Bagaimana seseorang bisa menghapus rasa yang ada di hatinya? Bagaimana seseorang bisa menghapus kehadiran seseorang dalam hidupnya? Bagaimana seseorang bisa begitu membenci seseorang yang pernah mengisi harinya?

Harapan itu adalah jawaban dari pertanyaan tadi. Manusia yang punya harapan akan seseorang, akan jodoh ataupun kekasih hati, ketika perasaan itu menikuk tajam: maka sisanya adalah kesedihan, penyesalan, kekecewaan.

Setiap manusia dikaruniai sebuah rasa. Di mana perasaan ini terkadang jatuh di tempat yang salah. Perasaan cinta yang terlalu berlebih kepada lawan jenis sebelum ikatan halal terjalin; akan menimbulkan luka. Ketika apa yang di harapkan tak sejalan dengan kenyataan. Kekecewaan yang timbul akan menyebabkan luka, luka mendalam pada hatinya, bahkan trauma akan cinta bisa saja terjadi.

Lalu apa yang bisa dilakukan dengan perasaan terhadap lawan jenis? Tak mudah menghapus rasa ketika hati sudah memutuskan untuk menancapkannya kepada seseorang. Harapan yang terlalu berlebih kepada manusia, kepada hati yang masih penuh dengan onak dan duri sifat negatif, hanya akan membawa luka mendalam. Lebih baik kita menaruh harapan kepada Sang Pemberi Harapan, kembali kepada Sang Khalik.

Dia yang punya izin dan kita hanya punya ingin. Ketika tak kau dapatkan apa yang kau inginkan, ketika ekspektasimu terhadap seseorang tak sesuai kenyataan, maka dirimu hanya akan merasakan luka. Patah hati akan sebuah rasa yang belum tentu berakhir bahagia.

Advertisement

Tak mudah, sungguh; mengobati patah hati. Beribu petuah dari orang lain, beribu nasihat yang terucap tak akan mampu mengobatinya.

"Kun fayakun!" Ah, itu tak mungkin terjadi pada orang yang terlanjur dipatahkan hatinya.

Hanya waktu dan memang biarkan waktu yang akan menunjukkan cerita terbaiknya. Manusia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi untuk mengobati patah hati, butuh waktu lama. Satu bulan, dua bulan, satu tahun, dan bahkan ada yang bertahun-tahun. Kerana perasaan tak semudah itu untuk di bolak-balikkan. Kembali mengadu pada Sang Pemilik itulah jalan satu-satunya. Bukan mencari hati yang baru untuk sekedar pelampiasan!

Tentang cinta yang akhirnya melukai akan berubah menjadi sebuah kebencian. Kebencian akan seseorang yang memberi luka; tak ayal itu adalah sebuah kesalahan karena telah menanamkan hati pada seseorang yang tak tentu akan jadi pelabuhan terakhir dalam kehidupan. Bukan benci dengan rasa yang tertanam, tapi membenci akan sosok yang telah salah dijadikan pilihan.

Rumit.

Ini bukan salah kita karena kita tak bisa mengatur rasa.

Tapi, ini pun salah kita karena mencintai seseorang yang belum tentu akan jadi bagian dari hidup kita.

Dan akan sebuah hal ini, hendakanya kita memulai introspeksi diri. Jangan pernah tanamkan rasa jika kita belum siap untuk menyemainya; belum tahu aturan mainnya; belum siap untuk terluka; belum siap untuk menjalin keseriusannya.

Karena rasa tetaplah rasa, yang manusia berhak punya