Apakah kau percaya dengan jodoh pasti bertemu?

Apakah kau percaya dengan adanya takdir, segala yang tak kenal dan segala yang jauh kan selalu didekatkan oleh-Nya?

Apakah kau percaya bahwa jodoh tak pernah salah alamat?

Jawabannya, Ya. Aku percaya.

Meski segala ragu mengenai cinta tengah berkali-kali merajai pikiranku.

Advertisement

Namun aku selalu percaya bahwa jodoh tak pernah tertukar, dan takdir Tuhan tak pernah salah.

Setiap orang yang hadir, terkadang beberapa diantaranya hanya sekadar mengucapkan hello dan kemudian pada akhirnya pergi mengucapkan goodbye, beberapa diantaranya mungkin ada yang hanya sekadar lewat tanpa permisi, namun percayalah pada akhirnya akan ada seseorang yang datang dan tinggal menetap di kediaman hatimu.

Mungkin hatimu telah dipatahkan berkali-kali oleh cinta, mungkin kepercayaanmu telah dihancurkan berkali-kali oleh kebohongan dan pengkhianatan, mungkin segala perjalanan mengenai kisah cintamu hanya mengundang luka ketika mengingatnya.

Memang benar.

Karna cinta dan luka itu sepaket.

Siap mencintai, harus siap patah hati. Siap memiliki, harus siap kehilangan.

Satu yang ku yakini, dan teori yang memang aku percayai. Adalah teori ini :

Genggam terlalu erat, kau kan dilepaskan. Tak digenggam, kau kan kehilangan.

Teori ini bisa diibaratkan, ibarat kau menggenggam pasir.

Terlalu erat kau genggam pasir itu, dia akan tumpah dan jatuh kebawah.

Pun sama jika kau tak menggenggamnya.

Solusinya, peganglah, taruhlah diatas kedua tanganmu yang terbuka. Perlahan, namun pasir itu pun tidak akan tumpah.

Pun sama dengan perihal mencintai.

Kau boleh menggenggamnya, namun jangan terlalu erat karna kau genggamanmu kelak akan dilepaskan olehnya, kau kan ditinggalkan.

Namun bukan berarti kau tak menggenggamnya, karna jika tak kau genggam, kau sendiri yang kan kehilangan.

Mencintai itu tak salah, karena cinta itu tak pernah salah.

Yang salah adalah ketika kita memaksakan sesuatu tuk tetap tinggal.

Sedangkan menjaga itu perlu ketika kamu telah memilikinya.

Jangan dilepaskan, namun jangan dipaksakan.

Sebab cinta bukanlah paksaan, dia hadir dengan sendirinya tanpa permisi.

Terkadang dia tumbuh dengan sendirinya karena terbiasa.

Walau keadaan tak melulu berpihak pada hati, dan logika tak sependapat dengan perasaan.

Mencintai bukan berarti harus berambisi memiliki, karna cinta bukanlah ambisi tuk sekadar mendapatkan.

Percayalah kepada Sang Pemilik Hati diatas, karna takdir dan jodoh dari-Nya tak pernah salah alamat, tak pernah tertukar, dan selalu disediakan-Nya yang baik untukmu dan bukanlah yang terburuk.

Terkadang takdir tak sependapat dengan cinta yang saat ini telah singgah.

Takdir lebih berkuasa dari cinta yang telah tumbuh dan dirawat dengan sedemikian rupa.

Jika yang dicintai bukanlah takdir-Mu, percayalah jika memang waktu dalam buku takdir-Nya sudah tepat, maka akan dipertemukan olehmu, dan digantikan-Nya yang lebih baik dari seseorang yang sebelumnya telah diam didalam hatimu.

Namun jika takdir berpendapat sama dengan cinta, percayalah meski jarak yang memisahkan terbentang luas, Sang Pemilik Hati kan menyatukan dan tak akan memisahkan meski hanya sesenti.