Tingginya pohon pinus di sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi, tapi memberikan kenyamanan yang berlebih padaku. Gunung Pancar tepatnya, yang berlokasi tidak jauh dari Sentul Bogor. Aku nikmati kopi sore yang terseduh di gelas plastik dengan harga yang tidak begitu mahal, tapi kenikmatannya sungguh luar biasa.

Sejuknya udara pegunungan dengan suara alam yang sangat ku sukai, seakan menghilangkan sedikit penat dalam benakku. Jujur, kali itu hatiku ini sedang gundah gulana karena seorang gadis yang ku sukai telah menemukan pilihannya, dan itu bukan aku. Kesal bercampur amarah yang kurasakan saat itu, tapi apa daya aku bukan siapa-siapa untuknya.

Aku tak mau berlarut-larut terbawa perasaan, yang seakan ingin menikamku secara perlahan. Sedih memang, tapi aku adalah laki-laki. Wajar jika saja sedikit air mataku mentes sedikit, tapi aku tahu bahwa laki-laki tidak akan menangisi kebahagiaan orang yang dia sayangi.

Awalnya, aku melihat dia di sebuah acara konser musik indie lokal di menteng, lalu ku cari tahu siapa dirinya dan tanpa sengaja, aku mencari tahu lebih dalam tentang dia. Kalau kata anak sekarang, aku telah men-stalker-in si doi. Setelah tahu namanya dan akun medsosnya, aku pun mulai memberanikan diri untuk berkenalan dan dia pun merespon dengan baik. Sekian lama berkenalan, aku pun mulai tertarik dengannya, walaupun saat itu dia belum mengetahui siapa aku lebih dalam.

Waktu demi waktu telah ku lewati dan perkenalan kami pun semakin dekat. Sekali waktu, aku mengutarakan perasaanku kepadanya tapi sayang di sayang, dia meminta waktu kepadaku agar dia mengenaliku lebih dalam lagi. Kesibukan yang menggerogoti waktu yang ku miliki, seakan membuatku semakin jauh darinya. Sudah jarang menelepon, berkabar pun hanya seingatku saja.

Advertisement

Akhirnya, dia pun merasa aku tidak benar-benar serius dengannya. Ku elus dadaku perlahan, setelah ku lihat dia memposting foto di salah satu akun medsosnya dan di foto itu dia sedang berpose manja dengan seorang laki-laki. Galau. Kalau kata anak sekarang mah, tapi sekali lagi aku sadar, aku memang bukan siapa-siapa untuknya.

Untungnya aku masih memiliki teman-teman yang setia menemaniku di saat senang maupun tidak senang, walaupun lebih banyak tidak senangnya aku masih bersyukur memiliki mereka di sampingku.

Tidak pernah ku ceritakan kisah asmaraku kepada mereka. Bukan karena malas curhat, tapi karena aku tak mau terlihat lemah di hadapan mereka. Sejak kami saling kenal, aku memang tidak mau terlihat sedikit pun dalam kondisi lemah. Bukan karena aku sombong atau pun sok kuat, tapi karena aku tidak mau membuat teman-temanku tersangkut dalam masalah yang aku hadapi.

Beberapa hari yang lalu, aku dan beberapa temanku pergi ke sebuah hutan pinus, yang berlokasi di Gunung Pancar Bogor. Tempat yang tidak begitu jauh dari ibu kota, tapi nuansanya sangat tepat untuk mengistirahatkan otak yang suntuk, jenuh, dan mumet. Rimbunnya pepohonan pinus diselingi beberapa pohon jati dan sedikit tanaman hutan, membuat aku tidak ingin bergegas segara meninggalkan tempat yang harus dijaga dengan asri ini.

Segelas kopi mengiringi obrolan ringan nan santai dan juga gado-gado buatan teteh sunda sangat nikmat, ku nikmati saat itu. Bukan karena rasanya, tapi karena di tempat itulah aku mulai sadar bahwa setiap waktu yang dijalani bersama teman adalah waktu-waktu terindah yang tidak boleh terlewati. Kami memiliki sebutan "shitmen", sebuah nama yang tidak rumit disebut tapi lumayan keren saat didengar. Bermula saat kami masuk sekolah menengah kejuruan di tahun 2010 dan dari situ kami mulai bersahabat hingga sekarang dan aku harap hal itu bisa terjaga hingga hari tua nanti. Kemudian aku tersadar bahwa bersama teman-teman pun kenangan indah dapat tercipta, tidak hanya dengan kamu.