Tuhan, apa jalanku untuk bertemu dengannya masih panjang? Ini sungguh sebuah perjalanan yang cukup melelahkan. Aku bukanlah seorang musafir berpunya. Aku hanya punya sepotong hati. Berbekal keyakinan dan kesabaran aku mantap untuk menapaki setiap aral. Perjumpaan dengannya kini masih menjadi fatamorgana yang mengalihkanku dari kemurungan dan kejenuhan yang kerap mendera.

Kadang aku merasa iri ketika melihat satu persatu sahabat mulai melabuhkan hatinya pada orang yang dicintai, walau di sisi lain aku bersyukur bisa melihat mereka telah purna dalam pencarian panjangnya. Aku pun bertanya-tanya “lalu kapan waktuku akan tiba?”, “kapan aku akan sampai pada penghujung jalan ini?” dan “mengapa kisahku tak bisa sesederhana orang lain?”.

Di saat sahabat-sahabatku telah berdiri dan tersenyum bahagia diantara keluarga kecilnya aku masih saja harus berjalan sambil meraba-raba dalam kegelapan agar tidak terjatuh. Beberapa pasang bola matapun kini mulai nampak memandangku dengan tatapan aneh yang penuh dengan tanda tanya, keheranan melihatku yang sampai saat ini belum juga mau untuk berbagi cerita tentang sebuah romansa.

Nampaknya sekarang aku harus lebih meninggikan tembokku, agar orang lain tak lagi berniat untuk ikut campur dengan urusan pribadiku. Toh selama ini aku juga sudah berusaha untuk tidak ingin tahu tentang urusan personal mereka. Tak hanya jengah karena dicecar dengan pertanyaan kapan akan menggenap, namun juga munculnya judgement bahwa aku adalah seorang pemilih tak pelak membuatku menjadi tidak nyaman.

Pemilih? Entahlah, bahkan untuk sekadar membuat kriteria tentang calon pendamping impianpun aku tak mampu. Melihat kapasitasku sendiri yang tak sepadan untuk disandingkan dengan siapapun terlebih dengan dia, orang yang aku rasa akan menarik jika kelak aku dan dirinya dapat saling melengkapi dan menghabiskan masa tua bersama.

Advertisement

Adakah seseorang yang ingin selamanya terpenjara dalam ketidakpastian? Tentu saja tidak. Semua ingin memiliki sebuah kisah cinta yang manis. Namun realitasnya tidaklah demikian. Ada sebagian orang yang harus terjebak dalam penantian yang tak kunjung ada kepastian. Namun sebenarnya menunggu dapat menjadi pekerjaan yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Karena dia yang ditunggu akan menjadi pelita bagi hidup kita yang kini masih temaram.

Setiap hari aku harus bersusah payah untuk membunuh waktu. Setiap detik harus menikam rasa rinduku yang muncul. Tak lupa untuk selalu memasang seuntai senyum di hadapan semua orang agar terlihat baik-baik saja. Aku memang sudah terbiasa dengan sebuah penantian. Namun akhir-akhir ini berada di ruang tunggu semakin membuatku tak menentu dan diliputi kekhawatiran.

Nasehat dan petuah bijak tentang penantian? Ah rasanya sudah khatam dengan itu semua. Dalam sunyi berulang kali aku berdialog dengan diriku sendiri. Mencoba berdamai dengan keadaan. Memantulkan keyakinan ke setiap jengkal dinding hati bahwa setiap orang akan menemukan kebahagiaannya masing-masing. Hanya waktu dan jalannya saja yang berbeda-beda. Dan inilah jalan yang harus aku tempuh. Sebuah jalan panjang yang belum juga nampak ujungnya. Jalan yang mengajarkanku tentang cinta dan keikhlasan.

Tuhan, maafkan hamba-Mu ini yang cerewet dan banyak bertanya. Aku hanya orang biasa yang rentan dirundung kecemasan akan belahan jiwa yang tak kunjung datang. Namun kini aku akan berusaha untuk lebih tenang dan menata hatiku sendiri dengan rapi.

Begitu mudahnya Tuhan mengatur pergantian siang dan malam serta peredaran planet dalam tata surya. Maka aku pun yakin jika hanya untuk mengirimkan seorang jodoh terbaik menurut-Nya adalah sebuah hal yang sangat mudah. Semoga kami akan segera saling menemukan di waktu yang tepat. Tidak terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Aku hanya perlu sedikit lagi bersabar. Bersabar dengan kesabaran yang indah.