Tan Malaka adalah sosok pertama yang menggagas bentuk negara Indonesia dalam Menuju Republik Indonesia. Sejak pulang dari Harlem, Nederland pada usia awal 20-an sampai wafatnya di usia 54 tahun, Tan Malaka telah membaktikan hidupnya demi tegaknya Republik Indonesia. Tragisnya, Tan Malaka harus merenggang nyawa ditembak mati oleh bangsanya sendiri.

Tan Malaka diangkat sebagai pahlawan nasional pada tahun 1963 oleh Presiden Sukarno. Tetapi tidak seperti pahlawan-pahlawan nasional yang lain, namanya tidak pernah tercantum dan dikenalkan dalam buku Sejarah Indonesia. Adalah pemerintahan orde baru yang melakukannya. “Ingatlah! Dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!” tulis Tan Malaka dalam autobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, ibarat hantu yang mengancam kekuasaan. Sehingga segala upaya untuk menggali dan menyebarluaskan gagasan dan riwayat perjuangan Tan Malaka patut diapresiasi. Termasuk dalam bentuk novel, dan TAN: Sebuah Novel karangan Hendri Teja adalah salah satunya.

TAN mencoba memotret riwayat hidup Tan Malaka sejak Ibrahim diangkat sebagai Datuk Tan Malaka oleh masyarakat Minangkabau. Lalu kisah perjuanganya menimba ilmu dan mencerap kesadaran revolusioner di Harleem Nederland. Perjuangannya berlanjut dengan parade bergerilya di Sumatera dan Jawa guna mengobarkan semangat perlawanan terhadap kaum penjajah.

Tan harus berhadapan dengan para kapitalis perkebunan, sindikat pengusaha gula, dan Gubernur Jenderal Hindia. Dalam kejaran polisi intelijen pemerintah kolonial, Tan bergerak di bawah tanah untuk mencegah malapetaka pertama dalam sejarah Hindia abad ke-20. Dan semua itu dibungkus oleh kisah pengkhinatan dan percintaan, salah satu sisi kehidupan Tan si bujang revolusioner yang amat jarang dibahas.

Salah satu yang saya sukai dari novel ini adalah narasi perihal pengaruh orang tua terhadap pembentukan karakter Tan Malaka. Tan amat menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya, HM. Rasad dan Rangkayo Sinah. Sikap penerimaan Rasad atas pilihan hidup puteranya patut menjadi renungan kita bersama.

Advertisement

“Jalan yang kau pilih memang berbeda dari yang kami rencanakan. Tetapi, aku berani bersumpah bahwa aku dan bundamu sama sekali tidak pernah kecewa kepadamu”.

“Air dicencang tiada putus, Nak. Kau tetap putraku, kendati apapun yang orang kampung katakan. Tetapi jangan pula kau benci mereka. Mereka hanya lupa, lupa pada kejadian besar saat dirimu dilahirkan".

“Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan. Tegaklah seperti alif, Nak. Aku akan selalu menyertai langkahmu”.

Inilah restu orang tua dan kasih sayang yang terus menyertai perjuangan Ibrahim Datuk Tan Malaka, restu sebagai spirit utama berjuang untuk memerdekakan Hindia Belanda, menjadi Indonesia Merdeka.

Poin kedua, yang saya sukai dari novel ini adalah perihal pengabdian Tan Malaka di dunia pendidikan. Dia menjadi guru anak-anak kuli di Dili, dan mendirikan sekolah rakyat Sarekat Islam di Semarang. Keterbatasan pendanaan tidak membuat Tan kehilangan akal. Bersama bocah-bocah anak kaum kromo itu, Tan menghimpun donasi dari orang-orang yang bersimpati dengan pendidikan anak bangsa. Tujuan pendidikan Tan Malaka ini ternyata masih relevan dengan kondisi Indonesia kekinian.

Pendidikan sejati mesti bertumpu pada tiga tujuan. Pertama, pendidikan keterampilan sebagai bekal untuk berkiprah dalam masyarakat kapitalis. Kedua, pendidikan bergaul, berorganisasi dan berdemokrasi, guna membentuk pemuda Hindia yang tangguh, percaya diri dan penuh harga diri. Dan ketiga, pendidikan yang berorientasi cinta kepada rakyat melarat.

Melalui TAN, saya diajak bertamasya dalam sebuah imaji sejarah pada periode 1889-1926. Kota-kota yang disinggahi Tan, mulai dari Haarlem dan Bussum Nederland, Bukittinggi, Dili, Batavia, Semarang, Solo, Surabaya sampai ke Bandung, dijabarkan dengan deskripsi yang indah, detail dan sarat riset. Perubahan mental Tan akibat dipenjara, dibuang, dan dikhianati sebagai suatu konsekuensi logis atas cinta terhadap cita-cita, pengorbanan atas rindu, derita terhadap sayang, Indonesia Merdeka disajikan secara apik dengan perspektif "Aku", sesuatu yang jarang dilakukan oleh novelis-novelis bergenre sejarah.

Tak salah kiranya bila TAN menjadi salah satu novel unggulan dalam Sayembaran Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2010, ketika itu judulnya masih Memoar Alang-Alang. Majalah Tempo juga menempatkan TAN sebagai salah satu novel yang direkomendasikan untuk tahun 2016. Betapapun, riwayat Tan Malaka memang amat menyentuh. Meminjam istilah Harry Poeze, sejarahwan Tan Malaka, “Kisah hidup Tan Malaka lebih dahsyat ketimbang fiksi”. Sayangnya, sampai sekarang belum ada pula filmmaker yang mau mengangkat Tan Malaka ke layar lebar. Jika iya, saya yakin hasilnya pasti akan luar biasa.