Aku Bersyukur Tuhan Telah Mempertemukan Kita.

Aku sangat bersyukur ketika Tuhan menghadirkan kamu dalam kehidupan ku. Tapi aku tidak pernah tahu apakah ini sebuah takdir atau hanya sebatas ujian yang mampir dalam hidup ku.

Aku mungkin egois terlalu merajuk kepada kamu, aku juga egois selalu membawa keluh kesah ku kepada kamu. Aku sudah terlalu nyaman sama kamu. Dan aku bersyukur kamu menerima aku apa adanya, juga masing-masing keluarga pun sangat mendukung hubungan kita. Itu yang membuat aku bahagia dan sangat sayang kepada mu sehingga sulit rasanya aku untuk kehilangan dirimu.

 

Namun Aku Tidak Pernah Ada Dalam Masa Depan Mu.

Advertisement

Saat pertama kita menjalin hubungan,aku sangat yakin akan pilihan aku kepada kamu. Maka tanpa pikir panjang, aku sudah memutuskan untuk berkomitmen.

Aku selalu mengajak kamu berjuang bersama dari nol, saling menyemangati untuk meniti kesuksesan bersama, dan aku juga selalu mengajak kamu sama-sama menabung untuk masa depan kita bersama. Karena aku sudah terlalu serius untuk hubungan ini. Dan kita pun sepakat untuk lalui itu semua bersama.

Namun betapa terkejutnya aku, entah apa yang membuat kamu berubah pikiran sehingga kamu menyatakan bahwa  kamu belum terpikir untuk berkomitmen. Mungkin aku terlalu gegabah, sehingga akhirnya hanya luka yang aku dapatkan.

 

Mungkin Kita Memang Berbeda Prinsip Dan Tujuan

Hubungan kita sudah memasuki tahun ketiga, tapi kamu meminta aku untuk menunggu lagi enam tahun lamanya. Ya Tuhan, sembilan tahun dalam penantian apakah aku mampu ? mengingat aku wanita yang usia nya sudah memasuki  ¼ abad.

Jujur aku masih bimbang. Hati berkata untuk lanjut, namun logika berpikir pacaran terlalu lama takut akan ada rasa bosan dan takut kamu pun tidak tahan sama aku. Hati manusia siapa yang tahu, bisa berubah seiring waktu berjalan, apalagi kamu pun menjalinanya belum dengan komitmen.

Bukan aku tidak mau setia menunggu mu dan bukan aku meminta buru-buru untuk menikah, aku hanya berharap untuk tidak selama itu. Dari awal pun aku selalu mengajak untuk kita sama-sama berjuang, tapi apakah baik jika pacaran terlalu lama ?

Bukan masalah restu, ibu mu memang merestui hubungan ini tapi tidak untuk terlalu cepat berkomitmen. Yah aku berpikir positif, mungkin ibu mu belum siap melepas anaknya untuk menjalani hidup bersama orang lain.

 

Aku Mencoba Untuk Ikhlas.

Aku memang terlalu berharap. Rasa sayang ku kepada mu mengalahkan segalanya. Dan sekarang aku tak bisa berbuat banyak, harapan ku pun sudah merubah segalanya. Sudah membuat kamu ragu untuk melanjutkan. Egois jika aku masih berharap untuk melanjutkan hubungan ini, yang sebenarnya kamu pun sudah tidak mau. Mungkin ini hanya soal waktu agar aku dapat seratus persen mengikhlaskan keputusan kamu.

Dan yang membuat aku tak terlalu terpuruk, saat ibu mu mengatakan untuk tidak memutuskan silaturahmi karna beliau sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri. Yah, aku harap semoga kamu masih punya itikad baik untuk itu walau hanya sebatas pertemanan. Aku rasa inilah sikap dewasa kita, agar tidak ada hati yang saling membenci. Biarlah semua kebersamaan yang telah kita lalui menjadi kenangan. Terimakasih atas semua hal indah yang telah kamu berikan. Semoga semua mimpi-mimpi mu tercapai.

Segalanya sudah diatur oleh Tuhan pembuat skenario terbaik, hidup, mati, rejeki termasuk jodoh pun sudah menjadi rahasia Tuhan. Aku hanya berpikir positif, semua ada hikmahnya mungkin Tuhan cemburu karena aku terlalu memprioritaskan dirimu. Tuhan ingin aku lebih mendekatkan diri Kepada-Nya dan mengingatkan aku untuk lebih memprioritaskan keluarga ku sendiri.