Kata orang, jodohmu bisa jadi adalah sahabatmu sendiri. Bahkan banyak artikel yang membahas tentang tanda-tanda kalau sahabatmu adalah jodohmu. Jika kalian pernah mendengar kisah Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion yang berawal dari sahabatan dan pada akhirnya kisah mereka berlanjut sampai pelaminan, hal ini adalah bukti nyata bahwa pasangan hidupmu adalah sahabatmu sendiri.

Istilah “jodohmu adalah sahabatmu” ini mudah saja terjadi bila mereka memiliki iman yang satu. Tapi bagaimana jika sahabatmu ini berbeda iman denganmu?

Berawal dari diklat UKM, aku memiliki sahabat yang romantis. Kedekatan kami mengalir begitu saja. Bahkan aku sama sekali tak terpikirkan akan bersahabat dengan dia. Karena dari awal ikut diklat, aku sudah ada cowok gebetan idaman sendiri dan itu bukan dia.

Perkenalanku dengan sahabat romantisku berawal dari pesta promnite di hari kedua diklat UKM. Hari itu adalah malam wajib menggunakan high heels dan juga hari pertamaku menggunakan egrang milenium setinggi 9cm ini. Dia menolongku berjalan menggunakan high heels dengan cara meminjamkan tangannya untuk tempatku berpegangan mencari keseimbangan badan. Sejak saat itu, aku dan dia semakin dekat. Di sisi lain, si cowok idaman semakin mundur teratur.

Tiga tahun lebih bersahabat dengan dia, banyak kisah yang sudah kami lewati. Dari awal aku sadar diri, bahwa kami tak akan bersatu karena kami beda iman. Sejak awal pula dan berulang kali aku sudah berusaha menjauh, tetapi ada saja hal yang membuat kita kembali bersua. Tak cukup sampai di situ, sempat ada orang-orang yang mencoba mengadu domba kami supaya terjadi perpisahan. Tapi mereka pasti menerima hasil yang sama. NIHIL. Aku dan dia tetap kembali dilanggengkan dalam persahabatan.

Advertisement

Di perjalanan persahabatan kami, dia sempat memiliki pacar seiman dan aku diam. Saat itu aku tak mengusik kehidupannya sama sekali, namun hubungan mereka tak berlangsung lama. Tak lama dari kandas percintaannya, giliranku menjalin kasih dengan sosok lain yang seiman dan berujung sama. Bedanya, aku tak bisa membela dia ketika dia tersakiti, tetapi dia adalah orang yang membela aku saat aku tersakiti.

Sudah bukan hal baru teman-teman mempertanyakan, "Gimana kalau dia jodohmu?"

Aku pun mulai jenuh menjelaskan ke mereka tentang ketidakmungkinan hal itu. Aku dan Dia akan selamanya menjadi teman. Teman yang tak akan pernah berlanjut ke pelaminan. Aku dan dia bukanlah manusia yang hidup sebatang kara dan terlahir dari batu. Ada keluarga yang melatarbelakangi masing-masing dari kita. Pasti akan ada pertentangan jika kami memaksa bersatu.

Walau belum pernah merasakan, namun sempat terbayang jika salah satu dari kami ‘mengalah’ untuk mengikuti iman satu yang lainnya. Inilah salah satu hal yang mungkin akan terjadi; di hari sakral pernikahan, tak ada seorang pun (tanpa terkecuali ibu dan ayah) dari pihak keluarga mempelai yang ‘mengalah’ datang menghadiri hari istimewa sekali seumur hidup itu. Bisa bayangkan betapa pedihnya hati saat itu?

Kini, dia yang mendahului menjauh dariku. Tentunya, Aku ikuti keinginannya.

Untukmu sahabat romantisku, terima kasih persahabatan selama tiga tahun lebih ini. Terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman berkeluh kesah, partner beradu pendapat, pemecah masalah, dan teman jahil yang juga muka tembok buat gila-gilaan di tempat umum. Aku akan selalu mengingat kisah-kisah kita. Aku selalu menanti kabar bahagiamu. Semoga suatu saat nanti kita kembali bertemu dengan pasangan hidup masing-masing yang seiman dan direstui keluarga.