Love is…

Senja ini, di antara jatuhnya rintik hujan, kami berbincang ria mengenai cinta di suatu rumah makan. Salah satu berbicara, bahwa ia tidak setuju dengan pernikahan dini —di bawah umur. Aku ingin berbicara, tapi aku memilih diam dan terlihat mendukung pernyataannya. Bagaimana kalau dengan pernikahan di atas umur? Maksudnya, jika sudah mencapai batas kepala 5 misalnya? Jika cinta memang terlihat seperti itu, maksudnya, membatasi cinta harus diresmikan di umur sekian dan sekian, maka mungkin sudah ada peringatan Hari Cinta atau Love Day.

Love is not about the age

Sejauh ini, dan kebanyakan orang setuju dengan hal ini, bahwa cinta itu tak mengenal umur, bukan? Jika seorang wanita dan lelaki sudah yakin bahwa mereka saling mencintai, kenapa tidak untuk melanjutkan hubungannya ke tahap pernikahan?

Walaupun masih dini? Memang, pernikahan bukanlah hal yang sepele. Hal ini perlu persiapan besar, entah dari pihak perempuan atau lelaki. Mulai dari resepsi pernikahan, bahkan kelanjutan hidup mereka kelak. Mereka harus siap untuk menghadapi ‘hidup’ yang sesungguhnya. Mungkin mereka belum punya bekal untuk kehidupan rumah tangganya. Belum lagi biaya hidup anaknya kelak. Sulit memang.

Advertisement

Namun jika dipikir-pikir kembali, di situlah letak cinta sesungguhnya. Mereka berjuang bersama-sama. Mengecap pahit bersama. Luka yang sama. Air mata dan keringat yang sama. Saling peduli. Jika berhasil, mereka bahagia bersama. Senyum bersama. Mereka saling menghangatkan ketika dingin. Saling melindungi ketika panas. Semua dilakukan bersama. Semua rasa. Itulah cinta. Itulah keluarga.

Banyak hal-hal yang dibicarakan sebenarnya, namun di suatu waktu kala senja itu, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Love is once and the only one. It will be back to you later soon.

Terkadang kalian berpikir mencintai seseorang. Kalian yakin itu cinta. Tapi bagaimana bisa cinta itu muncul dalam diri kalian? Apa orang yang kalian cintai juga mencintai kalian? —kalian mungkin akan menanyakan pertanyaan ini saat itu. Apa cinta itu hanya memang terletak pada satu hati? Maksudku, kalian tahu tentang cinta sejati bukan?

Namun, akui saja, kalian pernah merasakan hal sama terhadap orang yang berbeda, kan? Misalnya setelah kalian dicampakkan, kalian mencari hati yang lain, sebagai obat atas rasa sakit itu. Jika demikian, apa kalian juga pernah berpikir, siapa kemungkinan orang-orang yang mencintai kalian? Kenapa mereka mencintai kalian? Berbicara tentang isi hati, tak ada yang tahu, bukan?

Atau, jangan-jangan kalian tidak tahu bahwa kalian mencintai seseorang tapi tidak menyadarinya? Tak apa, memang hal ini sering terjadi. Namun apa kalian tahu, bahwa ada perbedaan di antara cinta dan suka? Atau kalian berpikiran kedua hal itu sama? Bukannya aku tahu, justru aku bertanya pada kalian karena tidak tahu.

Tapi menurutku, aku hanya percaya pada cinta sejati —rasa itu tidak akan pernah hilang meskipun kalian mencoba untuk menghilangkannya, akan kembali jika ia meninggalkan kalian. Entah kapan. Itulah cinta. Namun jika kalian merasakan sesuatu, hilang, dan mulai merasakan hal yang lagi terhadap hati yang berbeda, dan hal ini berlanjut di kejadian selanjutnya, itu adalah suka.

Dan hujan pun sudah terlihat reda. Saatnya kembali ke tampat kami masing-masing.