Kelihatannya asyik memang bisa tinggal di perantauan. Mendapatkan pengalaman baru, mendapatkan teman baru, merasakan suasana dan lingkungan yang baru dan berbeda, bahkan bertemu orang-orang baru. Semuanya serba baru. Tapi jika rindu pada kampung halaman beserta isinya menyerang batin dan fikiran, apalagi yang bisa dilakukan selain melakukan komunikasi hubungan jarak jauh?

Beruntung teknologi sekarang sudah berkembang pesat dibanding masa lampau. Manusia bisa saling bertatap muka melalui layar walau berkilo-kilo jarak memisahkan. Bisa saling berkirim kabar dalam hitungan detik melalui pesan teks. Rindu ingin bertatap muka? Gunakan saja gadget untuk melakukan video call. Jika tidak memiliki smartphone untuk ber-video call-an bisa pergi ke warnet. Toh, mencari warnet di zaman sekarang sama mudahnya dengan mengancingkan baju.

Ingin yang lebih sederhana? Telpon saja! Tak perlu menggunakan gadget canggih untuk bisa menelpon. Bahkan komunikasi yang lebih sederhana pun ada, melalui pesan teks. Dibandingkan dengan masa lampau yang berkomunikasi melalui surat yang dikirmkan lewat pos, berhari-hari baru bisa sampai, bukankah saat ini teknologi memudahkan kita?Meskipun begitu, ada saat-saat di mana kita membutuhkan sosok ibu maupun ayah dalam visualisasi nyata, bukan maya. Yang teknologi belum mampu mengatasinya.

Misalnya saja ketika kita dilanda kesedihan yang mendalam, membutuhkan pelukan hangat dari ibu serta belaian kepala dari ayah. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Merindukan kenyamanan ketika berada di pelukan ibu. Merindukan wejangan yang diberikan ayah sambil mengelus kepala dan menepuk bahu. Merindukan selingan canda tawa ketika makan malam bersama keluarga.

Bahkan bisa jadi kita merindukan teriakan dan omelan ibu dengan eksyen sapu lidi terangkat di tangan kanan, mengancam hendak memukul dengan sapu lidi, walaupun sebenarnya hal tersebut hanya sekedar ancaman kosong 😀 Ketika segala perasaan rindu ini melanda, apalagi yang bisa dilakukan selain menangis sendiri di kamar sambil memeluk guling? Secanggih apapun teknologi membantu kita mengurangi rasa rindu, teknologi belum mampu mengobati rasa rindu dengan visualisasi nyata.

Advertisement

Teruntuk seluruh anak rantau di bumi pertiwi, bersabarlah, kawan! Pada saat-saat tertentu, justru kita lebih bisa memaknai dan mensyukuri kebersamaan dengan keluarga, yang tidak bisa kita lakukan setiap hari setelah menjadi anak rantau. Merasakan bahwa kebersamaan bersama keluarga adalah hal yang berharga, sehingga lebih bisa menghargai setiap momennya.