Dua buah arloji: dua-duanya habis baterai. Dua botol parfum: habis bertahun-tahun lalu. Dua buah gelang emas: yang satu hilang di jalan. Entah berapa pasang anting-anting, terhitung sejak aku menginjak usia 6 tahun. Boneka-boneka perca, satu pot daun sop, entah berapa setel baju. Nenek selalu punya alasan untuk menghadiahkan barang-barang ini padaku.

Nenek bukan anggota keluarga yang hanya kusambangi saat Lebaran saja. Saat kecil, ia seperti ibu kedua. Kami pernah terjaga hingga subuh menonton serial televisi. Ratusan malam menginap penuh dengan obrolan basa-basi maupun bukan basa-basi; mengenai cowok, sekolah, Ibuk, teman-teman, dan cerita-cerita tentang kakek atau tahun-tahun lampau di Medan. Satu perbincangan dengan suami baruku tentang bagaimana aku harus dijaga dan dikasihi.

Ada ribuan ingatanku tentang Nenek. Aku cucu pertamanya, beliau menganggapku anak perempuannya paling bungsu. Selama beberapa bulan ketika aku masih di taman kanak-kanak, aku tinggal bersama nenek. Beliau membuatkan aku bekal makan siang tiap hari dan menyematkan kantung plastik kecil berisi uang saku di bagian dalam seragamku. Satu waktu penitinya menusuk dadaku karena beliau terburu-buru. Nenek pulalah yang mengisi celenganku – setelah berulang kali kosong karena selalu kukorek keluar uang dari lubangnya.

Tidak ada yang spesial tentang nenek. Aku mewarisi tubuhnya yang tinggi besar dan, sayangnya, juga emosinya yang berubah-ubah. Darah Sumatera-nya kental di lidah dan perilaku. Rumahnya bersih rapi dan wangi entah karbol entah pewangi ruangan. Nenek punya 14 cucu. Semua boleh tidur di rumah nenek – kesemuanya harus ikut beberes atau Nenek akan mencak-mencak di akhir hari. Selera humor Nenek termasuk menakut-nakuti cucunya dengan gigi palsu, gigi palsu yang tidak sengaja lepas ketika beliau sedang berbicara, dan cerita tentang seorang kerabat yang tidak sengaja meminum air di gelas rendaman gigi palsu. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, nenek masih aktif bepergian. Jakarta – Medan – Surabaya sudah menjadi rutinitas. Nenek juga tinggal selama beberapa waktu di Chicago dan Melbourne. Nenek populer. Beberapa temannya masih dapat kupanggil “Tante”. Salah seorang temannya, Buk An, adalah artis pengajian komplek perumahan kami. Anaknya enam. Anaknya paling bungsu jadi calon walikota. Semua orang kenal Buk An – di Bogor, Medan, maupun Surabaya.

Ingatanku mengenai nenek simpang siur. Ada tahun-tahun yang timbul-tenggelam dan percakapan-percakapan yang diredam waktu serta giat aktivitas. Kematian tidak pernah memberikan kita cukup waktu untuk bersiap. Seingatku, tidak pernah kucicipi kari kambing, gulai, rendang, dan nasi biryani seenak buatan nenek. Lebaran terakhirku dengan Nenek, kami memasak untuk 25 orang. Kupijat lengannya. Baru kusadari kulitnya makin keriput, tipis seperti kertas yang diremukkan, kemudian diluruskan kembali. Waktu itu ada rasa takut merayapi hatiku; takut dan sesal. Ada masa-masa ketika teleponnya tidak kuangkat dan pesannya tidak kubalas. Ada masa-masa aku menolak menginap di rumahnya, yang hanya tiga rumah jaraknya dari rumahku. Aku tidak ingat hampir setengah percakapanku dengan beliau karena kudengarkan sambil lalu; anak perempuan Ibu E. baru lulus kuliah, anak perempuan Ibu B. baru menikah, anak Ibu C. mendapat pekerjaan di perusahaan anu, si anu dan si anu sekolah ke luar negeri. Nenek menginginkan hal-hal ini terjadi padaku, karena kebahagiaanku kebahagiaannya pula.

Advertisement

Setelah aku lulus kuliah dan pindah ke Rumania, Nenek mulai sering sakit. Keluarga kami punya grup perbincangan di WhatsApp dan aku tidak pernah begitu terlibat dalam perbincangan bude-bude dan sepupu-sepupuku. Satu hari, setelah lebaran tahun ini, ada berita Nenek masuk rumah sakit lagi. Kuhubungi semua kerabat siang-malam hingga aku dapat berbicara dengan Nenek. Lucu, karena ketika Lebaran menjelang, komunikasiku dengan keluargaku pun minim. Tangisku merebak mendengar suara Nenek. Saat itu aku sadar ketakutanku satu: aku tidak ada bersama beliau di masa-masa terburuknya. Itulah kali pertama aku ingin pulang ke Indonesia.

Itu pula kali pertama aku sadar, selama ini aku (dengan keliru) menganggap beliau akan selalu bersamaku di masa depan — hanya karena beliau selalu ada di masa silam.

Nenek memang selalu ada dalam fase-fase perubahan usiaku, ketika sisa terakhir masa kanak-kanakku bergantung pasrah pada kuliah dan pekerjaan, ketika aku ingat dan lupa bahwa keluarga tidak akan lepas darimu sejauh manapun kakimu lari. Ada foto-foto dan surat-surat yang tidak pernah sempat kukirimkan. Ada banyak hal yang tidak pernah aku utarakan karena kuanggap nanti, nanti – bagiku nenek akan hidup selamanya.

Jika aku kembali ke tanah air hari ini, aku akan menemukan rumah Nenek masih rapi seperti biasa. Kamar utama dengan seprai masih licin, kamar sebelah berbau lemari dan matahari. Buku-buku lama dan ensiklopedia dalam lemari buku di ruang keluarga dan minyak wangi Arab di atas televisi. Aku masih akan disambut cermin besar di ruang sholat dan makanan lama di dalam kulkas.

Di kepalaku, Nenek sudah berusia 64 selama bertahun-tahun – seperti halnya Ibuk yang bagiku masih 36. Di kepalaku, jika aku mengangkat telepon dan bertanya “Nenek! Apa kabar, Sayang?”, Nenek masih akan bercerita tentang teman-teman pengajiannya atau khasiat serbuk kunir putih yang rutin dikonsumsinya. Di kepalaku, hampir tidak ada yang berubah.

Tapi tentu saja realita tak selalu berjalan menurut isi kepala. Sekarang, aku sedang dalam perjalanan untuk merelakannya.