Perempuan itu berkejaran dengan mentari pagi. Embun-embun masih berkerumunan memeluk dingin di wajah hari yang buta. Perempuan itu akhirnya mampu mengalahkan mentari. Sebelum fajar mengintip dari balik bebukit yang berjajar rapi, ia telah berada di sebuah warung mungil. Tempat ia berjualan minuman kopi dan soto ayam kampung. Perempuan itu sudah berada di kantin Afi, di Bukit Panguk. Tangan-tangannya terampil menyiapkan segala kebutuhan untuk jualan. Menata rentengan kopi untuk di gantung, memanaskan air, juga membereskan tempat duduk untuk pelanggan.

Warung mungil itu berada diantara barisan rapi pohon jati. Pohon jati ini milik dinas kehutanan, namun pihaak dinas sudah mengizinkan untuk dibangun tempat wisata. Namanya bukit Panguk. Warung itu atapnya terbuat dari jerami kering, yang diikat dan dirapikan. Pagar sampingnya terbuat dari dinding bambu tipis yang dianyam. Menunya juga sederhana, apa yang bisa dijual dan laku, ya itu yang diupayakan. Adanya wisata baru ini membuat beberapa kepala keluarga mendapat pekerjaan baru, biasanya pekerjaannya hanya petani, dan tidak setiap hari mendapat upah. Namun dengan adanya wisata ini, setiap hari mereka bisa mencari beberapa ribu uang.

Pukul 05.26 pagi para pengunjung Bukit Panguk ini sudah berdatangan. Mereka mencari sensasi di atas awan dan juga mentari pagi yang sinarnya sama indah dengan senja. Gerombolan lelaki yang sedang digulung dingin menghampiri warug mungil ini. memesan empat gelas kopi susu dan dua gelas kopi hitam. Perempuan yang tadi sibuk segera membuatkan pesanan pelanggan pertama pagi ini. dengan senyum pagi ia membuat kopi. Perempuan ini ingin membuat kopi pagi dengan resep bahagia dan bersemangat, berharap selain dirinya ikut bahagia, pun pelanggan merasakan perasaan yang berbeda di warung ini.

“Mari, Mas. Ini kopinya ya.” Perempuan itu tersenyum lebar, seakan benar bahagia adanya. “Empat kopi susu dan dua kopi hitam,” ia mengulanginya agar pesanan tidak salah. Dan gerombolan lelaki itu membalas senyum ramahnya. Pelanggan tersenyum menandakan pelayanan yang bagus dari warung mungil ini.

Segerombolan anak-anak muda datang lagi, memesan teh dan minuman hangat lainnya. Segera saja tangan mungil perempuan ini meraciknya. Sibuk sekali jika pagi begini. Berkah tersendiri. Di luar warung sana, mentari pagi mulai menyembul perlahan. Menandakan waktu terus berganti. Tidak terasa sudah pukul tujuh pagi, dan masih saja banyak wisatawan yang datang. Hampir dari kebanyakan mereka selalu memiliki alat potret yang bagus, dan pasti untuk mengambil sudut-sudut pagi yang cantik bersemangat. Pepohonan jati perlahan mulai menampakkan jelasnya. Dedaunan coklat mulai berguguran membuat tempat wisata ini terlihat coklat kekuningan. Banyak sekali jati yang menggugurkan daunnya, apalagi jika sudah siang, angin akan datang bergerombol tanpa henti, dan daun jati akan semakin banyak berserakan. Tapi tenang, di sini ada petugas yang khusus untuk menyapu.

Advertisement

Hingga pukul sebelas siang, perempuan itu baru bisa duduk tenang setelah sejak tadi sibuk ke sana sini meracik hidangan terbaik untuk pelanggan. Tiada yang terlihat dari sorot mata perempuan ini kelelahan. Bahkan, ada beberapa tamu yang dengan gamblangnya mengatakan perempuan ini bahagia sekali di pagi hari. sungguh semangat terlihat. Dalam hati perempuan itu hanya bisa mengaminkan, sebab jauh di rerongga hati ada luka dalam yang sedang ia emban. Luka yang berat dan ngilu jika dirasakan, tapi untuk apa memperlihatkan sebuah kesedihan di depan manusia yang tak di kenal. Bukankah lebih elok jika manusia-manusia melihat perempuan itu dalam senyum dan bahagia.

Aku paham betul apa yang dirasakan perempuan itu. Mulai dari kisahnya, hingga apa yang sedang menimpanya hari ini. sesungguhnya hari ini adalah hari hujan airmata, namun perempuan itu mampu menahan jutaan airmata yang siap membanjir. Ia begitu kuat dan tegar. Perempuan itu adalah aku. Aku tidak suka dengan hal yang menyedihkan di depan mata-mata yang asing. Jika aku masih bisa untuk tertawa dan melepaskan lukaku dengan tawa, aku akan tertawa, dan menangis hingga aku rasa seulurh tubuhku ikut sakit di dalam gelap dan sepi. Ya, hanya gelap dan sepi yang tahu siapa diriku yang lemah.

Aku sedang duduk santai di depan warung, melihat beberapa wisata lewat, dan kebetulan warung sedang sepi pelanggan. Aku melihat seseorang yang mirip denganmu, El. Lelaki itu aku kira dirmu, tapi ternyata bukan. Hanya punggung dan tubuhnya saja mirip, tidak dengan wajahnya. Hatiku ngilu sekali. mengapa bisa tiba-tiba aku membayangkan dirimu? Barangkali benar apa yang dikatakan Katbiss Everdeen bahwa kita tidak bisa melupakan wajah seseorang yang kita harapkan terakhir kali. Dan terakhir aku berharap adalah padamu. Sebuah harapan yang salah besar. Sebuah harapan yang berakibat luka-luka pada kekuatan hatiku. Baru semalam kamu memberiku kabar lagi, bahwa kamu sudah akan bertunangan dengan perempuan lain.

Ya, di depan teve acara komedi itu aku membaca pesanmu, mengatakan bahwa kamu sudah akan bertunangan dengan seseorang yang aku tidak kenal. Untung saja semalam ada acara komedi di teve, sehingga aku bisa setengah tertawa dan setengah menangis. Aku tertawa untuk kehidupanku yang lucu, kehidupanku yang terlalu baik dengan lelaki hingga mudah sekali aku dipermainkannya. Dan aku bersedih untuk sebuah kehidupan yang terus berbanjir luka.

“Hei, ngelamun saja, Mbak.” Adikku datang menghapus cerita semalam. Dia anak bibiku. Warung yang aku jaga ini bukanlah warungku, namun warung bibikku. Hari ini aku hanya membantu menjaganya, sebab bibikku pergi ada hajatan hingga sore hari. Aku hanya tertawa saja melihatnya membangunkanku dari lamunan. “Bagaimana semalam? Ada balasan apa dari dia?” adikku tahu cerita semalam, aku meminjam ponselnya untuk menghubungi El. Bukan, bukan karena aku tida ingin menggunakan ponselku, namun sudah dua bulan ini El memblokir segala aksesku untuk menghubunginya. Entah alasan apa, ia tak pernah menjelaskan padaku. Semua tiba-tiba saja, pun tanpa kata permisi atau pamit putus dengan baik-baik.

“Semalam dia membalas kalau dia sudah punya perempuan yang akan ditunang.” Aku tersenyum getir.

“Kok dia bisa secepat itu sih memilih perempuan lain untuk dilamar? Bukannya dari bulan lalu dia masih bersamamu, Mbak.” Polos si adikku.

“Entah. Hanya ada dua alasan ia bisa begitu. Alsan pertama ya dia memang menjadikanku pelampiasan saja, dan aku ditinggalkan karena aku sudah tidak dibutuhkan lagi, atau ke dua itu hanya alasan saja agar aku tidak menghubunginya lagi. Dengan dia mengatakan sudah memiliki perempuan untuk dilamar, dia berharap aku berhenti mencarinya.”

Hening. Hanya terdengar suara sapu warung sebelah membersihkan sampah plastik. Angin lembut menyapaku. Hatiku mengembang, mengambil udara banyak-banyak. Menguatkan hati agar mataku tidak banjir airmata. “Sudahlah. Kita nyuci gelas dan piring aja yuk.” Aku mengajaknya. Aku tidak ingin berlarut-larut membahas soal dia yang sudah bahagia dengan kehidupannya kini. Terlebih, aku harus segera bangkit dari duduk agar mataku tidak meneteskan butiran hangat. Lalu aku tertawa lebar. Adikku kaget melihat perubahan wajahku. Bagiku, aku patut untuk tertawa, hanya untuk mengusir sejenak perihnya batin. Lebih tepatnya aku tertawa untuk menjerit, taapi dengan cara berbeda, dengan cara tertawa, jerit sedihku terlihat bahagia di mata orang lain.

Pukul lima sore aku memutuskan untuk pulang ke rumah tanteku. Rumah tanteku tidak jauh dari rumah bibik. Biarlah aku tinggalkan warung, di sana sudah ada bibi dan juga pembantunya. Acara hajatan mereka usai, sehingga aku bisa rehar dari pekerjaanku hari ini. Di rumah tante, aku langsung menidurkan kepalaku di paha tante. Ia sedang asik ngemil, dan tiba-tiba saja aku seperti anaknya. Tiduran lemas. Efek lelah berjualan sejak pagi, juga lelah hati sebab terkuran dengan kepura-puraan. Pura-pura bahagia di depan pelanggan. Pura-pura yang sangat melelahkan.

“Kenapa? Lemas sekali kamu, Nduk.” Tante mengelus jilbabku. aku hanya menggeleng dan memejamkan mata.

“Aku pengen pulang, Tan.” Dengan lirih aku mengeluh dalam lelah.

“Pulang ke mana? Rumah mana yang akan kamu tuju? Di sini juga kan sudah rumahmu, anggaplah begitu.”

Dan aku diam. Entah rumah mana yang akan tuju. Rumah bibiku, rumah tanteku, kosku, rumah sahabat karibku, atau rumahku sendiri? Semua adalah rumahku. Rumah yang memiliki kadar nyaman dan tenangnya masing-masing. Tapi jauh di dalam jiwa, bukan pulang ke rumah itu. Melainkan sebuah rumah adalah pelukan di senja ini entah pelukan siapa, bisa jadi pelukan tanteku. Tapi cukup dengan elusan tangannya aku bisa sedikit tenang. Aku sebenarnya ingin memulangkan lelahku, bukan tubuhku. Tubuhku masih saja kuat untuk beraktifitas hingga malam. Tapi lelah hatiku, entah ke mana akan aku pulangkan. Akhirnya, jauh di dalam hati, hanya nama Tuhan yang aku panggil. Dan menetes kecil airmataku. Barangkali di nama itulah aku memulangkan lelah.

“Tante, aku mau tidur.” Segera aku tuju ruangan mana saja yang memiliki bantal. Dan banjirlah airmataku. Tidak, aku tidak boleh lama-lama dalam tangis. Aku ingin tidur. Dan tertidurlah aku entah dengan cara apa. Aku bangun saat Tante membangunkanku. Waktu sudah berlari jauh di kegelapan. Syukurlah, aku bisa sejenak tertidur dan memulangkan lelahku walau hanya dalam sebuah kata tidur.

Hari ini aku sudah berada di kota. Kota yang selalu dilihat mewah oleh sebagian orang, namun itu semua hanya gedung-gedungnya. Banyak manusia-manusia penghuni kota yang biasa saja. Di pusat kota ini, aku kembali memulangkan sepiku pada sekotak ruang:kos. Di kos ini aku akan kembali melanjutkan kehidupanku. Kehidupan yang lebih layak disebut hidup, bukan hidup seperti kemarin-kemarin. Aku memang hidup di pusat kota, dekat sekali dengan kosmu, mungkin hanya perjalanan lima menit saja, namun untuk apa aku menemuimu, jika hatimu, dan bahkan sebentar lagi jemarimu sudah terpatri dengan sebuah cincin darinya? Aku bisa apa selain mengikhlaskan semua.

Kebanyakan orang melihatku selalu loyo dan menatapku dengan wajah penasaran, mataku selalu menyiratkan kesedihan, begitu kata kebanyakan orang. Namun biarlah, apa yang dlihat mata manusia ya biar saja. Loyoku bukan sebab aku tak bersemangat, memang pembawaanku yang pelan dan tenang begini, aku tidak ingin saja memperlihatkan semangat berlebihan, untuk apa? mataku memang menyiratkan kesedihan, sebab di balik mata-mata kesedihan tersimpan banyak kekuatan yang siap melanjutkan kehidupan.

Bagiku luka bukan alasan untuk terjatuh lama-lama, bahkan sekalipun jatuh dalam lembah luka, tidak ada alasan untuk berhenti dari melakukan kegiatan dan meratapi kesedihan. Tidak. Aku tidak suka dengan yang demikian. Biarkan saja hati terluka, namun kaki harus terus bergerak, pandangan hidup harus terus menatap masadepan. Biarkan saja lengkah sedikit berat sebab membawa luka hati, namun setidaknya tidak diam di tempat dengan luka. Bahkan, dari banyaknya luka yang menghampiri, aku bisa sampai jauh ke tepian kota ini. Sebab luka selalu menggiringku untuk terus bergerak. Jika aku diam di tempat, aku akan mati sekarat menikmati luka. Hanya dengan lari da pergi, luka itu akan kering dengan sendirinya.

Sungguh, aku tidak paham mengapa aku mendapatkan kos yang dekat denganmu. Semua serba tidak terduga. Haya di kos inilah yangberharga miring, dan aku ambil saja. Bukan alasan dekat denganmu, melainkan harga yang bersahabat. Setiap aku berangkat kerja, dan aku melewati jalan menuju kosmu, aku selalu ingat kita pernah tertawa bersama melewati gang kecil itu. Setidaknya kita pernah berbagi mimpi untuk masa depan bersama, walau kamu tidak pernah sekali pun mengakuinya. Tidak mengapa jika kamu tidak mengakui, karena memang tidak ada jejak yang bisa membuat kata-katamu saat itu menjadi terlihat mata, namun di telingaku suaramu masih jelas terekam, diingatanku masih lekat bagaimana kamu berbicara tentang rasa itu, dan aku pun masih mendengar degub jantungmu saat kamu mengucap kalimat rasa itu. “Sayang,” katamu, lalu degub jantungmu terdengar kencang sekali. Aku pun demikian. Kita sama-sama terdiam dalam jeda yang lama, lalu aku mengatakan yang sama. dan tawa kita meledak saat itu.

Setiap bayangan itu muncul, aku segera mungkin membunuh kenangan yang menambah gores luka di hatiku. Biarlah aku kembali menata hati. Biarkan saja rasaku retak entah seperti apa, toh sebelum kamu datang hatiku memang sudah retak terinjak kehidupan yang keras. Tak perlu aku membuang yang retak, akan aku perkuat lagi dan lagi, hingga tak bisa lagi hatiku retak akibat sudah berkali-kali aku tambal sulam, setidaknya ia masih berbentuk hati dan memiliki perasaan. Tak peduli bagaimana rupa hatiku kini, yang terpenting fungsi hatiku masih layaknya manusia lain.