Melihat kembali, dari awal kita saling kenal. Tiga tahun mungkin bukanlah waktu yang panjang, tapi nyatanya aku benar-benar merasakan semua hal yang begitu panjang. Bukan hanya sekedar bahagia dan senang-senang, tapi juga sakit hingga patah hati mendalam sudah sering kualami. Sekalipun begitu, aku tak tahu mengapa perasaanku masih saja tetap sama.

Aku sadar, kehadiranku pada awalnya hanyalah perkenalan biasa dan mungkin tidak kau anggap. Itu wajar, karena bahkan satu tahun pertama kita sama sekali tidak pernah bertatap muka. Lucu ya. Tapi percayalah perasaanku tidak berubah sedikitpun dan masih seperti pada hari-hari itu, hari dimana aku merasa aku mencintai sebuah bayangan yang tak pernah kusentuh dan kulihat wujudnya. Kita tak pernah menduga akan sejauh ini, tapi kurasa aku sudah merasakannya sejak awal mengenalmu, aku jatuh cinta.

Jatuh cinta untuk pertama kalinya, di usia sangat belia dengan seorang lelaki 21 tahun. Hanya dirimulah lelaki yang sukses membawaku terbang jauh mengenal cinta, setia, dan pengorbanan. Aku bukanlah yang pertama yang pernah hadir di hidupmu, tapi aku yakin aku akan jadi yang terakhir. Melihatmu tersenyum adalah kebahagiaanku, maka dari itu aku tak pernah suka melihatmu sedih. Lalu aku mencoba menjadi yang terbaik agar di wajahmu akan terus terukir senyuman.

Namun apa yang kita lewati tentunya tidak mudah, apalagi aku dengan modal cinta terbesarku. Sakit hati sudah biasa, kecewa pun sudah rutinitas. Ibaratkan orang berinvestasi, apabila kau berikan seluruh cintamu lalu kau berhasil maka kau akan mendapat seluruh bahagia juga, tapi apabila kau gagal maka hilanglah seluruh cintamu. Begitulah yang kurasakan, tapi untungnya cintaku tak pernah ada habisnya. Ia selalu muncul kembali, sekalipun hal yang buruk kudapat darimu. Aku tahu ini bodoh, tapi bahkan hatikulah yang terus menginginkan ini, agar terus mencintaimu : )