Ada hal yang menarik yang selalu saya amati setiap kali saya pulang ke kampung halaman tempat kakek saya, saat momen lebaran tiba, kakek selalu nampak tersenyum bahagia melihat anak-anaknya beserta keluarganya berkumpul lagi. Ada suatu ekspresi bahagia yang sulit untuk dijelaskan. Bahkan suatu waktu, kakek saya sering menanyakan cucunya yang sering tidak ikut pulang bersama ayahnya.

Sebenarnya saat seorang kakek bertemu dengan cucunya hanya hal-hal yang nampak sederhana yang akan ditanyakan, seperti “bagaimana kuliahnya” dan “bagaimana keadaannya”. Dan terkadang karena faktor komunikasi yang terkendala oleh pendengaran kakek yang tidak setajam dulu, saya menjadi sedikit agak malas untuk menceritakan banyak hal. Karena seringkali harus mengulang-ulang dengan nada yang agak sedikit keras.

Namun saya menangkap suatu hal yang sangat unik, kakek tetap tersenyum dalam menanggapi cerita saya yang saya kira tidak terdengar jelas olehnya. Dari senyuman kakek, saya banyak belajar tentang sebuah kebahagiaan non-material yang berarti begitu besar bagi para lansia pada umumnya. Terlepas dari segala materi yang diberikan, senyum yang paling hangat itu saya lihat ketika kakek saya mendapatkan kunjungan dari anak-anak beserta cucunya.

Dari sana saya berusaha belajar tentang suatu rindu di seberang kota yang sudah jarang kita dengar.

Ketika satu persatu ambisi dan impian kita terpenuhi seiring dengan melajunya waktu, maka mungkin saja, hal-hal yang kita dapat saat ini merupakan jawaban dari bisikan lirih doa orang-orang yang mencintai kita di kala tengah malam. Orang-orang yang tidak pernah meminta kita untuk mendoakannya kembali.

Advertisement

Ya, tentu, masing masing dari kita memiliki alasan untuk terlalu sibuk bergulat dengan suatu aktivitas ambisius dengan tujuan keterjaminan finansial dan kecukupan materi di masa mendatang. Dan tentunya tidak ada siapapun yang berhak melarang hal tersebut. Karena seiring dengan melajunya waktu, banyak hal yang harus diraih dan dimiliki seorang individu dalam hidupnya.

Sementara itu di seberang tempat yang lain, di kala kita terbangun yang terlintas dan memenuhi kepala kita sepanjang waktu mungkin hanyalah kumpulan-kumpulan persoalan duniawi nan rumit yang saling berkejaran dan berlomba-lomba menghindari suatu batas garis bernama ''deadline". Kemudian dilanjutkan dengan rutinitas harian kita yang saling berdesak desakan berebut dengan waktu yang begitu pendek untuk menguasai seluruh harimu, dan mungkin akan begitu seterusnya.

Seiring dengan ambisi yang kian meninggi dan ego yang kian tak bertepi, perlahan mungkin dengan menyempitnya waktu dan melebarnya jarak akan membuat kita melupakan beberapa orang yang terus mendoakan kita dari seberang sana. Kita mungkin terus saja berlari memeluk erat apa yang dimiliki atau berlari mengejar apa yang diimpikan.

Namun kita melupakan suatu hal, bahwa waktu pun ikut berputar, mengejar sejauh apapun kita menghindar. Ia akan mengejar, bahkan bisa jadi akan merenggut hal paling berharga yang kita miliki. Entah itu berbentuk hal-hal indah yang kelak hanya akan menjadi kenangan ataukah peristiwa terhebat dalam hidup kita yang bahkan hanya akan dimuat dalam koran usang puluhan tahun silam.

Sesekali di tengah-tengah kesibukan yang selalu kita tuan-kan, ingatlah tentang kedua orang yang telah dengan sangat tulus mendoakan keberhasilan kita dari seberang tempat yang bahkan tak akan kita dengar bagaimana bait-bait indah dalam setiap permohonan doanya berbunyi. Sesekali atau bahkan sempatkanlah melihat bagaimana garis-garis kerut di wajahnya, lingkaran hitam di bawah matanya serta warna keputihan di sela-sela rambutnya mulai tampak nyata.

Atau jika kita terlalu sibuk untuk melakukan hal tersebut, setidaknya kabarkan bahwa kita sedang dalam keadaan baik-baik saja di tempat kita berada sekarang. Setidaknya hal tersebut bisa mengurangi kecemasan mereka terhadap kita yang tak pernah lagi mengirimkan kabar. Mungkin beberapa tahun lagi kita akan menyelesaikan studi, dan seorang aktivis ataupun individu kutu buku yang terlampau sibuk berkejaran dengan waktu akan menjelma menjadi seseorang yang mungkin akan merintis karrier cemerlangnya ke tempat lain yang lebih jauh.

Tentu, lebih jauh dari orang yang semasa waktu sibuk telah jarang kita sapa atau bahkan kita tanyakan kabarnya. Dan, cepat atau lambat waktu akan merenggut beberapa hal-hal berharga yang mungkin pernah kita acuhkan begitu saja. Bahkan kita ketakutan akan kehabisan usia, namun waktu tak akan pernah berhenti, ia akan terus berputar menghabiskan sisa usia yang tertinggal. Entah usia siapapun itu, mungkin seseorang yang kelak akan sangat kita rindukan senyumnya dan sambutan hangatnya saat kita pulang ke kota lama tempat kita pernah dibesarkan.

Dan pada akhirnya, sesuatu yang telah kita kejar dan pertahankan dengan erat akan hilang sebelum kita benar-benar merasakannya, atau mungkin terbawa waktu untuk kemudian menjadikannya sebagai pelajaran bagi insan yang lain.

Apapun itu, semoga kita tidak pernah terlambat. Pulanglah, sesekali tengoklah beliau yang rindunya mungkin tak terdengar oleh kita, tanyakan bagaimana kabarnya, izinkan beliau menjadi barisan orangtua yang bahagia karena selalu dapat melihat senyum putra putrinya beserta cucunya yang berada di dekatnya. Bukan setiap hari, namun sesering yang kita bisa untuk membuatnya tersenyum bahagia saat melihat kita menjadi insan yang berhasil dan tetap mengingat tempat untuk kita datangi dalam setiap waktu luang kita.