Haruskah mengalah pada uang? Iya, aku kalah dengan lembaran merah itu.

Aku lelah, capek, bosan, jenuh, kehidupan sangat tidak adil bagiku. Aku gadis baik, pintar, cantik, kuat dan sabar. Bukan aku yang bilang, tapi mereka, mereka yang katakan itu. Apa benar yang mereka katakan padaku? Aku cantik? Baik? Pintar? Strong women? Sabar?

Tidak aku tidak seperti itu, aku tidak sebaik yang mereka pikir. Aku bukan wanita yang didambakan setiap laki-laki, aku tidak seperti itu. Aku tidak sebaik itu. Tapi akupun tidak seburuk mereka yang men-judge diriku.

Diam-diam aku menyerah. Aku kalah. Aku lelah dengan kehidupan. Aku ingin pergi dari semua yang mengekangku dan harus selalu mengagungkan kesabaran. Bertahun-tahun bertahan, bertahan dalam jerit dan tangis, dalam bungkam yang tak mampu kusuarakan, dalam bulir air mata yang aku telan sendiri. Di bawah kegelapan yang sama sekali tidak bertepi. Aku menyerah! Aku kalah!

^^^^^

Advertisement

Aku Sean, gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Kesederhanaan yang selalu kunikmati. Kesederhaan yang selalu bisa membuatku tertawa. Kesederhanaan kasih seorang nenek yang bisa menggantian posisi ibu setelah ia meninggal ketika usia ku baru 8 tahun.

Tangisku perlahan pergi, dukaku perlahan kabur, waktu bisa menyembuhkan jiwa ini dari sakitnya kehilangan. Waktu, nenek, dan kakak yang membuatku terbiasa bisa menjalani hidup tanpa seorang ibu, biarlah ibu damai di surga.

Aku Sean, usiaku 10 tahun ketika kakak perempuanku dinikahi seorang yang dia cintai, seorang yang bisa membawanya pergi dari tangis tak kunjung padam sepeninggalan ibu. Mereka bahagia, suaminya bisa mengembalikan senyum manis di wajah kakak yang cukup lama tak terlihat.

Kini aku berdua dengan nenek, tanpa kakak yang selalu menemaniku. Hanya berdua tanpa ibu yang telah di surga, tanpa kakak yang telah hidup bahagia. Aku tak lagi bersedih akan hal itu, mereka telah menemukan tempat yang bisa membuat mereka bahagia, karena akupun kini bahagia dengan nenek yang sangat aku cintai.

^^^^^

Usiaku 13 tahun dan nenek mulai sakit-sakitan, aku takut, kalut dan takut sekali jika nenek juga akan meninggalkanku. Takut jika aku harus kehilangan satu-satunya orang yang aku miliki. Bagaimana hidupku nanti jika nenek tak lagi ada disampingku, akankah aku sanggup menghadapi kejamnya dunia sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Entahlah.

Dengan uang yang sesekali diberikan kakak, aku bisa tetap pergi sekolah. Aku dan nenek tetap bisa makan. Hanya kakaklah yang menjadi harapan saat itu. Walau kini memang kakak telah berkeluarga, namun dia tak jarang menemuiku dan nenek di rumah rotan sederhana milik kami.

Semakin keras sakit yang nenek rasakan, tak tega rasanya melihat nenek tersiksa seperti ini, aku tak tega melihat nenek yang hanya terbujur kaku di tempat tidur. Dalam sakitnya, nenek masih saja peduli padaku. Nenek masih saja mencemaskan hidupku.

“Ndo, jika nenek pergi nanti, kamu harus bisa jaga diri, sekolah yang benar, jadi wanita sholeha yah Ndo, rajin ngaji, do’akan nenek dan ibumu juga kakakmu. Kamu harus janji Ndo, apapun yang terjadi, sebesar apapun cobaan hidupmu jangan pernah menyerah, karena Gusti Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar”

Kata-kata itu membuat tangisku tak tertahan, kenapa nenek bicara seolah-olah ia akan benar-benar pergi meninggalkanku, sungguh aku tidak ingin mendengar kalimat itu lagi.

Aku takut sendiri. Aku tidak mau sendiri.

^^^^^

Nenek, kenapa nenek tega meninggalkanku sendiri, sekarang dengan siapa aku berbagi cerita, dengan siapa aku akan berbagi tawa, pada siapa aku harus bersandar ketika aku merasa dunia begitu asing untukku, kenapa nenek pergi?

Sekali lagi aku harus merasakan sakitnya kehilangan.

Ibu yang meninggalkanku di saat usiaku masih terlalu kecil, Ayah yang merantau dan hanya setahun sekali mengunjungiku bahkan itupun jarang, kakak pertamaku yang juga pergi di saat ia berjuang melahirkan dalam kesakitannya hingga ia menyerah. Kenapa? Kenapa ENGKAU lakukan ini padaku? Kenapa Kau ambil orang-orang yang aku miliki, dan sekarang Kau juga mengambil nenek dariku? Di kemudian, apa lagi yang akan Kau ambil dariku? Kenapa bisa Kau berikan skenario ini untuk aku perankan, kenapa Tuhan?

Sekarang aku sendiri dirumah ini. Rumah berdindingkan kayu, beratapkan bilik. Dulu aku cinta rumah ini, rumah sederhana dengan kehidupan sederhana namun bisa aku nikmati dan syukuri. Tapi sekarang, haruskah aku masih mencintai rumah ini? Haruskah aku mencintai hal yang membuatku terluka? Haruskah aku tetap ada disini dengan seribu lara yang membuatku tak ingin kembali menatap gelapnya dunia. Aku rapuh, aku hancur, aku sendiri, hanya sendiri. Kau telah mengambil mereka Tuhan.

^^^^^

Ternyata rumah yang aku tempati telah digadaikan oleh nenek sebelum ia meninggal. Mungkin uangnya untuk biaya hidup kami, biaya makan, biaya sekolah, atau mungkin…. biaya pengobatan nenek yang selama ini aku tak tahu, karena nenek selalu menyembunyikan kesakitannya di depanku juga kak Tryana, bahkan sampai akhirnya dia menutup mata.

Mana mungkin aku bisa membayar hutang yang jumlahnya tidak sedikit itu, mau tidak mau aku harus merelakan rumah ini dan pergi dari sini.

Aku tidak lupa jika masih memiliki seorang kakak, namun bagaimana mungkin aku akan mengganggu kebahagiaannya. Aku tahu kakak akan menerimaku, aku tahu kakak menyayangiku, dan aku juga sadar selama ini, selama hidup bersama sebelum dia menikah, kakak telah cukup lama tak tertawa seolah dunia tak menyapanya lagi. Sekarang kakak telah bahagia, haruskah aku mengusik kebahagiannya dengan menjadi beban untuknya.

“Sekarang kamu tinggal sama kakak, Yah. Keponakanmu pasti senang jika ada bibi-nya disana”

“Apa aku tidak akan merepotkan kak?”

“Tentu tidak Sean, aku ini kakak kamu, mana mungkin membiarkan kamu sendiri”

“Aku sayang kakak”

“Kakak pun sama sayangnya sama kamu Sean”

Beruntunglah Tuhan masih menyisakan satu yang aku miliki. Kini aku telah bersama kakak dan tinggal di rumahnya. Suami kak Tryana juga menerimaku dengan senang hati, begitupun dengan si kecil Aresty yang baru berusia 3 tahun dan selalu riang ketika bermain bersamaku.

Perlahan aku mulai menikmati semua kehidupan.

Sebelum pergi sekolah tak lupa aku selalu membantu kakak membereskan rumah, sekedar mengepel lantai, cuci piring atau mungkin menjemur pakaian walau tak setiap hari. Aku berusaha untuk bisa melakukan semua pekerjaan rumah, karena di sini aku sadar hanya menumpang hidup pada keluarga kak Tryana walau kak Tryana tak pernah menyuruhku melakukan semua itu.

^^^^^

Aku Sean, kini usiaku 17 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA, jangan tanya dari mana biaya sekolahku! Tentu saja Ayahku masih ingat jika dia memiliki seorang anak. Ayah yang membiayai sekolahku, walau kini ia entah sedang ada di pulau mana, tapi aku tahu dia baik-baik saja. Lagi pula lebaran tahun ini ayah akan pulang.

Empat tahun hidup dengan kakakku, walau kadang aku seolah ingin pergi saja dari rumah ini. Rumah yang mendadak sangat menyeramkan. Rumah yang semula aku anggap sebagai pelindungku, kini berubah, seakan disini jua aku akan celaka.

Aku gadis baik, pintar, cantik dan rajin. Sekali lagi bukan aku yang katakan itu, tapi orang-orang yang menilaiku demikian.

Dan aku memang cantik!

17 tahun, usia remaja yang sangat tidak ingin dihabiskan dalam rumah yang penuh kebohongan itu. Rumah yang dilapisi pendustaan.

Bagaimana mungkin lelaki itu bisa lakukan ini padaku, dia adalah suami kakakku yang telah aku anggap sebagai kakakku sendiri, tidak mungkin ia ingin menjamahku. Tidak mungkin dia membelai pipiku dipenuhi nafsu. Tidak mungkin dia katakan dia mencintaiku adik iparnya sendiri.

Rumah ini bagai neraka!

Apa yang harus aku katakan pada kak Tryana, haruskah aku jujur dan berkata yang sebenarnya? Haruskah aku katakan jika suami yang selama ini dia cintai dan percayai telah menghianatinya? Suami yang selama ini terlihat baik dan dermawan di mata masyarakat telah dengan bodoh menjatuhkan wibawanya sendiri di depan gadis polos yang belum bisa mencerna semua yang terjadi sepertiku. Tuhan aku tidak percaya ini. Sungguh.

Aku bimbang dan dilema. Entah apa yang harus aku perbuat. Akankah kak Tryana menerima dan mempercayai apa yang akan aku katakan? Tapi apa yang akan terjadi jika memang kak Tryana mempercayaiku? Akankah pernikahannya bertahan? Atau pernikahan kak Tryana akan hancur?

Namun jika tidak aku katakan, apa aku setega itu membiarkan kak Tryana hidup dalam kebohongan? Apa aku rela melihat kakakku di khianati? Apa aku harus diam saja dan seolah semua baik-baik saja demi menjaga keutuhan rumah tangga kakakku? Apa yang harus aku lakukakan Tuhan? Apa? Kenapa kau berikan dua pilihan yang tak sanggup aku pilih? Kenapa Kau lagi dan lagi memberikan cobaan yang begitu berat bagiku? Kenapa.

^^^^^

Dia, lelaki itu…. untuk apa menghampiriku ke kamar? Apa yang akan dia lakukan? Dia menyentuhku, dia membelaiku. Tidak… tidak bisa… aku harus pergi dari sini.

Aku harus pergi!

Beruntung keponakanku Aresty memanggil Papahnya yang membuat lelaki bertopeng itu menjauh dariku dan segera menghampiri Aresty yang memanggilnya dari bawah.

Aku menangis, menangis dalam kesendirianku. Membanting pintu kamar dan segera menguncinya. Aku gamang, tersedu-sedu, berteriak. Berteriak tanpa bisa aku suarakan. Membantingkan semua yang ada dihadapanku. Aku marah, marah pada Tuhan yang mengharuskanku menjalani takdir ini.

Dalam pandangan yang masih nanar, dengan samar aku melihat ibu, nenek dan kak Syahni menghampiriku. Namun pandangan itu sesekali kabur, pandangan itu seperti berputar-putar dan membuat kepala pusing. Bayangan-bayangan itu seolah mengajakku pergi bersama mereka. Bawa aku ke Surga!

^^^^^

Aku Sean, akan melawan kejamnya kehidupan. Aku Sean, akan bangkit dari keterpurukan.

Sepulang sekolah, aku tak lantas pulang. menghabiskan waktu menyusuri jalanan yang dipenuhi krikil-krikil kecil. Sesekali aku mengambilnya dan melemparnya jauh, entah apa yang sedang aku pikirkan dalam perjalanan yang entah akan membawaku kemana.

Aku Sean, aku bukan seseroang yang tidak memiliki teman. Aku punya banyak teman. Namun, aku tak bisa membagi ceritaku dengan mereka, aku tak mungkin berbagi kegamanganku pada mereka. Aku tak ingin satu orangpun tahu tentang apa yang aku alami dirumah semenjak aku masuk SMA. Iya, semenjak aku tumbuh menjadi remaja dan memasuki usia SMA rumah itu berubah bagai neraka yang ingin aku hindari.

Selama ini aku menyembunyikannya dari kak Tryana. Selama ini aku menghindar dari lelaki itu. Tapi bayangkan, aku menghindar namun kami ada di rumah yang sama.

Dalam gelisah, galau, derita, kesakitan, seorang teman datang bagai Peri. Dia selalu ada untukku, dia selalu menemaniku dan membuatku tertawa. Aku heran dengannya yang bisa selalu tertawa bahagia, gonta-ganti HP keluaran terkini, tas ber-merk, jam tangan yang bagus, dan banyak hal yang menggambarkan jika dia seorang yang banyak uang. Namun, setahuku kehidupannya tidak lebih bahagia dariku. Yang aku tahu dia berasal dari keluarga biasa sepertiku. Whatever, aku tidak menghiraukan itu. Kini dia adalah sahabatku yang selalu ada untukku.

Perlahan aku mulai masuk dalam dunia sahabatku itu, dunia yang membuatku perlahan berani membuka jilbab yang selama ini menutupi anggun tubuh indahku.

Aku pergi dari rumah dengan mengenakan jilbab, namun ketika bersama sahabatku aku membukanya seolah ini tak jadi masalah berarti. Pamit sekolah namun aku tak ada disekolah. Membelokkan kaki pada tempat yang menurutku bisa memberi bahagia dan ketenangan.

Aku kalah! Kalah dengan tawaran dunia yang menggiurkan.

Semakin hari aku semakin berani, tak pulang ke rumah dalam hitungan hari. Aku tahu akan membuat kak Tryana khawatir namun itu hanya sedikit dari yang apa dia pikirkan.

Aku tak lagi pergi ke sekolah. Pergi bersama sahabatku yang juga tak sekolah. Kami jalan ke mall dengan baju mini dan rambut terurai indah tanpa jilbab yang menutupi lagi. Tanpa baju berlengan panjang yang menutupi kulit putih dan mulusku. Kini aku pertontonkan tubuh molek dan putihnya kulitku pada dunia. Dengan harapan dunia aku memelukku.

Aku memang mengenakan rok mini, baju tanpa lengan, sepatu ber-hak tinggi dan rambut terurai indah. Mempertontonkan keindahan yang kumiliki. NAMUN! aku bukan wanita murah yang memberikan kehormatannya dan keperawanannya demi uang! Aku masih menjaga mahkotaku! Aku bukan wanita bodoh yang mau kehilangan keperawanan demi selembar uang. Aku hanya memanfaatkan apa yang aku miliki untuk mendapat apa yang seharusnya aku miliki setelah belasan tahun menunggu datangnya bahagia yang tak kunjung menyapaku.

Hal yang sudah biasa ketika menemani lelaki-lelaki ber-jas dan berduit untuk sekedar jalan, mengobrol, menemani mereka berkaraoke. Hal yang sudah biasa ketika tanganku disentuh, itu tidak akan membuat keperawananku hilang! Aku tidak menjual diri! Tapi dari sana aku dapatkan lembaran-lembaran merah yang selama ini sulit aku dapatkan. Dari sana aku bisa membeli apapun yang aku mau.

Aku tekankan sekali lagi, aku bukan wanita yang menjual diri! Aku hanya menemani pria-pria hidung belang yang mungkin malu jika menggandeng istri-istri mereka sekedar berjalan, maka mereka mencariku yang cantik, segar dan menawan! But I’m not a whore.

Aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini, walau kadang rindu menyerang. Rindu akan aku yang dulu, rindu akan pakaian tertutup, rindu anggunnya diriku, rindu kesederhanaan. Rindu semua yang sebelumnya pernah aku jalani ketika menjadi Sean yang selalu dibanggakan.

Sudah aku katakan aku kalah! Aku kalah… aku tidak sebaik yang mereka katakan.

^^^^^

Bukan kak Tryana tidak mencariku, namun aku sengaja mengganti nomer ponselku agar tak seorangpun yang bisa menghubungiku.

Satu minggu, hanya satu minggu aku tak pulang. Aku rasa aku harus pulang, bukan pulang untuk tinggal, tapi pulang untuk pamit.

Aku kembali, kembali pada kak Tryana. Mencari-cari alasan dimana aku selama satu minggu.

“Syukurlah kalau begitu. Lagian kamu kok camping enggak bilang-bilang sama kakak … Tapi kakak percaya kamu anak yang baik dan bisa menjaga diri dengan baik” Respon kak Tryana ketika aku bilang jika selama satu minggu ini ada camping mendadak dan tidak sempat pamit. Dan selama camping pula ponselku mati karena tidak ada sinyal.

Kakak salah! Aku tidak sebaik yang kakak pikir.

Satu hari aku di rumah. Seperti biasa, rindu membantu kak Tryana. Mengepel, cuci piring, menjemur pakaian dan membereskan semua pekerjaan rumah. Dan … aku lakukan itu dengan sangat gesit. Kini semua telah kinclong berkat tangan Sean.

Setelah selesai, aku kembali ke kamar. Semua masih sama, hanya sedikit berdebu karena mungkin tidak dibersihkan selama satu minggu.

“Kak Try, makasih selama ini telah menerimaku. Makasih karena kakak telah menjadi kakak yang terbaik untukku. Terima kasih untuk segala kasih dan sayangnya selama ini. Terima kasih untuk semuanya. Sean sayang kak Try.

Oh, yah kak. Kalau Sean tak pulang jangan cari Sean yah. Sean akan baik-baik saja. Sean akan cari kerja agar tidak merepotkan kakak terus. Dan sekolah … kakak tak usah khawatir, Sean akan tetap sekolah.

I Love You kak

^^^^^

Aku pergi …

Sudah 5 bulan aku tak pernah kembali, aku tahu kak Tryana pasti khwatir dan merindukanku. Namun aku tetap tidak bisa kembali. Aku juga tahu jika kak Tryana katakan ini pada Ayah, ayah juga akan khawatir, tapi ayah tak bisa langsung mencariku karena dia harus menyebrang lautan untuk sampai disini. Terima kasih untuk semuanya.

^^^^^

LIMA BULAN, dan aku sedang berusaha menggugurkan kandunganku yang berusia tiga bulan.

Sudah aku katakan aku kalah!

Tolol, bodoh, gila, pendosa, munafik, so’suci …

Aku kehilangan apa yang kujaga. Aku kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Jika dulu aku kehilangan nenek, ibu dan kakak. Tapi kini, aku kehilangan diriku sendiri.

Aku tidak menjual diri. Aku tidak menjual keperawananku. Namun indahnya tubuh yang aku pertontonkan telah membuat aku terjerembab dalam jerat si pendosa yang membuatku tak sadarkan diri.

Semua memang telah berubah, hal yang semula kuanggap enteng, kecil tak berarti justru perlahan menarikku lebih dalam dan membuatku sulit untuk keluar.

Aku akan tetap menggugurkan kandunganku. Aku tidak bisa biarkan dia semakin besar dan membuat perutku buncit, apa yang akan aku katakan jika kak Tryana tahu ini.

Sahabatku? Iya dia memang selalu ada untukku, bahkan diapun masih tetap ada dan menemaniku untuk menggugurkan kanduangan ini. Dia pula yang memberitahu ini itu yang bisa aku lakukan untuk bisa membunuh janin yang kini di rahimku.

^^^^^

Satu bulan usahaku gagal. Janin ini begitu kuat. Dia masih tumbuh di rahimku. Kandunganku kini 4 bulan. Aku harus segera memusnahkannya.

Aku menyesal. Sangat menyesal. Berawal dari hal kecil yang kuanggap tidak akan membuat hidupku hancur jika hanya sekedar berpenampilan terbuka tanpa membuka. Tapi kini aku sadar, sesuatu yang besar selalu di awali dengan hal kecil, begitupun dengan kehancuran.

^^^^^

Kak Tryana? Ayah? Mereka mencariku?

Mereka mencariku.

Menemukanku dalam keadaan yang sangat malu untuk dijelaskan. Pakaianku tidak lagi sama seperti yang selalu terlihat sebelum aku mengenal dunia yang lebih gelap, malu sekali rasanya ditemukan dalam keadaan yang kotor.

Aku tidak tahu ini ketidak sengajaan atau memang mereka mencariku di mall ini. Ustadzah Maryam guru ngajiku yang selalu membanggakanku sebagai murid kesayangngannya, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat kini. Aku tak tahu apa kata yang akan keluar dari mulutku, aku hanya menangis, menangis di depan Ustadzah. Seolah mengerti apa yang ada dipikiranku, tanpa bersuara Ustadzah Maryam lantas memelukku, memelukku erat dan menangis tersedu tak kalah denganku.

Ustadzah Maryam membawaku pulang. Aku tidak sanggup menolak. Tubuhku terasa lemas sekali, mungkin efek dari jamu-jamu penggugur kandungan yang selama ini aku konsumsi. Sulit rasanya untuk berontak. Langkahku gontai.

^^^^^

Mereka? Ayah? kak Tryana? Suami kak Tryana? Kini ada di hadapanku. Mereka kecewa, bahkan sesekali sapu lidi itu mendarat di tubuhku, yang kurasa dalam setengah sadar pukulan itu berasal dari tangan lembut kak Tryana juga dampratan keras dari suami kak Tryana yang masih kental dalam ingatanku jika dia juga telah mencoba melakukan hal tak wajar dan memalukan pada iparnya ini.

“Bisa-bisanya kau lakukan ini. Kau telah membuat aib, Sean” ucap kak Tryana padaku dengan tangis yang sesegukan menahan kecewa.

Ayah menangis, kemudian ayah memelukku.

“Sudah Tryana hentikan!” bentak Ayah pada kak Tryana.

“Maafkan ayah Sean, selama ini ayah jauh darimu dan tak bisa menjagamu”

Aku menangis di pelukan ayah tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutku.

^^^^^

Seorang sahabat datang padaku juga pada keluargaku. Bukan… bukan sahabat yang selalu ada bahkan di saat aku ingin membunuh janin ini. Bukan dia, karena keluargaku telah melarangnya menemuiku lagi. Ustadzah Maryam dan keluarga tak mengizinkan aku bertemu dengan sahabatku itu. Akupun enggan menemuinya. Yang datang adalah sahabat, sahabat yang memberi terang dalam gelapku. Sahabat yang menawarkan masa depannya untukku.

Rezaldi, sahabat sekaligus kakak kelas yang selisih 2 tahun denganku semasa SMA datang padaku memberikan harapan dalam hidupku. Memberikan masa depannya untukku.

Aku tidak pernah tahu jika cinta kak Rezaldi padaku begitu tulus dan besar. Aku tidak habis pikir dia akan melakukan ini untukku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan, ketika seseorang yang pernah aku tolak cintanya dan memilih untuk bersahabat saja dan telah aku anggap sebagai kakak sendiri, hingga kini masih menyimpan cinta itu. Dia masih peduli padaku… atau, mungkin dia kasihan dengan keadaanku sekarang. Apapun alasannya aku tidak mengerti. Mungkin aku harus percaya akan alasan yang kak Rezaldi berikan, karena “cinta dan sayang”.

Aku menolak namun dia memaksa dan meyakinkan hingga aku tak mampu lagi bersuara. Dia meminangku. Bertanggung jawab atas dosa yang tidak ia lakukan.

^^^^^

Aku hanya manusia biasa, bukan malaikat yang bisa terhindar dari dosa. Aku manusia biasa yang bisa khilap. Aku manusia biasa yang bisa kapanpun menyerah. Namun aku tahu, selalu ada hikmah dalam setiap cobaan yang Allah SWT., berikan pada setiap hambanya.

Aku Sean, usiaku 21 tahun dan telah memiliki pangeran kecil berusia 3 tahun. Menikmati peranku sebagai istri dari lelaki berhati malaikat, dari Imam yang telah menuntunku kembali pada jalan-NYA, dari pendamping hidup yang selalu berkata aku cantik dengan hijab yang kembali mengindahkan perhiasan dunianya.

Aku Sean, usiaku 21 tahun seorang istri dari lelaki yang menyelamatkan hidupku, seorang Ibu yang sangat pernah berdosa karena sempat berusaha membunuh putranya sendiri ketika masih dalam kandungan.

Aku Sean, sedang menantikan anugrah Tuhan. Menantikan kelahiran anak kedua yang sangat aku tunggu dan aku jaga dengan baik dalam rahimku.

-SELESAI-

————————–

NOTE : Apa yang terpikir ketika mendengar tokoh “AKU” dalam kisah diatas? Satu hal yang ingin di sampaikan oleh penulis. Semua orang pasti punya masa-masa silam dalam kehidupannya. Memiliki masa lalu yang telah terlewati dimakan waktu. Baik buruknya masa lalu biarlah itu menjadi sebuah pelajaran untuk menjadi lebih baik pada hari mendatang.

Kita hanya bisa menilai tanpa bisa merasakan. Namun, kita harus tahu, tidak pantas rasanya menilai seseorang hanya karena apa yang kita lihat secara kasat mata. Kita tidak tahu bagaimana seseorang menjalani, melewati dan berusaha lepas dari masa lalunya. So, jangan pernah menilai dan menghakimi seseorang hanya berdasarkan pada masa lalunya.

Saya harap kita semua bisa mengambil hikmah/pelajaran dari kisah di atas, ya.
Semoga kita semua terhindar dari orang-orang yang lupa bercermin dan semoga kita pun tidak lupa untuk selalu bercermin sebelum menilai orang lain.