Merindumu mungkin salah, tapi hatiku melakukan itu setiap waktu. Hingga ku harap hujan deras menenggelamkanku hanyutkanku sampai di depanmu. Munafik memang, saat aku bilang benci kamu tapi sebenarnya dalam hatiku berkata sebaliknya. Karena mungkin cinta dan benci itu beda tipis, rasa benci ada karena cinta yang begitu besar. Mungkin seperti itu. Aku tak membencimu hanya saja hatiku terlalu rapuh untuk menerima semua ini. Menerima kenyataan bahwa kau bukan miliku lagi. Ada rasa sakit saat melihat kau bahagia, bukannya aku tak mau melihatmu bahagia, tapi karena bukan aku yang membahagiakanmu.

Bodohnya aku, yang terkadang berkhayal jika suatu saat nanti kau akan kembali padaku. Membiarkanmu berlari sejauh yang kamu mau, dan menunggu kembali saat kau lelah dan tetap menjadikan hati ini rumah bagimu. Tapi di lain sisi, pintu hati ini masih kah bisa menerimamu, setelah kau porak porandakan semuanya. Entahlah aku bimbang, aku hancur, aku terluka. Belatimu telah menancap terlalu dalam.

Bayangmu kini telang menghilang, kan kujadikan kau diary usang, yang tak pernah ku kenang. Mungkin memang harus seperti itu. Melupakan semuanya, berlari sekencang-kencangnya, tak henti hingga ke ujung dunia, sampai bayangmu menjadi buram, kusam dan pudar dalam ingatan.

Melewati hari tanpa memikirkanmu itu mustahil, sama mustahilnya dengan mengharapkanmu kembali

Entah apa yang kurasakan, hatiku masih tak merelakan kepergianmu. Lucu memang, setelah apa yang kau lakukan padaku hatiku masih sama seperti dulu, masih sama seperti saat dulu aku bilang 'aku sayang kamu'. Aku masih tak percaya dengan semua kenyataan ini, tak menyangka sama sekali, tak bisa menerima kenyataan ternyata kau tega melakukan itu. Sakit, satu kata yang mewakili perasaanku saat ini.

Advertisement

Mungkin semua ini salahku sendiri, salahku yang terlalu percaya padamu, salahku yg terlalu menyayangimu, salahku yg terlalu yakin padamu kalau kau tak akan mengecewakanku.

Saat ini yang ingin ku lakukan hanyalah melupakanmu, merelakanmu dan melupakan semua kenangan kita yg telah kita lalui. Tapi, semakin aku ingin melakukanya semakin hati ini tersiksa, karena namamu masih enggan pergi dari hatiku. Meski diri ini telah lelah mengusirnya. Sulit. Kini, satu hal yang aku tau. Ternyata di balik diriku yang liar, brandal danberantakan, hatiku terlalu lemah karena cinta. Cengeng, lemah dan menjijikan dan itu aku tahu darimu.