Kenapa? Seakan menjadi pertanyaan yang selalu aku ungkapkan ketika permasalahan ini mulai menghampiriku, Seakan dunia berpaling akan hidupku ini, aku selalu bertanya kenapa dan apasalahku yang telah aku lakukan kepadanya sehingga dia begitu kejam untuk memberikan ujian ini kepadaku.

Tepatnya hari ini awal pembukaan tahun 2016, seakan menadi tahun yang kelam bagi kami yang sebelumnya menjalani hidup selama 2 tahun lamanya, canda tawa, kebersamaan, dan saling mengerti seakan sirnah menjadi pedih di hati, Perlahan dirinya menjauh tanpa harus aku ketahui sebab mungkin karena pihak orang ketiga dan rutinitas pekerjaan yang harus memisahkan kisah ini.

Memang 2 dua tahun bukanlah jangka waktu yang pendek dan perlu diketahui betapa lelahnya di posisi ini. Mungkin sebagian orang diawal tahun baru menyambut tahun dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun seakan tahun ini menjadi bumerang bagi diriku ini tepatnya 31 Desember menjadi akhir tahun kelam untuk menyambut tahun baru ini. Tidak kuasa untuk membendung kesedihan dengan memori kenangan tentang kita yang begitu indah untuk dilupakan dan air mata seakan mengalir menyucur tanpa menghiraukan permisi.

Dan dua tahun memang bukanlah waktu yang pendek dan bukan sedikit momen-memen indah yang sudah banyak tercipta, di waktu susah berbagi cerita, menangis bersama ketika dunia tidak berpihak kepada kita, sebalinya ketika hari baik bersama kita selalu menghabiskan waktu bersama untuk mengabiskan waktu seperti kuliner dan travel bersama, disana menjadi dunia milik kita berdua.

Kita memang pasangan yang bahagia, meski belum dalam ada ikatan pernikahan namun kita mencoba untuk membangun hubungan dengan serius, di ruang sudut sempit rumah kecil ini seakan menjadi saksi bisu kebersamaan kita untuk menjalani hari demi hari untuk menyongsong masa depan.

Advertisement

Janji dan angan-angan selalu terungkap ketika berbincang sambil menikmati makanan, membangun rumah adalah target kehidupan kita nanti kelak untuk anak kita setelah menikah nanti, tempat pre-weed, dekorasi, surat undangan dan persiapan sudah kita rencanakan sejak dini. Senyum dan tawa seakan mewarnai angan-angan dalam kebersamaan, dari sini menabung bersama menjadi pilihan kita untuk meraih mimpi indah ini.

Kebersamaan ini membuat aku tidak peduli tentang kamu, tidak peduli kata orang dan tidak peduli waktu yang akan aku berikan untuk kamu, karena aku sadar kamu adalah masa depanku. Karena aku sadar dengan kebersamaan ini aku sangat yakin tuhan sudah mengirimkan cinta sejati, yaitu kamu seorang.

Namun apa balasannya ? Setelah kebaikan dan ketulusan cinta yang sudah ditanamkan? Perlahan kamu buat takdir janji kita menjadi perih berlinang airmata. Diawali dengan mencoba untut menjauhkan diri sampai beribu-ribu alasan terucap dari mulutmu itu, sempat tidak sadar jika ini pertanda kamu ingin melakukan hal yang bakal membaut hubungan ini berantakan.

“Senyummu mengisyaratkan

Hidup tak Selamanya

Indah dalam kebersamaan”.

Felling berkata orang ketiga adalah penyebab hubungan ini berjalan begitu renggang, dirinya selalu menutupi dengan kebohongannya yang terus menjadi-jadi, dirinya menjauh dan terus menjauh yang membuat hati ini menjadi tidak berdaya menerima kenyataan. Kamu yang dulu aku banggakan tidak peduli lagi dengan orang yang menyayangimu dengan tulus tanpa sebab.

Penghianatanpun menjadi-jadi kebohongan terus teruntai dari upacanmu ini, semakin terpuruk dan terpuruk dalam kesendirian ini yang biasanya dirinya yang selalu mewarnai hari-hari ini, lelah untuk meyakinkanmu membuatku harus mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini.

Kamupun tidak ingin mengakhiri hubungan ini, perasaan ini perih untuk kamu sakiti, hingga waktu menjawab tidak ada sms sapaan ketika sang fajar mulai menyongsong dan tidak ada lagi barisan doa yang terucap lagi, dan terbukti dirinya memilih orang ketiga tersebut.

Dari sini aku harus percaya dengan namanya takdir, dan terima kenyataan bahwa dirinya bukan menjadi milikku lagi.

Dear, Ming sebutnya.