Tidak ada kata-kata indah yang terangkai dari tulisan ini. Aku membuatnya sedemikian rupa sehingga seolah hanya kata sederhana tanpa makna berarti. Ya, sederhana saja seperti aku mendoakanmu dan berharap engkau yang terakhir. Sederhana ketika aku lebih menghargai rasa cukup bahagia dari pada perasaan sangat bahagia. Karena aku ingin cukup bahagia itu akan tumbuh menjadi hal yang lebih istimewa suatu saat nanti. Dalam kata dan dalam do’a, aku tak berani bertindak melebihi ini wahai engkau yang membuat nyaman. Aku takut engkau tak menyukai perlakuan yang berlebihan itu. Maka aku putuskan untuk mengurai cerita ini sendiri dalam doa.

Ketika aku hanya melihat dari sisi gelapku yang hampir putus asa, kau menunjukkan sikap betapa bodohnya aku telah menyerah dengan semuanya. Sempat aku benar-benar menyerah untuk terus menggapaimu. Kau terlalu jauh kala itu sangat jauh seakan-akan. Hingga tersadar bahwa aku tak bisa membiarkanmu selalu dalam kesendirian.

“aku ingin menemanimu bagaimanapun alasannya ”.

Kau pun hampir putus asa bukan? Ketika aku mencoba perlahan menjauh dan berdiam diri kala itu. Lewat kata-kata yang tak bisa tersampaikan, aku menangkap semua maksudmu. Tapi kini kita telah lepas dari segala rasa ingin menyerah itu bukan?

Semakin dekat kita saat ini semakin aku sering berdoa dalam hati. Mengamini setiap doa baik orang lain akan kedekatan kita. Tak muluk-muluk, dengan berceloteh, bercanda, menggodamu dan memberi nasihat kecil sudah membuatku lebih dekat denganmu. Jika ditanya tentangmu, aku hanya bisa menjawab ‘doakan saja ini yang terakhir’. Tanpa basa-basi dan cukup singkat.

Advertisement

Namun begitu mereka tetap saja bertanya tentang kita. Ya, tentang kita. Aku serahkan doa yang memutuskan nanti bagaimana cerita kita bermuara.

Dari seseorang yang meminta doa baik tentang kau dan aku.