Lalu apa untungnya aku mencintaimu dalam diam?

Pertanyaan yang sama yang selalu terlontar keluar dalam diri ini. Tahukah engkau sangat menyebalkan memendam perasaan ini? Sangat menyebalkan ketika rasa ingin ungkapkan perasaan ini muncul, pasti selalu saja lidah terkunci. Seandainya kau mampu membaca tatapan mataku, dan seandainya pula kau tak memiliki dia sebagai pilihanmu.

Mungkin karena itulah aku memilih untuk diam tanpa pernah berterus terang tentang perasaanku. Biarkan saja aku berimajinasi dengan semua canda tawamu ketika bersamaku, semua kata kata gombal ketika chat denganmu. Biarkan semua itu menjadi energi untukku, menjadi hal indah yang selalu aku miliki saat bersamamu

Mungkin aku seperti orang yang menunggu tanpa tahu pasti tentang apa yang kutunggu. Tapi menunggu dan selalu menyimpanmu dalam doa dan hati adalah yang terbaik yang bisa kulakukan. Tenanglah, aku tak akan pernah mampu mengganggumu dengan dia pilihanmu. Aku bukanlah lelaki seperti itu. Bahagialah dengan pilihanmu, karena akupun bahagia melihatmu bahagia mesti bukan denganku.

Mungkin aku seperti orang yang menunggu tanpa tahu pasti tentang apa yang kutunggu. Tapi menunggu dan selalu menyimpanmu dalam doa dan hati adalah yang terbaik yang bisa kulakukan.

Advertisement

Dan senjapun mulai menghilang berganti malam. Secangkir coklat panas masih menemaniku setelah semua tulisan-tulisan ini selesai. Terkadang memang bukan hal mudah untuk mengungkapkan sebuah perasaan. Tapi… Ah sudahlah, biarkan saja aku nikmati semua ini, toh tak ada salahnya untuk memilih diam, karena terkadang memilih diam itu suatu pilihan yang bijak.

Ah, dan sekali lagi, bayangmu hadir dalam lamunan malamku kali ini.