Masih tergambar jelas ketika kita bersama menghabiskan waktu senja bersama bola. Dinaungi berjuta candaan yang biasanya tak pernah berasa. Dialiri keringat kelelahan, digurau sang angin, bahkan ombak yang saling berlarian.
Namun akhir akhir ini di tempat yang sama dan teman yang sama rasanya telah berbeda. Mungkin manis di lidah tapi beda ketika tertelan.

Lebih dari sekedar lama, aku dan kamu bersahabat, ya saat kau masih sendiri sampai sahabat setimku jadi seseorang yang kau cintai. Pasir pantai tempat berpijak dan menghentak. Bola yang hanya menyakitkan ketika hantamannya terkena tangan bukan hati. Voli yang hanya melepas kepenatan bukan melepas kerinduan Atau permainan ini hanya alasan untuk ku yang rindu bersahabat lagi dengan mu?

Andai saja kau tau betapa aku bergumam akan matahari yang terbenam. Bagaimana tidak? Itu semua mengajakku mengakhiri alasan untuk bermain walau ku tau, gelap menyamarkan pandangan, meski ia berjanji kembali terbit namun berbeda masa.

Bisa ku ambil contoh ketika ekspektasi dan realita saling menghina. Mulut ini bungkam dan menghalangi ku saat aku ingin bertanya, bagaimana akhir persahabatan ini? Jika rasa yang kurasakan ini mulai beda, jika kepedulianmu terasa menyenangkan dan jika aku bergantung karenanya. Apakah kau masih sama saat berbagai ungkapan kuutarakan?

Seketika aku merindukan sahabat yang menepuk dan merangkul ku diwaktu yang terlewati. Tapi aku paham aku tak lagi membutuhkan itu. Sekali lagi ego dan nurani ku saling duel difikiran, yang sudah mulai kehilangan kewarasannya.

Advertisement

Mungkin sudah ratusan kali kau menceritakan sesuatu yang mengagumkan tentang semesta.Selamanya kau adalah pembicara yang handal. Yang membuatku merasakan nikmatnya menjadi pendengar yang baik.

Ingatkah dulu kau pernah bercerita betapa menantangnya hidup melawan arus seperti salmon, ia rela melawan arus demi sampai ketujuannya, terlebih ia harus melewati berbagai batu karang, mendaki air terjun bahkan melompat untuk sampai. Setelah sampai tujuan apakah perjuangannya berakhir?.

Helaan nafasmu masih ku perhatikan dan kubayangkan .Kau terlalu keletihan saat itu bahkan kau tak tau jika aku bukan hanya mendengar dan menyimak. Penyampaianmu membuatku tak beralih menatap mata yang menggambarkan duniaku dengan jelas.

"Perjuangannya belum selesai, salmon harus menggali tempat untuknya bertelur,lalu ia harus menjaga nya beberapa waktu sampai keletihan yang ia harus akhiri. Memang salmon hidup berkoloni tapi setelah perjalanan yang panjang serta banyaknya predator yang ia hadapi, entah ikhlas atau tidak si salmon harus rela ketika koloninya tak lagi utuh
Ia mungkin tak punya peta tapi salmon tau kemana ia harus pulang"
Itu adalah cerita terakhirmu sebelum aku merancang jawaban.

Hidup itu pilihan bukan? Terserah saja kau mau melawan arus atau mengikutinya. Terserah kau takut gagal atau mencoba berhasil. Terserah kau pilih bungkam dengan kebenaran atau memilih berteriak dan mendapat banyak teriakan darinya

Lain cerita jika aku seorang pemain dalam tim voli. Aku punya tim, setiap pemainnya punya bagian dan tugasnya masing masing. Aku tak mungkin menjadi tosser jika aku seorang libero. Aku tak mungkin menjadi tosser jika bagian tosser telah diisi kawanku. Aku tak bisa memaksakan egoku hanya untuk keinginanku, bukan karena aku tak percaya diri untuk menjadi toser namun karena aku sadar bahwa aku tak mungkin bermain sendiri

Sekarang waktunya aku menetapkan, menjadi salmon sang pelawan arus atau tetap menjadi libero dan bertahan untuk tetap solid.

Aku memang libero tapi kuputuskan untuk menjadi salmon sekarang. Yaaa ini aku pejuang melawan arus yang kau harapkan bukan? Aku yang tak mungkin lupa akan memori tentang perjuangan yang melelahkan. Inilah akhir sajak, serta jejak langkah kaki yang mulai terkikis ombak.

Kini biarlah aku yang memaknai semuanya. Terlebih soal melawan arus dengan harapan dapat kebahagian yang mutlak. Semua punya porsi yang berbeda. Andai dan andai aku tetap menjadi libero, aku mungkin tak tau rasanya bahwa mengagumi dari jauh tetap lebih baik setelah kau berjuang daripada memaksa suatu perasaan bungkam dan terasa sesak.

Bahkan aku harus rela kehilangan kebersamaan yang pernah ku rasakan dengan kawan sekoloni ku dulu, jika kau anggap ini suatu keegoisan? Ya itu terserah mu yang ku tau sinar matahari lebih menyengat dari sindiranmu.
Sekarang telaah lah kalimat yang datar tanpa arti ini, aku tak mungkin memberikan hatimu pada sahabatku yang hatinya telah bercabang.

Hidup ini lucu bukan? Ketika kau mencoba bijak. Diam namun menyakitkan perasaan mu. Atau mengatakan kebenaran yang membuat sahabatmu sendiri tersakiti? Kau tau seberapa keras hantaman ketika aku memilih melawan arus, aku yang berkorban banyak, aku yang rela dihujat berbagai sinisan oleh kawan setimku? Aku yang jujur namun menyakitkan. Kembali lagi ketika hidup itu pilihan yang berakhir pada konsekuensi.

Jika terselip tanya dihatimu "bagaimana akhir kisah yang telah kuperjuangkan".
Maka akan kujawab bahwa sebenarnya hasil tak akan pernah mengkhianati prosesnya.