Aku bertahan, membiarkanmu singgah dalam singgasana hati ini. Membiarkanmu menyibukkan kerja pikiran otak ini. Itu sudah berlangsung cukup lama, bukan cukup lama tapi memang lama. Kupikir aku memang tidak menuliskan kata lelah untuk mencintaimu dalam kamus hidupku untukmu, tapi sekarang aku akan menuliskannya dalam kamus yang hanya aku tujukan untukmu, jika aku memang lelah untuk mencintaimu dengan cinta yang tak terbalas.Hanya untukmu seorang.

Aku tau… Mungkin, memilikimu hanya khayalan bagiku. Mungkin, cintaku hanya akan terjadi di negeri dongeng, negeri yang takkan pernahku gapai untuk selamanya. Negeri di mana semua khayalan bisa menjadi kenyataan.

Aku tau…. Memilikimu itu tidak mungkin, namun aku selalu berusaha untuk bisa melelehkan hatimu yang membeku. Aku yakin… Akan ada sebuah keajaiban, suatu saat nanti, hanya satu kalimat yang bisa membuatku terus tersenyum sampai saat ini.

Cukup perih memang rasanya melupakanmu, berusaha menghapus namamu dari pikiranku, menghapus bayanganmu dalam lamunanku, inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit, perih, kecewa. Mungkin lebih dari itu. Apa kau tahu rasanya diacuhkan? Tidak dianggap? Tidak dibutuhkan? Aku capek merasa tidak diinginkan kehadiranku di hidupmu. Aku juga punya perasaan, jangan mempermainkan perasaanku walau kau pikir aku sudah kebal dengan perlakuanmu.

Aku di sini berusaha ikhlas, tapi bolehkah aku menerima sejumput rindu darimu? Bolehkah aku menikmati senyummu walau hanya dalam jauh? Bolehkah aku memelukmu walau hanya dalam mimpi? Sejujurnya, aku ingin tertawa denganmu, bahagia dan aku ingin sekali memiliki senyummu.

Advertisement

Aku tak perlu memberitahumu tentang seberapa rasa sukaku padamu. Rasa ingin memilikimu setiap hari, rasa merindukanmu dalam tiap hembus nafasku. Apalagi membutuhkanmu, membutuhkanmu itu tentu saja iya karena aku bukan siapa-siapa tanpamu.

Tapi kali ini aku menyerah, karena seberapa besar rasaku padamu. Di matamu aku semu. Bagaimana mungkin jika aku terus bertahan mencintaimu tanpa balasan, melihatmu memberikan cinta yang lebih untuknya, untuk gadis yang aku tidak tahu-lebih-kurangnya-dariku.

Biarkan aku bermimpi seolah pemimpi yang tinggi. Biarkan aku berkhayal seolah pengkhayal yang hebat. Itu semua agar aku bisa merasakan bagaimana dicintai olehmu walau hanya dalam ruang mimpi dan khayalku. Itu saja. Tidak lebih. Iya aku tahu khayal dan mimpi itu hanya dalam angan, bukan dalam kenyataan, aku tahu pada akhirnya aku juga yang sakit.

Aku lelah jika terus memberikan cintaku dan tak digubris sama sekali olehmu.

Kerinduan mungkin akan merajalela dalam diriku, menjelma dengan setetes air mata, berharap jika kau datang dan akan menghapusnya, andai saja.

Hanya ada rasa rela-tak rela yang lemah. Tak ada yang tersisa, tak ada kata-kata yang menjelma kata sapa. Aku hanya bisa menerima jika ini memang seharusnya.