagi dengan menembus hutan tropis yang ku rasa cukup lebat. Tak lupa di sini kami dipandu oleh pemandu wisata yang begitu setia menemani kami, ya bagaimana tidak karena apabila kami menyelusuri hutan ini tanpa pemandu wisata maka yang jelas kami akan tersesat dan tak tahu arah jalan, cukup mengerikan.

Menurut beliau, untuk menempuh ke surga yang tersembunyi itu, kita harus melewati hutan tersebut selama kurang lebih satu jam. Kupikir itu tidak terlalu jauh dan terasa mudah sekali, sama seperti teman-temanku yang lain. Baiklah, kami pun bergerak jalan dan selamat datang di cagar alam hutan Pulau Sempu.

Kesan pertama setelah masuk kawasan hutan, jalanan berupa tanah becek lambat laun berlumpur karena kata pemandu kami di saat kemarin Pulau Sempu diguyur hujan dan jelas saja tanah menjadi berlumpur. Kami terus berjuang melewati medan jalan berlumpur, menanjak, menurun dan sulitnya menembus hutan yang begitu lebat ini. Ketika semua rintangan kami hadapi, terlihatlah surga tersembunyi tersebut, yakni biasa disebut Segara Anakan.

Segara anakan berupa danau yang berada tengah Pulau Sempu yang airnya bercampur dengan air laut, jadi bisa dibayangkan antara air laut dan air tawar menyatu. Air danaunya yang begitu hijau dan jernih membuat kami terpesona akan keindahannya.

Sesampainya di sana, kami pun bergegas membangun tenda dan meletakkan beberapa peralatan kami, setelah itu kami bergegas ke danau Segara Anakan dengan perasaan puas dan bahagia. Tidak bisa dibayangkan betapa indahnya pemandangan ini, mahakarya ciptaan Tuhan memang selalu membuat umatnya berfikir bahwa ciptaannya memang sungguh luar biasa, sampai-sampai aku sangat bersyukur sekali masih bisa menikmati keindahan alam ini.

Air danau ini terasa segar ketika sore hari, tetapi begitu di malam dan pagi hari air danaunya berubah suhu menjadi begitu hangat, sungguh luar biasa fenomena ini sampai-sampai aku berenang dan terhanyut suasana nyamannya berada di Pulau ini. T

ak lupa kami berfoto-foto ria sepuas mungkin, sepuas-puasnya sampai bosan. Bagaimana tidak, Segara Anakan ini merupakan surga tersembunyi yang mungkin hanya dimiliki oleh Pulau Sempu. Kami merasa bahagia sekali bisa sampai menikmati dan bersenang-senang di sini, dengan menginap di tenda, bersenda-gurau bersama, melihat bintang-bintang di langit, api unggu dan makan malam bersama.

Hari sudah pagi, udara begitu dingin, bersama teman-temanku, kami semua beranjak keluar dan menuju batu karang tepian Pulau Sempu. Sesampainya di tepian ini tak disangka, aku melihat bentangan samudra biru luas yang indah disambut dengan sunrise. Ombak laut selatan yang begitu ganas, berdebur kencang menghantam batu karang, aku begitu takjub dengan panorama luar biasa indah, dan sekali lagi aku terus bersyukur.

Hari mulai siang, kami turun kembali ke tenda untuk sarapan dan ganti baju. Setelah semua kegiatan selesai, kami berkemas-kemas. Hari terakhir kami plesiran di Pulau Sempu, terasa berat sekali dan enggan mau meninggalkan tempat ini, seolah-olah ada magnet tersendiri yang terus menyihir kami. Mau tidak mau, kami segera pulang.

Seperti biasa kami harus melewati ekstremnya akses jalan di hutan Sempu ini, dengan bersusah payah, sampai tergenang lumpur, melewati tanah yang begitu becek, dan sampailah kita di hutan mangrove yang berada di tepi pantai Pulau Sempu, tempat yang sebelumnya kami pertama kali menginjak kaki di sini.

Kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan membersihkan kaki yang penuh lumpur ini. Setelah selesai salah satu temanku menghubungi Bapak Nelayan untuk menjemput kami. Hampir setengah jam berlalu, lalu kami melihat perahu beliau mendekat, sebenarnya tidak begitu dekat dengan tepi, ya sekali lagi, kami terpaksa berjalan melewati genangan air laut untuk menuju ke perahu.

Memang saat itu kami sudah sangat kelelahan, bosan dan ingin sekali cepat pulang tetapi sekali lagi, budaya narsis susah hilang dan memanfaatkan kembali momen-momen ini dengan berfoto-foto ria sampai di Pantai Sendang Biru.