Tidak tahu apa yang salah. Kau yang terlalu berharap atau memang mereka yang gemar memberikan harapan semu. Entah sudah berapa nama yang singgah. Sang hati juga mungkin telah lelah mengingat nama-nama itu. Menghapalnya sebentar untuk kemudian dipaksa melupakan. Setiap nama tentu punya kisah yang berbeda. Namun sayangnya semua meninggalkan luka.

Kau mungkin pernah merasakan yang seperti ini. Bagaimana indahnya dibuai harapan lalu kemudian terhempas di tajamnya batu karang. Sangat melukai dan menyakiti di saat bersamaan. Seperti kata orang, sakit tapi tidak berdarah. Namun sesak luar biasa.

Kau mungkin juga pernah merasakan bagaimana manisnya dipuja di awal. Seolah-olah kau yang teristimewa. Hingga kau lupa rasanya menjejak tanah. Lalu percaya begitu saja, tanpa berpikir jika ini adalah sebuah jebakan. Kau terperosok lalu ditinggalkan dalam lubang tak berdasar. Karena dia yang kau anggap satu-satunya akhirnya hilang perlahan. Tak memberi kabar. Dan kau terpaku oleh rasa penasaran.

Mungkin juga kau pernah mengalami ini. Berharap hanya pada satu nama. Mendoakannya agar kalian dipersatukan dalam sebuah pernikahan. Menjaga perasaannya agar dia tak tersakiti. Kemudian menunggunya dengan sabar. Sementara dia tidak pernah menganggapmu ada. Baginya kau hanya sekedar pelengkap penggembira. Sedangkan kau menganggap dia adalah segalanya.

Atau kau mungkin pernah berpikir, bagaimana teman-temanmu bisa tahan menjalin hubungan dengan sangat lama. Bertahun-tahun. Tanpa ada rasa bosan atau keinginan untuk saling mengakhiri.

Advertisement

Kau bahkan sempat iri pada mereka yang tahu untuk siapa mereka berjuang. Iri pada mereka yang yakin pada satu nama. Dan iri pada mereka yang dipertemukan untuk dipersatukan. Tidak seperti kau yang selalu dipertemukan untuk ditinggalkan.

Lalu muncul pertanyaan untuk dirimu sendiri. Apa yang salah? Apa salahku? Apa yang telah aku lakukan hingga aku ditinggalkan? Mengapa aku selalu dikecewakan? Mengapa setiap kisah yang mulai aku ukir tak jua mendapat akhir yang bahagia?

Ada banyak pertanyaanmu tentang hidupku sendiri. Pertanyaan yang tak tahu apa jawabannya. Tak tahu siapa yang bisa menjawabnya. Namun ketahuilah bahwa waktu adalah pemberi jawaban terbaik.

Beberapa tahun ke depan mungkin kau akan menertawakan dirimu sendiri yang selalu meratapi setiap kisah cintamu yang gagal. Tertawa pada kesedihan yang kau sikapi dengan terlalu berlebihan. Atau geli pada hati yang terlalu mudah terbawa perasaan.

Di setiap kisah pahit yang kau rasakan yakinlah ada manisnya cinta yang telah menanti di ujung jalan. Dia menunggu untuk kau jemput. Pilihan ada padamu, ingin melangkah maju atau diam mengais masa lalu. Ibarat embun, kau selalu punya pilihan, ingin jatuh pada daun untuk jadi indah atau meresap pada tanah untuk jadi musnah.

Kau harus percaya bahwa kau memang istimewa. Terlalu berharga untuk seseorang yang bisanya hanya menorehkan luka dan mengumbar janji manis belaka. Kau sosok luar biasa yang tetap bisa berdiri meski telah jatuh pada kisah pilu berkali-kali. Hatimu kuat walau sering berdarah-darah menahan luka. Kau tetap berdiri dan mengukir kisah yang baru.

Tetaplah mencari hingga suatu saat Tuhan mempertemukanmu dengan si separuh hati. Dan kau bahkan akan lupa pada rasa sakit yang pernah kau tahankan sebelumnya. Karena manis akan terasa lebih manis setelah kau mencicipi pahit. Tetaplah bahagia. Tak perlu risau, hatimu milik Allah, kuasa-Nya lah hendak meletakkan nama siapa di sana.