Kamu yang dulu bahkan sampai sekarang pun masih tetap singgah di hatiku. Tidak menyangka ya, kita telah lama tak bersua. Dulu, tiap hari tak pernah sekali pun kita lupa memberi kabar, sesibuk apapun aku dan kamu. Namun dulu tetaplah dulu. Kini kita bagaikan orang asing yang tak saling mengenal, walau kita pernah sedemikian dekat. Tak pernah lagi sekarang kita saling menyapa seperti dulu. Mungkin kau sudah lupa, tak pernah menganggapku benar-benar bermakna.

Tak demikian denganku. Aku yang tak pernah lupa sedetik pun tentangmu, tentang kita, yang dulu pernah menjalani suatu masa bersama. Toh sekeras pun aku mencoba, tetap saja kau masih menempati posisi yang sama. Kau, satu nama yang tak pernah dapat kuhilangkan jejaknya.

Setiap kali memandang gerimis yang datang, saat itu juga kenangan akan dirimu hadir di benak mata. Kala itu, kita berdua pernah melewati gerimis di suatu sore, menghabiskan waktu sehari bersamamu menikmati indahnya pantai di salah satu sudut kota ini. Aku ingat bagaimana keras kepalamu, tak mau berteduh ataupun sekadar mengenakan jas hutan. Kau lebih memilih bermain-main dengan gerimis yang datang. Katamu, gerimis itu romantis. Indah sekali bila kumengenang masa itu.

Waktu terus berlalu, membawa kita pada hal-hal baru. Namun aku percaya, berdua kita mampu melewati segala rintangan yang membentang. Jarak mungkin telah memisahkan aku dan kamu di sana. Namun cinta akan terus berpendar di dalamnya, tak peduli seberapa jauh ia memisahkan kita, jaraklah yang menjadi sahabat setia. Dari jarak aku belajar arti kesabaran, kedewasaan, dan kemandirian sebagai seorang wanita. Meski tak dapat kupungkiri ketika berjumpa denganmu aku ingin bisa kau manja.

Kita mungkin tak bisa seperti pasangan lainnya, yang bisa sewaktu-waktu ada ketika saling membutuhkan. Kesibukanmu di sana, kesibukanmu di sini, menjadikan kita tak selalu bisa saling bertatap muka. Kau jauh di sana, aku tetap di sini. Jarak dua kota dalam dua pulau tak akan terpungkiri bila sewaktu-waktu bisa menggoyahkan keyakinan kita. Namun ada satu kekuatan penuh yang selalu aku percaya tak akan bisa meruntuhkan cinta kita, yaitu kekuatan doa.

Advertisement

Meski kita tak lagi bersama, namun kasih untukmu tetap kujaga. Dalam setiap sujudku, tak pernah sekalipun aku lupa mendoakanmu. Biarlah Tuhan yang kan kelaka memainkan perannya. Aku percaya, kekuatan cinta dan doa dapat merubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.