Bukankah cinta itu milik siapa saja yang mau menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing? Lantas adakah yang salah dengan kami, perempuan yang jatuh cinta dan memutuskan menikah dengan laki-laki yang lebih muda di banding kami?

Bukankah Ketika Nabi Muhammad (25 th) menikah dengan Siti Khadijah (40th) juga terpaut jarak 15 tahun lebih muda dari sang istri? Lantas apa yang salah dengan kami?

Aku yakin, aku bukanlah satu-satunya perempuan yang ketika ingin menikah dengan laki-laki yang lebih mudah di lontari dengan pernyataan seperti ini, "Kamu yakin akan menikah dengan yang lebih muda? Menikah dengan yang lebih tua itu lebih baik. Menikah dengan yang muda itu hanya akan menambah masalah. Kamu akan makan hati, akan lebih banyak mengalah dan tingkat pertengkaran lebih tinggi loh bla bla bla"

Masih banyak lagi pernyataan yang menurutku tidak adil di tujukan kepada kami. Sekarang aku ingin bertanya, apakah ada jaminan jika menikah dengan yang lebih tua hidupmu lebih bahagia? apakah ada jaminan jika menikah dengan yang lebih mudah rumah tanggamu berantakan? Apa landasan ukurnya? Tidak ada melainkan sebuah komitmen.

Umur hanyalah masalah hitungan, tidak ada jaminan semakin tua seseorang semakin dewasa ia dalam bersikap. Semua orang berproses begitupun dengan kami. Kami bahagia melewatinya lantas kenapa kalian yang rusuh?

Advertisement

Bagiku, Ia memang lebih muda secara umur, Namun lebih dewasa dalam pola pikir. Lelakiku bukanlah laki-laki yang begitu mudah mengobral kata sayang. Ya, bisa aku katakan bisa di hitung dengan jari berapa kali ia mengatakan sayang kepadaku.

Bagiku, itu adalah bukti kematangan pola pikirnya. Sekarang bukan masanya bagi kami untuk bermanja-manja yang tidak jelas.

Ia tau kapan harus memanjakanku.

Ia tau kapan menjadi sahabat

Ia tau kapan menjadi teman di komunitas

Ia tau kapan menjadi sandaran di kala sesak ini tak mampu aku bendung

Ia tau cara memperlakukan aku dengan baik

Ia tau bagaimana membahagiakan aku dengan caranya sendiri

Ia tau bagaimana cara merencanakan masa depan kami

Ia tau kapan harus diam

Ia tau kapan harus mengambil sebuah keputusan

Itu semua lebih dari cukup bagiku untuk mengukur apakah ia pantas menjadi pendamping hidupku.

Untuk masalah kemapanan, bagiku, aku ingin meraih bersamanya. Aku ingin merasakan perjuangannya

Jika Khadijah mendermakan seluruh hartanya untuk jihad baginda Rasullulah, rasanya apa yang aku perjuangkan masih dalam kata wajar.

Untuk kalian yang masih saja menjadikan patokan suami harus lebih tua, bolehkah aku bertanya beberapa hal. Adakah data yang pasti menjamin menikah dengan pria yang lebih tua menjamin kebahagianmu? Adakah data yang pasti menjamin menikah dengan laki-laki yang lebih muda hidup rumah tanggamu lebih berantankan? Tentu tidak, semua tergantung bagaimana laki-lakimu mendidikmu. Jadi berhentilah mendikte hidup kami. Aku ucapkan terimakasih atas masukan kalian, namun ini hidup kami. Kami yang menjalani. Kami yang tau kemana kapal ini akan kami layarkan. Kami yang tau bagaimana menghadapi gelombang hingga badai kehidupan. Cukup doakan saja dan mari kita saling mendoakan untuk pasangan kita masing-masing.

Sibukkanlah hari-harimu untuk hal-hal yang positif, tidak ada orang yang sempurna yang ada adalah pasangan yang sempurna yang mau menerima kekurangan masing-masing pasangan menjadi sebuah kekuatan

Sudahlah, hidup ini terlalu singkat kalau hanya penuh dengan hal-hal yang negatif. Percayalah, jodoh itu rahasia Tuhan yang maha indah. Aku mempercayainya.