Tepatnya september tahun lalu aku mengenal dia. Aku dikenalin dengan seorang temen kampus, sekaligus dia guru mengajiku. Percakapan di mulai setelah pulang kuliah:

"Kamu mau aku kenalin nggak sama temen aku? Kebetulan dia mencari seorang istri. Kayaknya cocok deh sama kamu."

Aku menjawab, "Boleh, tapi ketemu langsung dulu aja? Nggak perlu tukar kontak dulu."

***

Singkat cerita, tidak ada rencana untuk bertemu atau ada janji, aku tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu.

Advertisement

"Jodoh itu misteri, misteri orangnya, misteri tempat bertemunya. Kita tak pernah tahu."

Dalam hati sempat terucap: jangan-jangan dia berodoh denganku? Dengan senyum-senyum tipis, aku dikenalkan oleh temanku itu. Ku kira dia tidak menyukaiku, eh, tiba-tiba setelah aku bertemu dengannya, dia invite BBM aku.

***

Kita semakin intens chat, bahkan setiap hari kita teleponan dan memberi kabar. Hingga suatu ketika dia mengungkapkan perasaannya. Bukan untuk pacara, tapi mengajak untuk menikah!

Betapa senangnya aku. Kami pun berbulan-bulan membicarakan masa depan.

Katanya, "Habis lebaran aku datang ke rumah untuk melamar kamu, ya."

***

Waktu berlalu dan ku tetap menunggu. Ah, rasanya kata-kata itu janji palsu?

Setelah hampir 6 bulan, tiba-tiba dia berubah. Drastis. Baru saja dia ingin segera menikahiku, keesokannya dia tidak balas chat dan telepon dariku pun tak digubris.

Bingung. Apa yang terjadi kepadanya hingga berubah secepat ini? Kegalauanku menyergap dan aku pun bertanya sama temen terdekat dia. Taapi, hasilnya sama: tak ada jawabnya.

"Datang saja ke rumah atau ke kantornya."

***

Aku kira, kalau dia serius padaku, dia yang akan kembali padaku. Buat apa aku yang mengejarnya?

Dua bulan kehilangan dia tanpa jejak. Semua akun media sosialku telah dia block. Ku menangis. Dan bahkan orangtuaku ikut menangis. Ibu mana yang tak ikut sakit ketika tahu anak kesayangannya sedang tersakiti? Sebelumnya ibuku tidak pernah tahu aku serapuh ini karena aku selalu menciptkan senyum manis tak menampakan kesedihan.

***

3 bulan setelah itu, aku bertemu dia lagi di acara Maulid di majelis tempat di mana kita pertama bertemu. Aku sudah melihat kamu dari kejahuan dan aku pun berusaha tegar. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha tidak terjadi apa apa.

Aku sudah tahu harus apa dan bagaimana. Aku memutuskan untuk tidak menanyakan atau memikirkanmu lagi. Dulu, yang aku tahu, kamu adalah laki-laki baik, yang sholeh, sopan, rajin salat, rajin mengaji. Kini, aku tahu sesungguhnya kamu. Kamu mengecewakanku.

Mungkin inilah cara Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk memantaskan diri. Untuk menjadi sosok wanita yang baik. Aku sangat bersyukur karena Tuhan membiarkan aku patah hati untuk meraih kebahagiaan yang sejati.

Terima kasih Tuhan, kau menyadarkanku untuk menjadi yang lebih baik lagi. Sekarang aku akan lebih memantaskan diri, menanti kepada jodohku nanti