Saya suka ke toko buku dan melihat perkembangan perbukuan di Indonesia. Dari ratusan buku yang nangkring di rak itu, berpuluh-puluh buku berlomba mengusung tema tentang pendidikan karakter, karakter untuk anak muda, sampai membangun karakter untuk anak sekolah. Ya, buku yang saya cari tidak ada—karakter dalam hubungan pacaran.

Banyak dari kita merasa hampir-hampir putus asa ketika harus bolak-balik patah hati, putus cinta, sampai ditinggal kekasih. Kalau betul, seharusnya sudah waktunya untuk membuka mata dan telinga lebih lebar. Kok bisa terjadi? Sederhananya, kita mesti belajar soal karakter dalam hubungan berpacaran, sampai kualitas hubungan itu sendiri. Menemukan kekasih memang bukan perkara gampang, apalagi belahan jiwa yang setia bertahan hingga ke pelaminan. Nah, itu lho gawatnya! Sudah menjalin hubungan bertahun-tahun, eh impian hati tahu-tahu pergi meninggalkan. Bagaimana dong?

Saya sudah membuka telinga lebar-lebar untuk itu. Faktanya, ada banyak alasan mengapa seseorang pergi meninggalkan yang lain; padahal hati masih mencintai. Alasan-alasan klasik yang memuakkan tidak perlu dibahas. Hari ini, prioritas kita adalah tentang strategi mempertahankan hubungan agar keduanya bisa bersama.

Kabari VS Posesif

Banyak hubungan menjadi retak karena si pasangan sulit dihubungi, alias selalu mengilang tanpa kabar. Hati mana yang tak jengkel kalau sudah begitu? Sama halnya seperti tidak memberi kabar, konfrontasi lainnya yang sejenis adalah soal posesif. Si dia selalu mengejar-ngejar kamu ke manapun kamu berada? Telepon tidak cukup sekali dalam satu waktu? Oke deh, dua masalah di atas sama-sama krusialnya, kok. Karena komunikasi selalu menjadi nomor satu, usahakan menjadi pribadi yang seimbang. Rajin-rajinlah memberi kabar pada pasangan agar dia merasa dihargai. Selain itu, memberi kabar secara konsisten membuat pasangan kita selalu merasa aman dan nyaman. Beralih ke topik sebelah soal posesif, menjadi seimbang berarti menanyakan kabar tanpa pengulangan. Kalau terus ‘meneror’ pasangan dengan keharusan memberi kabar dan ada indikasi mengekang, siapa yang tak ingin lekas-lekas kabur?

Advertisement

Memahami atau Mengetahui?

Banyak wacana soal memahami pasangan, tapi buktinya selalu gagal fokus? Jangan tertipu dengan kata 'mengetahui', ya. Kamu tahu kalau pasanganmu paling benci jika kamu mengungkit-ungkit masalah yang telah berlalu? Kamu mengetahui kalau si dia tidak suka bila kamu selalu ngilang tanpa kabar? Sekadar tahu itu dangkal, friend! Tahu itu hanya permukaan, tapi memahami itu mulai bisa berempati terhadap kebutuhannya. Kalau kamu tahu, apa dong yang harus kamu lakukan—it is the answer! Tahu 'kan kalau kita senang ketika orang lain bisa menghormati kebutuhan kita? Sama halnya dengan itu, kamu harus bisa memahami pasanganmu secara utuh. Jika kebutuhannya itu tepat dan tidak menyimpang, apa salahnya berhenti mengungkit-ungkit masalah yang telah berlalu? Rasanya adil 'kan jika kamu selalu memberi kabar pada pasangan? Memahami selalu bisa menjawab masalah, tapi mengetahui hanya sebatas, ‘Oh, I know!’. Eh, tapi jangan salah. Jika kebutuhan si dia tidak realistis dan kelihatan menyimpang, tidak benar bila kamu memahaminya secara utuh. Bisa membedakan, bukan?

Kejutan?

Kejutan cuma ada di hari ulang tahun? Basi! Ayo deh mulai menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk pasangan. Tidak harus dengan kue tart besar atau kado dengan budget yang tinggi, kok. Kamu bisa memulainya dengan memberi lukisan karikatur jika kamu hobi menggambar. Atau menyiapkan makanan kesukaannya untuk dinner akhir pekan kalian di rumahmu. Oh ya, jangan cuma melakukannya di hari-hari penting, lho. Tahu 'kan kalau semua hari itu penting bersama si dia? Ciptakan kesan kalau memang dia berarti dengan mencoba menjadi pribadi yang penuh kejutan dan kreatif buatnya. Simple, tapi selalu berkesan. Hubungan yang penuh kejutan tidak pernah flat dan membosankan.

I will……..

Apa yang kalian bicarakan ketika bertemu? Soal hobi masing-masing? Kegiatan seharian? Sampai masalah yang dihadapi? Sip. Apapun yang kalian perbincangkan, selalu kaitkan itu dengan kualitas hubungan, ya. Salah satu obrolan dengan pasangan yang dinilai cukup berbobot adalah pembicaraan soal masa depan. Mendiskusikan mengenai masa depan membuat pasangan mengenal kita seutuhnya. Apa passion-mu? Mengapa memilih menggeluti bidang itu? Apa langkahmu selanjutnya? Dan apa kabar impianmu? Bicara soal future memang selalu menggairahkan. Karena kenapa? Kalau Allah menghendaki, bisa jadi impianmu itu terwujud bersama dia.

Cintai Kelemahannya

Seorang psikolog pernah berkata begini di sebuah ruang seminar, “Memilih pasangan hidup itu berarti mencintainya bersama kelemahannya”. Setuju? Semua orang jelas setuju, tapi hakikat dari kalimat sakti itu sendiri sulit diwujudkan. Lalu dia memberi contoh yang konkret, yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Contohnya kali ini sungguh-sungguh menginspirasi. Begini katanya:

Kalau pasangan saya terlalu pendiam dan suka menjawab dengan kalimat-kalimat singkat, bagaimana menurut kalian? Jengkel? Awalnya saya juga begitu. Tapi lalu saya menjadi sadar kalau dengan kekurangannya itu, kecerewetan saya menjadi bermutu. Orang-orang menjadi mendengarkan saya dan saya tidak perlu berebut bicara dengannya. Pelan-pelan, saya mulai tahu kalau passion saya memanglah dalam hal speech. Lucu, 'kan? Kelemahannya itu membuat saya menyadari siapa saya sesungguhnya.

Kalian senyum-senyum ketika baca ini? Ayo, teliti lagi hatimu deh!

Percaya Kok Setengah-Setengah?!

Percaya kok dibagi-bagi? Memangnya konsentrasi? Begitu juga dengan mempercayai pasangan, kita harus tahu kalau fondasi utama membangun hubungan yang langgeng itu didasarkan pada dua hal—komunikasi dan kepercayaan. Kalau masih suka mengecek chat BBM atau stalking akun media sosial pasangan, teliti lagi deh tingkat kepercayaanmu pada si dia. Kamu khawatir mantannya menghubunginya kembali? Atau dia punya selingan lain? Kalau kamu sudah mengenalnya dengan baik dan melalui proses pendekatan yang utuh, seharusnya kamu kenal betul pasanganmu. Maka dari itu, pendekatan menjadi ajang yang tepat untuk menyelami kepribadiannya secara lengkap. Jangan memutuskan kalau kamu belum yakin. Sama halnya, tidak perlu stalking sana-sini kalau kamu sudah yakin, 'kan? Karena apa? Tidak ada orang yang suka dimata-matai! Memangnya dia anak kecil?

Jangan Maju-Mundur!

Masalah klasik! Dia lari karena kamu tidak bisa memberi kepastian? Begini deh. Tegaskan pada dirimu tentang kriteria pasanganmu—dia memang kriteriaku atau tidak. Kedua, tanyakan kembali ke dalam hatimu, apakah kamu memang benar-benar nyaman bersamanya. Selanjutnya, kamu bisa mulai membayangkan—pantaskah aku bersanding bersamanya. Saya tahu, banyak pertimbangan rumit yang harus diambil, dan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk menegaskan hal itu. Tapi, kalau kamu tidak juga memberi kepastian padahal umur kalian terus berjalan, bisa-bisa pasangan berputar haluan dan mencari orang yang lebih tegas soal keputusan. Jadi, kalau kamu memang yakin dengannya, jangan terlalu lama mencari alasan untuk memberinya kepastian. Karena apa? Siapapun, selalu butuh kepastian untuk rencana masa depan yang lebih akurat.