Tak ada Bandung malam ini.

Kau tak percaya ketika kusebut tak ada Bandung malam ini.

Yang ada lautan manusia memuja timnas, tak ada yang teriak "Persib".

Kupikir aku sedang jatuh cinta, setelah kucari-cari orang yang mampu mencuri hatiku, ternyata tidak ada. Aku salah, aku tak sedang jatuh cinta.

Ada kegelisahan dihatiku, membuat mata enggan sayup, terlelap.

Advertisement

Ternyata kusedang memikirkan seseorang yang tempo hari kusukai. Namun sayang, dia tak berbalik menyukaiku.

Hingga pada akhirnya aku seduh secangkir kopi agar tak dapat tertidur pulas, setidaknya kupunya alasan agar bisa memikirkanmu lagi. Jika ditanya "mengapa kau belum tidur tengah malam buta?" Aku dapat menjawab "tadi habis ngopi".

Padahal tidak. Sesungguhnya aku tak lena tidur karena memikirkanmu, merindukanmu. Terpikir setiap inch wajahmu. Bening nian.

Rindu ini bukan sedang ada di Bandung, tapi rindu ini dari dasar hati yang tak dapat terselami, dalam.

Kau pikir, aku sedang ada di Bandung? Tidak. Kau salah. Aku sedang berada di alam angan bersamamu.

Tak ada Bandung malam ini. Hanya kenangan berserakan di jalan, bersimbah bersama air hujan.

Dago memang tak mungkin jatuh cinta, tapi hujan, bahkan kembali mengusik rindu. Tidakkah kau sekejap saja merindukan aku?

Ah, kembali kupertanyakan itu pada uap bau tanah Dago.

Aku rindu.

Bukan rindu Bandung–Sudah kubilang tak ada Bandung malam ini. Tapi aku rindu kau.

Bandung itu candu rindu yang akan terbeli. Tapi sekali lagi, tak ada Bandung malam ini.

Hanya ada aku, rintik hujan dan bayangmu.