Aku masih ingat awal perjumpaan kita, saat itu atas dasar ketidak-sengajakanan yang disyukuri. Kita saling tatap, sekejap lalu berdetak sebuah desiran dalam dada yang memaksaku memberikan senyumku. Kau pun melakuakan hal yang sama, membalas apa yang kulakukan.

Semenjak hari itu aku terus berharap pada ketidaksengajaan yang terulang kembali, bahkan aku membuat perjumpaan yang kusengaja seolah tak terencana. Semakin hari semakin menjadi, bukan hanya aku, tapi juga kamu yang keranjingan untuk bertemu. Kita semakin dekat, semakin nyaman lalu jadian.

Kita saling bercerita segala hal. Keluh kesah, sumpah serapah, kabar bahagia, senda gurau ahkan rindu kita ungkap secara gamblang. Tak ada yang perlu ditutupi.

Entah atas sebab apa, hubungan kita sedikit berbeda. Ada sesuatu yang janggal. Aku merasakan kamu berbeda dan kaupun juga menganggapku berbeda. Pertengkaran tak terelakan lagi, saling menyalahkan lantas pisah.

Kita memutuskan menjalani hidup sendiri-sendii, membuka lembar baru. Tidak ada lagi sapaan sayang, ucapan selamat pagi, atau sekedar memberi semangat untuk sesegera menyelesaikan studi dan mendapat pekerjaan lalu melamar. Kini aku benar-benar menjalani hari dengan kesendirian. Aku mencoba mengintrospeksi diri atas segala hal yang kita lalui. Mencoba mendengarkan nasihat lamamu dan cacian kemarin tentang sikapku. Aku mencoba keluar dari diriku dan melihat diriku dari sisi yang lain, yang lebih dewasa. Dan aku mendapati hal-hal yang kau ucapkan benar.

Advertisement

Awalnya aku menyumpah-serapahimu atas perpisahan kita. Perpisahan itu begitu membuatkku mengisak. Terlebih aku yang memang masih menyimpan rasa terhadapmu. Tapi ini, tidak ada lagi sumpah-serapah dan penyesalan atas hubungan kita. Aku tersadar banyak hal bahwa aku harus banyak memperbaiki diri. Cacianmu saat itu menjadi cambuk untuk membuat perbahan besar.

Terima kasih atas waktumu bersamaku. Nasihat-nasihatmu akan kujadikan pacuan untuk maju ke depan.