Masih ingat demam Pokemon Go tahun lalu, 'kan? Penasaran nggak sama tokoh pencipta franchise sukses bernama Pokemon yang sudah ada dari tahun 90’an itu? Kalau penasaran, baca nih sejarah CEO Game Freak!

Dalam wawancaranya dengan Time Asia, laki-laki kelahiran 28 Agustus 1965 ini menghabiskan masa kanak-kanaknya di Machida, daerah di pinggiran kota metropolitan Jepang, Tokyo. Beliau sering menangkap serangga di daerah yang dulu masih belum terjamah hingar-bingar Tokyo dengan sawah, sungai, dan hutan menghiasi pemandangan sehari-harinya. Saking sukanya beliau dengan serangga, anak-anak lain menyebutnya “Dr. Bug.”

Saat remaja, kegemarannya pada video game mulai terlihat. Tahun 1978, beliau mengaku sebagai penggemar video game Space Invaders. Selain itu, beliau juga menyadari kalau media yang membahas video game masih minim, sehingga beliau mulai membuat fanzine bernama Game Freak, nama yang kelak menjadi nama perusahaan yang beliau pimpin sekarang. Dilansir dari Siliconera, Tajiri mengurus bagian editorial. Sugimori Ken, desainer Pokemon saat ini, juga terlibat dalam pembuatan fanzine ini sebagai ilustrator.

Beranjak dewasa, alam tempat beliau menangkap serangga mulai diganti dengan hutan beton. Selain itu, beliau juga menyadari kalau anak-anak juga mulai jarang bermain keluar rumah. Kecintaannya pada serangga dan video game, serta awareness-nya dengan perkembangan zaman membuat beliau melihat sebuah peluang untuk membuat video game dengan makhluk hidup seperti serangga, bisa ditangkap, yaitu Pokemon.

Walau begitu, kesuksesan yang saat ini beliau rasakan tidak bisa langsung didapatkan. Pemrograman harus beliau pelajari dahulu selama dua tahun dan satu tahun untuk membuat video game pertamanya, Quinty, atau lebih dikenal dengan Mendel Palace di fandom barat.

Advertisement

Munculnya Game Boy makin membuat konsep video game Pokemon matang. Game link cable yang bisa dipakai untuk menyambungkan Game Boy satu dengan Game Boy lain, membuat beliau membayangkan kalau ada makhluk hidup yang bergerak maju dan mundur di kabel itu. Imajinasi itu menjadi cikal bakal konsep pertukaran Pokemon melalui kabel itu.

Pelajaran-pelajaran yang beliau dapat untuk meraih kesuksesan tidak Tajiri dapat sendiri. Beliau juga pernah berguru pada Miyamoto Shigeru, desainer game di Nintendo yang terkenal dengan karyanya Mario Bros dan Donkey Kong. Tajiri sendiri mengakui kalau Miyamoto sudah memberinya saran-saran untuk Pokemon. Selain itu, beliau juga menghormati Miyamoto.

Walau sukses, Pokemon bukan tanpa cela. Masih ada saja yang mengecam mahakarya Tajiri yang satu ini. Misalnya, di Amerika ada seorang penceramah yang menyatakan kalau Pikachu, maskot Pokemon, jahat. Belum lagi, tahun lalu ada yang menyebut kalau mahakaryanya adalah konspirasi.

Meski kecaman menerjang, Tajiri tetap melanjutkan produksi Pokemon. Terbukti, tanggal 18 November 2016, Pokemon Sun dan Pokemon Moon dirilis ke pasar. Hal ini tentu membuat banyak Pokefan senang karena franchise yang mereka gemari terus berlanjut. Forbes bahkan menyebut pada 22 Januari 2017 kalau Pokemon sudah menjual lebih dari 4.500.000 unit di Amerika.

Soal jam kerja, Tajiri sendiri berkata:

“Saya tidur 12 jam dan bekerja 24 jam.”

Dengan kerja kerasnya, Pokemon masih terus berjaya di ranah video game dengan fanbase global yang selalu setia mendukungnya.

Banyak orang yang menganggap mengikuti passion tidak bisa membawa kita ke kesuksesan dan kita harus menjadi "orang dewasa". Walau begitu, Tajiri sudah membuktikan kalau anggapan intu salah.

Jadi, yuk ikuti passion kalian masing-masing dan jadi sukses seperti Tajiri Satoshi!